A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
2.6


__ADS_3

"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam," ujar seseorang dengan perlahan. "Ulangi ucapanku."


"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam." Kedua sosok dalam ruangan yang tampak nyaman itu mengulangi deretan angka tersebut bersama-sama.


Perempuan itu tersenyum lembut melihat tatapan sosok di depannya yang terlihat begitu kosong, kepalanya masih tersangga pada dua jari yang berasal dari masing-masing tangan perempuan itu, agak lembab akibat keringat.


"Tidurlah, sayang," ujar perempuan itu lagi.


Kepala yang berada di antara kedua tangannya langsung terkulai, membuatnya segera menahan bobotnya dan membaringkannya secara perlahan di sofa yang sebelumnya mereka duduki. Napas terlihat masuk dan keluar dari hidung sosok itu dengan lancar, dia berhasil melakukannya lagi.


"Kau berhasil?" tanya suara lain yang terdengar lebih ringan.


"Ya." Perempuan itu menjawab tanpa menoleh, tatapannya masih terpaku pada wajah sosok itu yang terbaring miring, mengusapkan jemarinya di sepanjang lekuk dahi hingga dagu sosok itu. "Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku."


"Bahkan untuk pasangan jiwa sejatinya?" tanyanya lagi mengangkat alis.


"Dia milikku," tukasnya cepat. "Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah kubiarkan diambil dariku."


Sosok lain itu terkekeh. "Jatuh cinta pada seorang fana, lucu sekali."


Perempuan itu untuk pertama kalinya mengalihkan pandangan, sedikit mengernyit pada tubuh jangkung yang berdiri dua meter di depannya dan bersandar di dinding kamarnya. "Pergilah kalau kau hanya menggangguku, Alex."


"Woah, jangan marah begitu." Dia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Kau tahu kan aku selalu menikmati tontonan yang menarik dan gratis di manapun? Santai sajalah."


"Tidak lucu."


"Oke, baiklah." Cowok itu berdeham sekali. "Aku akan pergi sekarang, kurasa suasana hatimu lebih mudah memburuk semenjak kedatangan cewek itu."


Perempuan itu tidak menanggapi apapun, dia hanya mengalihkan pandangan lagi dan kemudian memerhatikan wajah sosok itu yang masih terlihat damai. Menunjukkan tanda samar untuk segera keluar dari tempat itu.


Sebuah suara pintu yang menutup menyela keheningan tersebut. Perempuan itu mendesah dan kemudian membungkuk untuk mencium sudut bibir sosok itu dan kembali mengusapnya lembut. "Selamat tidur, Wayne."


~°~


"Kau sudah menyelesaikan presentasimu?" tanya Garry.


Emily mengangguk. Mereka bertiga, dengan Kat tentu saja, berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang. Cewek itu bersyukur karena dia bisa bersama mereka berdua lagi dibanding dengan Amanda yang terus saja mengingatkannya untuk mengalungkan botol cairan itu di lehernya.

__ADS_1


"Aku tinggal memakai referensi yang ada di buku dan mengubahnya sedikit."


Cowok itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Aku sedikit khawatir karena selalu memergokimu tertidur."


"Kau melihatnya?" Dia tampak terkejut.


"Ya, tidak sengaja sebenarnya," ujar cowok itu tampak salah tingkah. "Mr. Stuart memang sedikit membosankan hingga aku selalu membuatku melihat ke sekeliling."


"Kau memang selalu merasa bosan dengan pelajaran kan?"


Emily melongokkan kepalanya untuk melihat Kat yang berada di sisi lainnya dan nyengir. "Hai, Kat."


Kat memutar bola matanya tanpa menjawab dan kembali fokus pada buku tebal yang berada di tangannya. Emily sedikit heran dengan cewek mungil tersebut yang selalu membaca bukunya kemanapun dia pergi.


Garry menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan hanya bisa nyengir malu-malu mendengar pernyataan dari cewek itu.


Dalam beberapa menit mereka sudah berada di kantin. Banyak siswa dan siswi lain yang sudah berkerubung memenuhi tempat itu tidak seperti biasanya, tempat duduk pun sudah terlihat penuh di bagian depan, termasuk tempat biasa mereka berkumpul.


Kat mengedikkan bahunya. "Mungkin Alex dan Jordan duduk di deretan belakang," ujarnya tenang.


"Hei—"


"Hah, akhirnya kalian sampai juga," sambut Jordan begitu mereka duduk.


