
Hans beralih dari posisi bersandarnya dan menghampiri Allison. Dalam gaun tidurnya, perempuan itu terlihat lebih rapuh dari pada awal mereka bertemu. Hal itu terlihat tidak wajar sehingga pandangan matanya terarah pada tatapan kosong Allison yang seperti tidak bernyawa.
Lakukan, Hans. perintah seseorang bergema dari dalam dirinya.
Dia mengulurkan tangannya bersamaan dengan perasaan ragu yang tiba-tiba muncul. Hans mengerutkan kening ketika sebuah bisikan yang sangat lirih menyuruhnya untuk segera menghentikan apa yang hendak dia lakukan, tapi hal itu sama sekali tidak cukup.
Hans segera menyingkirkan perasaannya lalu menyapu tangannya ke tengkuk Allison, menangkap tubuhnya yang langsung melemas karena kehilangan kesadaran dan kemudian membopongnya ke dalam mobil. Membaringkannya ke kursi belakang lalu menjalankan jeepnya menuju manor.
~°~°~
Whitney menunggu kedatangan mereka di beranda. Beberapa pengawal dan dua pelayan perempuan berdiri di sisinya dan ikut menunggu bersamanya. Dia dapat mencium bau khas kaum yang dibencinya itu mulai mendekati manor, bersamaan dengan suara mesin jeep yang menderu samar dari kejauhan. Pertanda bahwa kedua orang yang ditunggunya sudah dekat.
Tidak lama, perempuan itu segera mengisyaratkan salah satu tangannya ke depan sehingga dua pengawalnya segera menjauh darinya dan mendekati pagar manor.
Mobil jeep yang ditunggu langsung melewati pagar yang sudah dibuka.
Pengawal yang tersisa melangkah mendekati jeep yang sudah berhenti lalu membantu Hans membuka pintu mobil dan berniat mengangkat Allison.
"Biar aku saja," sela Hans menyelip diantara mereka lalu kembali mengangkat Allison.
Para pengawal itu hanya diam tanpa kata lalu mengikuti Hans melangkah perlahan menaiki undakan tangga menuju ke hadapan Whitney dan dua pelayannya.
"Ikuti aku."
Hans mengangguk dan mulai mengikuti langkah Whitney memasuki manor. Mereka berjalan melewati beberapa pilar yang menjulang lalu memasuki salah satu lengkungan pintu yang mengarah ke sebuah lorong penuh pintu lain dan lorong bercabang lainnya.
Butuh beberapa belokan lagi sebelum mereka menghentikan langkah di depan sebuah pintu kamar. Salah satu pelayan segera membuka pintu tersebut lalu berjalan ke tempat tidur untuk membuka salah satu lapisan selimut. Pelayan yang lain juga ikut bergerak untuk menyalakan lampu lalu membuka pintu lebih lebar agar Whitney dan Hans bisa lewat dengan leluasa.
Hans segera membaringkan Allison ke atas tempat tidur lalu mundur beberapa langkah untuk membiarkan Whitney menggantikan posisinya. Perempuan itu sedikit membungkukkan tubuh ke arah Allison yang masih tidak sadarkan diri lalu menelusuri tangannya secara perlahan pada tubuh Allison, menggumamkan rangkaian kata yang mengalun pelan seperti musik.
Setelah beberapa menit berlalu dia akhirnya menghentikan gumamannya lalu kembali memperhatikan wajah Allison yang masih terlihat damai seakan tidak terjadi apa-apa. Raut wajahnya sekilas tampak begitu mirip dengan wajah kedua orangtuanya. Thomas dan Melanie. Dua orang yang membuatnya semakin ingin untuk menghabisi kaum werewolf.
"Apa ada yang mengikutimu, Hans?" tanya Whitney tanpa menoleh.
"Tidak ada."
Whitney menganggukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya pada kedua pelayan yang berdiri berdampingan di dekat pintu kamar. "Fay, Sara, bisa ambilkan ramuan itu kesini?"
Kedua pelayan itu segera mengangguk lalu berjalan meninggalkan kamar dengan cepat.
__ADS_1
Whitney kembali mengalihkan pandangannya untuk melihat Hans yang tampak diam menatap ke jendela kamar, kening cowok itu tampak mengerut sehingga tidak ada sedikitpun raut wajah tidak terbaca seperti biasanya.
"Apa ada yang salah, Hans?" tanya Whitney berdiri lalu berbalik ke arah Hans.
Cowok itu menoleh ke arah Whitney yang menatapnya dengan tatapan lekat lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."
"Kau yakin?"
Cowok itu mengangguk.
Whitney masih menatapnya lalu mulai berjalan mendekat ke arahnya, salah satu tangannya terangkat untuk menangkup sebelah wajah Hans.
"Ingatanmu ... sudah kembali?"
Hans menggeleng, menetralkan raut wajahnya yang sedikit menegang dibalik wajah datarnya.
Whitney terus menatapnya selama beberapa saat sebelum melepaskan pegangan tangannya dari wajah Hans. Perempuan itu tersenyum simpul sambil meremas pundaknya untuk menyatakan keberhasilannya menyembunyikan sesuatu.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan kedatangan Fay dan Sara yang membawa sebuah nampan berisi botol kaca dan sebuah gelas kecil yang serasi. Mereka berjalan ke samping Whitney lalu menuangkan cairan dari dalam botol ke gelas untuk diserahkan padanya.
"Tolong bantu aku, Hans."
