A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
2.8


__ADS_3

Sekolah berakhir lebih cepat dari biasanya. Emily menghela napas diam-diam, lega karena dapat berpisah dengan bau-bauan menyengat dari tubuh para vampir yang kadang membuatnya merasa ingin muntah jika tidak sengaja bersentuhan dengan vampir yang berjalan melewatinya.


Tidak butuh waktu lama untuknya membereskan kertas-kertas dan berpamitan pada Alex yang hari ini sekelas dengannya. Kedua kakinya segera beranjak dari ruangan tersebut dan mengarah pada kelas lain. Kelas Amanda. Dia harus mencari tahu tentang suatu hal yang hanya diketahui oleh vampir cewek itu.


"Entah, mungkin dia sudah keluar," jawab seorang cewek vampir dengan nada tak acuh dan segera meninggalkan dirinya.


Emily segera beralih dari kelas itu dan berjalan sembarang menyusuri lorong kelas. Tangannya bergerak meraih ponselnya yang berada di tas dan segera mengecek sms serta ruang obrolan, hanya satu sms dari Mrs. Rowan yang berkata bahwa dia akan sampai dua puluh menit lagi. Masih lama, di mana cewek itu sekarang?


"Mencariku?"


Emily melonjak kaget, dia nyaris melompat mundur jika dia tidak bersandar pada tembok sekolah saat ini. Amanda tersenyum miring sekilas dan kemudian memasang wajah datar lagi. "Ada apa?"


"Kau mengagetkanku." Emily melotot.


"Ada apa?" Dia kembali bertanya tanpa memedulikan komentar dan tatapannya.


"Siapa yang melakukan itu pada Wayne?" tanya Emily akhirnya.


Cewek berwajah datar itu mengangkat alisnya, tampak heran. "Kau masih belum tahu?"


Emily menggeleng, dia hanya tahu sifat dominan dan jenis kelamin vampir posesif itu. Masalah umur, ciri-ciri dan nama sama sekali tidak terdapat pada pengetahuannya. Kalau dia tahu semua itu, untuk apa dia bertanya lagi?


Mereka mulai berjalan melewati lorong kelas yang mengarah pada tempat parkir. Mrs. Rowan berkata bahwa dia akan menjemput di depan tempat parkir yang mungkin saja sudah tampak lenggang dari lima belas menit yang lalu.


"Aku tidak bisa memberitahumu," jawab Amanda pada akhirnya.


Emily mendengus pelan mendengar jawaban itu. "Karena aku bukan vampir?"


"Ya." Dia kembali menjawab tanpa ragu. "Tapi selain itu aku ingin kau yang menyelesaikan masalahmu sendiri, aku hanya akan menonton dan memberi komentar jika ada yang salah pada apa yang kau lakukan nanti."


"Bijaksana sekali."

__ADS_1


Amanda hanya mengangkat bahunya tidak acuh, mengabaikan nada sarkastik terang-terangan dari gadis gumpalan bulu tersebut. Dengan sengaja dia segera menambah kecepatan berjalannya, meninggalkan Emily yang semakin lama tertinggal di belakangnya supaya tidak kembali menanyakan pertanyaan lain. Kepalanya sudah sangat pusing hanya dengan memberitahu secara tersirat sifat dan gender vampir posesif itu kemarin.


"Oh." Amanda bergumam terkejut secara tiba-tiba dan berhenti berjalan. Emily yang sebelumnya berada di belakangnya segera menyusul, menatap pada ekspresi tak terbaca pada wajah cewek vampir tersebut dan berniat menoleh untuk melihat apa yang terjadi.


Tangan vampir itu segera menyentakkan tubuhnya sebelum itu terjadi, menatapnya penuh peringatan. "Jangan lihat."


"Apa?"


Cewek vampir itu tidak menjawab lagi. Dia hanya meraih lengan Emily dan berniat untuk segera menariknya pergi dari sana, tidak mengharapkan keributan akan terjadi di sekolahnya walau para vampir lain sudah kembali ke rumah.


Tidak berhasil.


Emily segera menyentakkan tangannya dan menoleh untuk menatap pada pemandangan dua sosok yang saling berpelukan dan membelakanginya. Wayne dan Lauren.