Di depan kedua cowok itu sudah tergeletak dua piring steak penuh kentang dan saus juga segelas minuman berbuih yang tampak seperti soda. Emily hanya nyengir sedangkan Garry dan Kat terkekeh dan memutar bola matanya tidak peduli.


Seorang cowok di sebelahnya tampak tidak senang. "Kau menyela sambutanku lagi, Sobat."


"Itu tidak penting, Sobat, yang penting kau sudah berada di sini."


Alex menyikut pinggang Jordan hingga cowok itu mengaduh dan mengepit kepala cowok itu di dalam lipatan lengannya hingga terbungkuk-bungkuk. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya mereka saling menertawakan setelah bertukar sikut dan belitan.


Emily memutar bola matanya dan mengalihkan pandangannya pada latte yang berada di depannya. Dia merasa gelisah. Entah kenapa sedari tadi cewek itu dapat merasakan ada sesuatu yang salah sedang terjadi di suatu tempat yang cukup jauh dari sekolah.


Pikirannya mendadak kosong, dia sudah tidak tahan lagi. "Aku harus pergi, ada urusan penting yang kulupakan."


"Oh, baiklah," Alex menjawabnya dengan kening yang berkerut bingung. "Perlu kuantar?"

__ADS_1


Emily menggeleng. "Tidak, terima kasih."


"Makanan dan minumanmu?"


"Makan saja semuanya." Cewek itu segera beranjak pergi setelah mengucapkan itu.


Dengan gesit Emily berjalan keluar dari cafetaria yang masih ramai, pikirannya masih terfokus pada perasaan gelisah yang menyelimutinya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali perasaan seperti ini mendatanginya, tapi setiap datang, cewek itu merasa perlu untuk mencari tahu—yang pada akhirnya tidak sia-sia.


Matahari masih terlihat tinggi di atasnya. Sepuluh menit lagi dia seharusnya sudah menuju kelasnya dan mengikuti pelajaran dari Mrs. Nymph, guru biologi yang terkenal paling tepat waktu dan mengikuti setiap protokol yang ada. Setiap murid yang melanggar akan diberi sanksi yang membuat para muridnya tidak akan pernah melanggarnya lagi.


Tapi itu tidak penting sekarang. Emily merasakan instingnya dengan cepat menuntunnya menuju sumber dari perasaan gelisahnya, membawa langkahnya keluar dari gedung sekolah, taman dan rumah-rumah.


Langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Dari jauh dia dapat melihat dua sosok yang sedang bergandengan tangan berjalan menuju ke arahnya, Wayne dan Lauren. Lengan perempuan itu terlihat menggelayuti tangan Wayne yang berada di sebelahnya.


Tubuhnya terasa mematung ketika cowok itu tampak tersenyum lembut sembari membetulkan helai rambut Lauren yang berantakan. Dia sedikit menggeserkan tubuhnya ketika kedua orang itu berjalan melewatinya tanpa menyadari keberadaannya sedikitpun. Wayne tidak menyadarinya.


Keningnya berkerut, sesuatu yang tajam dan kasatmata terasa menusuk dadanya. Cewek itu meletakkan tangannya di atas sana, merasakan debar jantungnya yang tidak teratur dan terasa menyesakkan. Apa-apaan ini.


Dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan perasaan ini.


"Emily?"


Liene.


Cewek itu berjalan mendekatinya, tersenyum dan menyentuh pundaknya. "Hei, Em, sedang apa kau ada di sini?"


Kepalanya terasa berputar. Emily memaksakan sebuah senyum di bibirnya. "Aku ... baru saja berkeliling kompleks."


"Bukannya kau masih ada jam pelajaran dengan Mrs. Nymph?" tanyanya lagi dengan kening berkerut. "Sekarang sudah lewat setengah jam."


"Oh ya?" Pandangan Emily mulai mengabur, lengan Liene yang berada di lingkaran lengannya terasa memberatinya.


"Emily, kau tidak apa-apa? Mukamu pucat." Suara temannya memberinya sedikit kesadaran.


Cewek itu mengangkat tangannya untuk menopang salah satu sisi kepalanya, menutupi matanya yang kemungkinan sudah tidak normal, seluruh tubuhnya mulai terasa tidak terkendali dan melemas dengan sangat cepat.


"Aku—" Emily menghentikan ucapannya dengan tiba-tiba, kegelapan terlanjur menyambutnya dalam dekapan yang lembut.

__ADS_1


__ADS_2