A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.18


__ADS_3

"Halo, Paman."


Lilian menyapa pamannya dengan tenang walaupun ingin segera pergi dari sana. Zee yang berada di sebelahnya juga melakukan hal yang sama dengan perempuan itu. Bagaimanapun, Greg masih anggota senior yang paling dihormati di kawanan dan merupakan keluarga dari alpha mereka. Keduanya tentu tidak bisa bersikap sembarangan pada laki-laki itu.


Greg tampak tersenyum dan menatap keduanya bergantian. "Kalian dari mana saja? Kupikir kalian akan berada di ruang latihan sekarang, bersama anak-anak yang lebih muda."


"Kami baru saja dari restoran, Paman, tapi Zee sakit jadi aku mengantarkannya ke sini."


Pamannya itu mengangguk mengerti. "Kalian benar-benar berniat membantuku hingga seperti itu ya ... padahal bisa saja kalian tetap berlatih seperti biasa dan menyerahkan urusan internal kawanan padaku."


Zee meneguk ludahnya gugup dan sedikit melirik pada Lilian. Ekspresi wajah perempuan itu terlihat tidak terlalu baik, tapi dia segera menyembunyikannya seakan tidak ada yang terjadi. Adik dari Stefan itu memang selalu bisa mengubah apa yang sebenarnya dirasakannya sehingga bisa menipu semua orang, karena itu tidak ada yang berani bermacam-macam padanya selain karena status sosialnya di kawanan, tapi baru kali ini Zee bisa melihat contohnya secara nyata. Dia ingin segera pergi.


"Tentu saja kami harus membantu jika kawanan sedang kesulitan, tidak mungkin anggota muda seperti kami tetap berpangku tangan dan tidak melakukan apapun kan?" Lilian membalas ucapan pamannya.


Jika ini adalah situasi yang biasa, Lilian pasti akan membiarkan pembicaraan itu lewat dan mengganti topik yang lebih ringan agar bisa segera pergi, tapi perempuan itu merasa kalau sudah saatnya untuk terlihat sedikit memberontak secara terang-terangan.


"Yah, itu tidak salah. Aku sangat berterima kasih karena kalian sudah bekerja keras untuk situasi kita yang sebenarnya baik-baik saja," ujar Greg, tersenyum sekilas. "Kalian hanya membuat tanggung jawab yang merepotkan dan tidak perlu."


Lilian mengepalkan tangannya sebelum melepaskannya kembali. "Kenapa paman berkata seperti itu? Aku dan yang lain tidak merencanakan restoran dengan tujuan main-main."


Paman dan keponakan itu saling bertatapan. Keduanya memiliki ekspresi tenang yang sama dalam tampilan dan usia yang berbeda, tapi hal itu semakin menunjukkan kemiripan mereka sebagai keluarga. Jika Stefan juga bersama mereka, kemiripan itu akan semakin terlihat jelas, tapi ... sekarang hal seperti itu tidak mungkin terjadi.


Zee langsung mengambil alih pembicaraan. Di saat kedua orang itu bertatapan, beberapa anggota senior terlihat memperhatikan mereka tanpa melakukan apapun. Perempuan itu harus menjauhkan Lilian dari pamannya. "Paman, maaf, aku akan kembali ke rumah sekarang bersama Lily, tidak apa-apa kan? Dia sebenarnya juga kelelahan karena terlalu banyak bekerja."

__ADS_1


Lilian yang merupakan pelaksana utama dalam berjalannya restoran adalah benar. Anggota lain yang lebih senior dari mereka sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga sebagian besar tanggung jawab dilimpahkan pada perempuan itu hingga dia bahkan tidak sempat tidur jika masih ada yang harus dikerjakan mengenai restoran.


Walaupun ada beberapa anggota yang juga ikut membantu Lilian, termasuk Zee, tapi hasil akhir selalu dibereskan oleh perempuan itu sebelum diserahkan pada anggota yang lebih senior, seperti Iris.


Greg menatap Zee sesaat sebelum kembali pada Lilian yang tidak berbicara. "Pergilah, kalian pasti harus beristirahat untuk besok. Jangan sampai usaha kalian menjadi kacau karena staf yang tidak bisa menjaga kesehatannya."


Zee meraih lengan Lilian dan berpamitan pada Greg. Mereka memasuki rumahnya yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk dan disambut oleh pengharum ruangan yang tercium familiar.


