
Semakin cepat maka semakin baik.
Emily memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidur dan mengenakan jaket berlengan panjang untuk menutupi piamanya. Sekilas dia dapat melihat jam di meja kecilnya menunjuk waktu lewat tengah malam, waktu yang tepat untuk pergi berjalan-jalan.
Beberapa bagian tubuhnya masih terasa sakit, jujur saja, tapi pada akhirnya dia berhasil berjalan dengan aman melewati pintu tanpa menyenggol apapun di dalam kamarnya yang berantakan, berjalan sepelan mungkin melewati ruang tamu dan meraih pintu rumah yang tidak terkunci-Amanda pernah memberitahu tentang betapa tidak bergunanya fungsi kunci pada rumah di daerah mereka sehingga dia tidak lagi terkejut.
Hutan terletak cukup jauh dari rumahnya-dengan kondisinya yang tidak sehat-dia membutuhkan waktu lebih dari dua puluh menit untuk sampai. Sangat berkebalikan dengan keinginannya untuk tiba lebih cepat.
Dia tidak ingin secara tidak sengaja menarik perhatian para vampir yang mungkin saja masih berkeliaran di sekitar sini saat kondisinya masih rawan, apalagi dengan para vampir kelaparan yang tidak stabil. Walaupun itu tidak mungkin terjadi dengan segala keteraturan yang menyertai, Emily sedikit khawatir dengan efek buruk dari perubahan wujudnya di depan anak-anak vampir yang akan meningkatkan kewaspadaan para vampir dewasa.
Emily menghela napas pelan dan mulai berjalan lebih cepat untuk menenangkan diri. Dia harus segera mengambil apapun yang sudah disembunyikan Amanda dan segera membebaskan Wayne dari tempat ini.
Lebih dari dua puluh menit dia akhirnya tiba di depan hutan yang membentang luas. Emily berhati-hati dalam melangkahkan kakinya, tidak ingin jejak kakinya diketahui dan mencari pohon yang dimaksud oleh Amanda.
Di sekitarnya pohon-pohon masih terlihat hidup dan tegak. Cewek itu menyapukan pandangannya pada setiap baris yang dilewatinya dan belum menemukan pohon dengan rangka yang sudah kering dan dengan dedaunan yang habis menggugurkan diri.
Hutan ini mungkin benar-benar luas, karena lima belas menit berlalu dengan cepat dan Emily belum juga menemukan pohon yang sudah mati itu.
"Di hutan, aku mengubur sesuatu di bawah satu-satunya pohon mati di sana," Dia kembali mengingat kata-kata Amanda , merasa sedikit menyesal karena tidak menanyakan detilnya lebih lanjut pada cewek vampir itu, dan tidak mungkin kembali ke rumah serta dengan bodoh membangunkan Amanda.
Sial.
Suara kresakan mengagetkan dirinya. Tubuhnya menegang dan secepat mungkin memundurkan tubuhnya pada pohon yang berdiri di belakangnya. Emily berusaha merilekskan tubuhnya, tapi sia-sia ketika bau harum khas vampir mencekik lehernya, memaksanya untuk menyiagakn diri.
"Emily?" Sebuah sosok keluar dari pohon di seberangnya. Garry dan, tentu saja, Kat.
Mereka tampak segar sehabis berburu, terlihat dari beberapa bercak darah yang mengotori baju dan sudut mulut mereka. Wajah Kat tidak terlihat karena tertutup bayang-bayang dedaunan, tapi dia dapat melihat Garry mengerutkan alis padanya sehingga menyadarkannya kalau dia belum menyapa balik.
"Garry, Kat."
Emily menyapa mereka singkat dan segera merapatkan tubuhnya ketika melihat Kat melangkah maju dan menunjukkan taring dengan sifat bermusuhan yang tidak disembunyikan. Musuh, sorot mata Kat menggambarkannya seperti itu sekarang.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, Kat." Emily memperhatikan tangan cowok vampir itu mengenggam tangan Kat dengan erat. "Kau baru saja minum 'kan?"
Suara Garry terdengar tenang dan terkendali, tapi Emily tahu kalau dia bergerak dari tempatnya sedikit saja, cewek vampir itu akan membiarkan nafsu membunuh menguasainya dan mencabiknya dalam sekejap. Membuatnya menjadi daging cincang manusia.
"Dia werewolf." Kat mengucapkannya dengan nada jijik.
Emily langsung menyeringai padanya, berucap tanpa berpikir. "Dan kau calon vampir yang baru saja menghisap darah pacarnya."
Cewek vampir itu segera menabrak tubuhnya hingga terjatuh ke tanah dan membuat napasnya tersengal keluar. Gerakannya terlalu cepat hingga Emily tidak sempat melihat Kat melepas pegangan tangannya pada Garry sebelumnya.
"Kau mau membunuhku, eh?" tanyanya sambil mengangkat alis. Persetan dengan bersikap berhati-hati di saat harga dirinya sebagai werewolf lebih penting dari pada nyawanya.