Sepasang mata dari salah satu sosok itu menatapnya balik, terlihat menantang dan meremehkannya tanpa tedeng aling-aling. Dia hanya bisa terpaku ketika cewek itu bertindak cepat dengan mengecup leher cowok yang masih berada dalam rangkulannya tersebut dan kemudian mengangkat lengannya untuk meraih tengkuk cowok itu dan menciumnya dalam.


Milikku.


Akal sehatnya segera menghilang dengan cepat. Dia tidak dapat melihat, mendengar dan memikirkan apapun selain dua sosok yang masih berimpit dengan erat. Yang dia inginkan hanya mencabik dan menghabisi vampir itu yang dengan seenaknya menyentuh miliknya saat dia tidak bisa bergerak. Mate-nya.


Bukan milikmu.


Vampir itu tersenyum seakan mendengar ucapannya. Bibirnya melengkung membentuk seringai dan segera melepaskan diri. Membalik tubuh cowok yang sebelumnya membelakangi Emily menjadi sebuah tameng.


Cobalah kalau bisa. Jadikan dia menjadi milikmu lagi.


Dia menatap Emily untuk terakhir kali dan segera menghilang, meninggalkan tubuh cowok itu yang segera limbung akibat pukulan cepat yang nyaris tidak terlihat.


~°~


"Vampir itu mengendalikan Lauren, benar kan?"

__ADS_1


Amanda mengangguk.


Setelah insiden Wayne yang kehilangan kesadaran dan tidak bisa disadarkan dengan cepat, Mrs. Rowan segera membantu mereka mengangkat tubuh cowok itu dan kemudian memasukannya ke dalam mobil.


Emily tetap di dalam mobil saat akhirnya Amanda dan ibunya berjalan bersama menuju pintu depan rumah cowok itu (Amanda menggendong Wayne di punggungnya).


Mrs. Rowan tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpatik ke arah mereka berdua seakan sudah mengetahui kejadian apa yang sudah menimpa mereka tanpa pebjelasan sedikitpun.


"Yang dikatakan vampir itu benar, jika kau tidak segera 'memiliki'nya lagi, dia akan terkurung selamanya di situ. Bersamanya."


Emily hanya menutup matanya di tempat tidur dan kemudian membaringkan tubuhnya di sana. Emosinya masih belum stabil. Melihat kejadian itu di depan matanya sendiri membuatnya terguncang luar dalam–walaupun dia tidak ingin mengakuinya.


Bagaimanapun dia tidak ingin kelihatan lemah di depan siapapun.


"Kau sudah terlihat lemah hanya dengan seperti itu, gumpalan bulu."


Cewek itu membuka matanya dan melotot pada cewek vampir itu. "Kau pasti bisa membaca pikiranku."


Amanda menggeleng. "Membaca pikiran cuman mitos, yang ada hanya menebak gestur dan cara berbicara lawan." Dia mengangkat bahunya. "Yah, itu pendapatku."


Emily menghela napas keras dan kembali menutup matanya. Mereka ulang kejadian yang sebelumnya sudah dilihat dan berusaha meresapinya dengan kepala dingin, melewatkan yang tidak penting tapi menyimak bagian yang penting.


"Berarti Lauren dan Wayne bukan pasangan?"


Cewek vampir itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Tangannya terlihat menepuk lantai kayu yang sedang di dudukinya sambil–entah bagaimana–bersenandung pelan. Dengan sedikit bersyukur, Emily merasa tenang dengan bantuan tidak sengaja dari Amanda.


"Itu hanya pura-pura," jawab cewek itu. "Lauren lebih cocok menjadi kakak Wayne dibanding pacar. Dan memang begitu kenyataannya kan?"


Cewek itu mengangguk dalam diam, teringat bahwa rumah yang dikunjungi Mrs. Rowan untuk mengantar Wayne adalah rumah Lauren. Cowok itu diangkat sebagai anak oleh keluarga vampir itu beberapa tahun yang lalu, tanpa mengetahui asal-usul yang jelas, kata Mrs. Rowan.


"Tunggu sebentar." Emily segera bangkit dari posisi tidurnya dan menatap pada cewek vampir yang masih sibuk bersenandung itu. "Di mana orangtua Wayne, Am?"

__ADS_1


Cewek vampir itu menatapnya lekat dan kemudian mengangkat bahu. "Entahlah. Aku juga tidak tahu, gumpalan bulu."


__ADS_2