"Duduklah, aku akan menyiapkan minuman."


Lilian tidak menjawab, tapi mengarah ke sofa untuk duduk dan mengepalkan tangannya kembali. Dia sangat tidak menyukai sifat pamannya yang tetap arogan dibalik sifatnya yang tenang. Laki-laki itu masih bersikap seperti alpha dari kawanan mereka meskipun sudah dikalahkan oleh kakaknya.


Perempuan itu menyuarakan pikirannya secara sadar. "Seharusnya kakakku menghabisinya saja sekalian."


"Lilian!"


Setelah menerima kemurahan hati Stefan, seharusnya pamannya itu lebih bersikap tahu diri karena sudah kalah secara sah, tapi dia masih saja melakukan perbuatan yang sama seperti dulu.


"Aku ... aku tidak tahan dengan sikapnya, Zee. Kamu tahu apa yang sudah dilakukannya pada anggota kawanan kita kan?"


Zee menghembuskan napas berat. "Aku tahu."


Jika ayahnya masih hidup, pamannya itu pasti akan menerima hukuman yang jauh lebih berat dan tidak akan berada di dunia ini lagi.

__ADS_1


Greg mengijinkan manusia-manusia yang terlalu penuh dengan rasa ingin tahu untuk mengambil sampel darah para anak-anak di kawanan mereka, menelitinya untuk melihat gen perubahan dan potensi dari kemampuan fisik yang kemungkinan akan dimiliki mereka setelah perubahan nanti dan menerima bayaran sebagai gantinya.


Lilian tidak tahu siapa sebenarnya orang-orang itu, tapi pamannya sudah menjual hal yang paling berharga dan sakral bagi semua werewolf, bahkan tanpa persetujuan sukarela dari pihak yang terlibat. Laki-laki itu dan pendukungnya mendorong para ibu untuk memberi sampel darah anaknya sendiri tanpa penjelasan. Pada akhirnya, para anak-anak yang tidak tahu apapun itu menjadi korban dari keserakahan Greg yang sepertinya tidak akan berakhir dengan mudah.


"Kalau saja kita mengetahui keberadaan para manusia itu, mungkin saja kita bisa membuat kesepakatan baru yang tidak melibatkan anak-anak."


Lilian menggeleng. "Dia pasti tidak akan membiarkan sumber penghasilannya diketahui dengan mudah. Kita juga belum mempunyai penawaran yang lebih baik lagi dari apa yang sudah dilakukannya hingga sekarang."


Jika saja mereka sekarang mempunyainya, pasti tidak akan sesulit ini untuk menghentikan perbuatan pamannya. Stefan sudah kesulitan untuk mempertahankan posisinya sebagai alpha jadi dia juga tidak bisa berharap banyak dengan kakaknya untuk saat ini.


Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah mencari berbagai sumber penghasilan lain yang bisa menutup kebutuhan kawanan mereka, tanpa sedikitpun menggunakan dana yang sudah disediakan oleh pamannya.


"Apa Grace dan Chloe bisa membantu kita? Kita saja sudah seperti ini walaupun memiliki anggota yabg lebih banyak."


Lilian mengangguk, tatapannya tampak yakin dengan jawaban yang diberikannya. "Mereka bisa membantu kita nanti, tapi sebelumnya, kakakku harus bisa merebut hati Grace."


"Kenapa harus seperti itu?"


Zee tampak tidak mengerti dengan ucapan Lilian yang begitu tiba-tiba karena berkaitan dengan Stefan dan salah satu anggota dari kawanan lain yang selalu terlihat cuek, tapi melakukan pekerjaan di restoran dengan baik. Perempuan itu juga mengakui kalau masakan Grace sudah hampir mendekati kelezatan masakan buatan Sean yang menjadi koki andalan mereka.


Dia tiba-tiba menyadari sesuatu karena berusaha mencari hubungan antara kedua orang itu. "Mereka ... mate?"


"Bingo!"

__ADS_1


Zee sekarang terkejut karena tebakan asalnya benar, sementara Lilian semakin bertekad untuk membuat hubungan kakaknya dengan Grace bisa segera membaik.


Dia akan membuat pamannya mengakui perbuatannya dan pergi dari kawanan mereka.


__ADS_2