Mata Kat berkilat dan menunjukkan seringai penuh ancaman tepat di depan wajahnya. "Kau ingin yang cepat atau yang lambat?"
"Yang lambat sepertinya lebih menarik."
Sebuah goresan panjang segera menghiasi lengan kanannya bersamaan dengan tubuh Kat yang terangkat menjauhinya. Tangan Garry melingkari perut cewek itu lebih erat seiring dengan langkahnya menjauhi Emily.
Garry menghela napas dan mengalihkan pandangannya pada Emily, tatapan matanya terarah pada goresan pada lengannya yang mulai mengalirkan darah. "Maafkan aku soal itu, Emily," ucapnya menyesal. "Kurasa sebaiknya kami pergi. Ada tanaman penghenti darah di dekat kakimu, semoga membantu dan berhati-hati lah."
"Thank's."
Cowok vampir itu masih menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.
Emily menghela napas lega. Garry vampir yang baik sejauh dia mengenalnya dan dilihat dari tindakannya menghentikan serangan Kat sebelum berlanjut lebih parah, tapi dia tidak mau mengambil resiko untuk melibatkan orang-atau vampir-lain dalam urusannya dengan vampir super posesif yang belum dia tebak identitasnya.
Dia menggerakkan tangannya untuk memetik beberapa daun penghenti darah di dekat kakinya dan kemudian menempelkannya di sepanjang lengan. Tidak ada perban yang dia bawa sehingga dia harus merobek bagian bawah piamanya dan membalutkannya di atas daun-daun.
Emily segera beranjak bangun, kembali melangkahkan kakinya menyusuri hutan, memperhatikan satu per satu pepohonan di sekitarnya dan menjaga ritme napasnya yang mulai terengah lagi.
Sesuatu menyandung kakinya dan menyebabkan tubuhnya terhempas ke depan, nyaris menghantam wajahnya. Emily mengerang pelan tanpa bisa berkata-kata akibat lengannya yang terluka menjadi tumpuan tubuhnya.
__ADS_1
Cewek itu menarik napas panjang dan kembali bangun, melihat sesuatu yang membuatnya tersandung tadi. Sebuah akar panjang yang menonjol dengan buku saku yang kini dihiasi percikan tanah dan kover depan tertekuk hampir setengah bagian.
Emily meraih buku itu dan membukanya, mendapatkan nama Katherine Wilson tertera di sana. Nama lengkap Kat. Kemungkinan besar buku ini terjatuh sewaktu dia dan Garry pergi dari tempat ini dengan terburu-buru, entah karena apa.
Dia meraih buku itu dan menyimpannya pada saku jaketnya. Tatapannya mengarah pada sekelilingnya lebih perlahan. Mungkin saja masih ada sesuatu yang membuat kedua vampir itu segera pergi tanpa memedulikan apapun.
Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah pohon biasa yang terlihat kering dan gundul. Pohon yang dia cari.
Dengan cepat Emily berjalan ke arah pohon itu dan mulai menggali dengan batu pipih serta tangannya sendiri. Dalam beberapa menit yang cukup lama batu pipih yang dia pegang akhirnya menyentuh material keras berwarna coklat gelap. Emily menyingkirkan tanah yang tersisa hingga menunjukkan bentuk material tersebut, kotak kayu yang memiliki engsel di satu sisinya, tidak terkunci kecuali kait yang mudah dilepas menjadi hitungan.
"Wah, wah, wah, siapa ini? Apa aku tidak salah lihat?"
Emily mendongak dengan cepat, terkejut dengan sebuah sosok yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dan tersenyum miring penuh kegembiraan yang ganjil. Bagaimana dia bisa muncul tanpa hawa kehadiran sama sekali sebelumnya?
"Jordan. Bagaimana caramu melakukannya?"
"Kau penasaran tentang itu?" tanyanya balik mengangkat alis. "Nah, itu tidak penting. Bagian yang penting adalah apa yang sedang kau lakukan pada jam 2 dini hari di hutan, Emily?"
Cewek itu mengerutkan keningnya, meletakkan tangannya di atas kotak sekaligus menebak-nebak apa yang ingin dilakukan cowok vampir itu kepadanya. "Kau sendiri bagaimana?"
"Aku baru saja selesai berburu."
"Bukankah-"
Emily menghentikan ucapannya saat tangan Jordan sudah mendarat di atas tangannya, menghambat perbuatannya untuk membuka kotak.
"Apa yang sudah kau pikirkan tentang aku salah," ujarnya dengan tenang. "Dan kalau boleh kuberi saran, membuka kotak ini di saat orang itu ada di sekitar sini adalah keputusan yang sangat salah."
Emily membelalakan matanya mengerti. Dia dalam masalah. Cowok vampir itu komplotannya.
"Nah, kurasa kau mengerti. Maafkan aku ya?"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Jordan segera mengarahkan pukulan pada lehernya dan tidak ada apapun yang bisa dia pikirkan lagi.