Butuh beberapa menit sebelum ramuan itu bereaksi. Wajah Allison sekarang tampak mengerut tidak nyaman dan napasnya terdengar begitu berat saat dia bernapas dalam keadaannya sekarang. Bola matanya terlihat bergerak-gerak cepat dalam kelopaknya sebelum sebuah jeritan kesakitan meluncur keluar dari mulutnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Hans mengernyitkan wajahnya saat melihat Allison mulai meronta di atas tempat tidur sambil memegang erat lehernya.
"Aku hanya memberinya ramuan," jawabnya tenang.
"Ramuan apa?"
Whitney berbalik sambil memberikan senyum terbaiknya. "Rahasia."
Hans masih mengernyitkan dahinya ketika dia melihat Allison kembali menjerit semakin keras dan titik-titik keringat mulai bermunculan di tubuhnya yang memucat. Entah kenapa perasaan terganggu kembali menyerangnya saat dia melihat keadaan Allison yang tersiksa.
Harusnya tidak begini.
"Panggil anggota yang lain, Hans," ucap Whitney memotong lamunan Hans. "Sebentar lagi mereka datang."
~°~°~
__ADS_1
Aku terpaku menatap pemandangan mengerikan yang tersaji di hadapanku, baru beberapa menit lalu sejak aku terbangun di tempat asing dan nyaris terinjak oleh kaki orang-orang yang berlarian disekitarku.
Kobaran api tersebar dimana-mana dan asap membumbung menutupi langit malam yang seharusnya tampak indah dengan bulan purnama di puncak langit.
Di antara mereka aku melihat banyak siluet lain yang tiba-tiba saja muncul dan menghadang orang-orang yang berlarian tadi, merobek dan mencabik tubuh mereka seperti boneka kain yang kemudian melemparnya ke satu tempat untuk dibakar.
Aku menahan napasku ketika salah satu siluet itu berdiri di hadapanku dengan jarak yang begitu dekat. Serigala raksasa dengan mata yang tampak manusiawi. Dia menolehkan kepala ke sekelilingnya dan terlihat menarik napas dalam sebelum berlari ke suatu arah dan melewati tubuhku begitu saja.
Aku mengembuskan napas lega lalu segera berlari untuk mengikutinya, menghindar dan berusaha mengabaikan hal-hal yang sedang terjadi di sekelilingku. Instingku hanya mengatakan untuk tetap bersama serigala di depanku.
Serigala itu berhenti berlari ketika tiba di depan sebuah bangunan yang berdiri menjulang dengan banyak kubah di atasnya. Beberapa serigala lain juga ikut bermunculan di sekelilingnya dan menundukkan kepalanya ketika serigala yang kuikuti tadi berdiri di depan mereka.
Serigala itu mengedarkan pandangannya ke serigala-serigala lain lalu menganggukkan kepalanya ketika pandangannya terhenti pada salah satu serigala. Dia menggeram dalam sebagai tanda sehingga serigala yang ditatap terakhir kali melangkah maju untuk berdiri disampingnya.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu besar yang terletak di rengah-tengah bangunan tersebut lalu mulai mendobrakan tubuh mereka ke sana untuk masuk secara serentak.
Aku mengikuti mereka berlari ke dalam bangunan itu, mataku mengerjapkan sekali untuk menyesuaikan pandangan pada ruangan gelap yang kini kulewati.
Aku menghentikan lariku ketika melihat adegan berdarah kembali tersaji di depanku. Semuanya tampak lebih parah dari sebelumnya karena para serigala tidak memberikan sedikitpun kesempatan untuk orang-orang yang bersiap di sana untuk menyerang balik.
Tidak ada teriakan yang berlebihan kecuali suara tercekik atau jeritan tertahan yang mengiringi pembunuhan berantai tersebut.
Mataku beralih pada serangan acak ke kerumunan serigala yang berada disekeliling seorang pria tinggi yang tampak kewalahan. Aku dapat melihat dia berusaha menghalau para serigala itu darinya dengan bantuan tiga orang lain yang dalam beberapa menit kemudian tumbang satu persatu.
Seekor serigala tiba-tiba keluar dari kerumunan tanpa diketahui laki-laki tersebut lalu memenggal kepalanya dengan cepat. Aku menahan napasku ketika sosok serigala itu dengan cepat berubah wujud menjadi seorang manusia.
Serigala yang sudah berubah wujud tadi segera membungkuk untuk meraih anggota tubuh laki-laki beserta beberapa orang ke satu tempat lalu membakar jasad mereka sampai tak tersisa. Tubuhnya tampak terpaku menatap kobaran api yang berada di depannya.
"Kau berhasil, Thomas," ujar seorang laki-laki melangkah mendekati cowok itu. "Kau melakukan hal yang benar."
Thomas menundukkan kepalanya hingga wajahnya tidak bisa terlihat saat mendengar ucapan tersebut, dia tampak tidak berniat untuk menanggapi ucapan bernada bangga dari laki-laki tadi yang kemungkinan besar merupakan ayahnya sendiri.
Sepertinya laki-laki itu menyadari gelagat aneh anaknya karena akhirnya dia hanya menepuk pelan punggung cowok tersebut lalu berjalan menjauh dengan diikuti para serigala lain tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku melihat semua itu dalam diam. Tanpa sadar kakiku melangkah untuk mendekati cowok itu dan memperhatikan wajahnya yang masih tetap menunduk. Semakin dekat aku menyadari bahwa bahunya sudah terkulai dan tampak bergetar samar.
Aku mengerutkan keningku ketika suaranya yang terdengar lirih menghinggapi telingaku. Ucapan yang terdengar penuh penyesalan yang menyatakan segalanya.
"Maafkan aku, Whitney."
__ADS_1