
Saat mereka kembali ke tempat berkumpul, Emily dapat melihat para vampir berbaris dengan rapi di hadapan Cara. Secara bergiliran, dua vampir maju untuk mendengar sesuatu yang diucapkan oleh vampir pengendali pikiran itu, lalu berbaris kembali bersama vampir lain setelah digantikan oleh dua vampir yang baru.
Di sisi lain, Jordan dan Chloe sedang duduk berhadapan dan membicarakan sesuatu dengan serius, Allison dan Dave ada di sisi perempuan yang paling tua di antara mereka itu.
"Kalian lama sekali."
Emily tidak menatap Grace yang berjalan mendekat dan malah mengalihkan perhatiannya pada para vampir yang tetap bergantian untuk berhadapan dengan Cara. "Apa yang sedang dia lakukan?"
Grace ikut menoleh ke arah yang dilihat Emily. "Oh, dia. Menghapus ingatan penduduk tentang seluruh kejadian yang menyangkut mereka dan kita."
"Bagaimana dengan Jordan?"
Cewek itu mengedikkan bahunya. "Dengarkan saja sendiri, mereka belum selesai berbicara dari tadi, aku bosan."
"Baiklah."
"Kamu di sini saja, Hans. Temani aku." Grace menahan gerakan Hans dengan cepat. Wayne bahkan sempat limbung karena dorongan sekilas dari cewek itu saat melewatinya.
"Hati-hati."
Wayne mengangguk, menatap takjub pada sosok Grace yang entah bagaimana terlihat menjulang di hadapan Hans yang terlihat tidak nyaman.
"Ayo, jangan ganggu orang gila."
"Aku masih bisa mendengar."
Emily menghela napas. "Serang kalau dia macam-macam, Hans."
"Iya...." Wayne dapat melihat raut wajah Hans yang terlihat pasrah saat Emily menggandengnya menuju tempat Chloe dan lainnya.
Ketika di sana, percakapan di antara mereka berempat sepertinya sudah berakhir karena mereka dapat melihat Jordan sedang menandatangani kertas yang sudah berisi dengan beberapa paragraf perjanjian, tanda tangan Allison dan tanda tangan beserta cap darah yang sepertinya milik Cara.
Cowok vampir itu kemudian menggigit jarinya untuk mengeluarkan sedikit darah dan mencapnya di atas tanda tangan. Dia menatap Allison dan Chloe sesudahnya. "Begini sudah cukup kan?"
Chloe mengangguk.
"Sudah, terima kasih."
Jordan tersenyum. "Tidak masalah."
"Kalau begitu-"
"Hei."
Semua orang menoleh ke arah suara perempuan yang baru saja berbicara, memutus ucapan Allison. Dave terlihat ingin membuat lubang di kepala cewek vampir itu dengan tatapannya. Tentu saja itu tidak terjadi.
"Apa kau sudah selesai? Aku sudah lelah." Cara bersedekap, tidak menyadari atau pura-pura tidak mengetahui apa yang dilakukannya ketika menatap ke arah Jordan. "Bagianmu."
"Ya, ya, sebentar." Jordan menyerahkan kertas itu kembali lalu segera beranjak menuju kumpulan vampir yang masih menunggu.
__ADS_1
"Emily." Allison segera menghampiri dan memeluknya erat, lalu memeriksanya dengan cermat. "Kamu sudah baik-baik saja?"
Emily mengangguk, sedikit tersenyum melihat temannya yang masih tetap memperhatikan keadaannya dengan pandangan lekat. "Aku sudah baik-baik saja, Ally."
"Syukurlah.... aku khawatir sekali."
"Saat Chloe tidak merasakan keberadaanmu, Allison segera mengajak kami pergi ke sini. Bagaimana kamu bisa kehilangan kalung sepenting itu?"
Cewek itu meringis mendengar pertanyaan Dave. Dia sama sekali tidak ingat di mana kalung itu sekarang, bahkan waktu terakhir dia memakainya. Pikirannya terlalu fokus pada Wayne. "Entahlah.... aku tidak yakin."
Chloe menghela napas panjang, sedangkan Allison menatapnya dan Dave bergantian. "Itu tidak penting lagi, sekarang kita sudah bersama Emily dan Wayne kan?"
"Kalau kawananmu terlambat sedikit saja, kau pasti sudah kuhabisi."
Jordan menyikut Cara yang baru saja berbicara. Mereka sepertinya sudah menyelesaikan tanggung jawabnya karena para vampir yang sebelumnya berbaris sudah duduk dan saling menyandar satu sama lain.
"Kami sudah selesai. Sudah tidak ada yang harus kami lakukan 'kan?"
"Masih ada." Emily menyambar sebelum Allison maupun Chloe dapat menjawab. Genggaman tangannya menguat pada tangan Wayne yang masih dipegangnya. "Kalian belum meminta maaf pada Wayne. Terutama kau."
Cara mendengus melihat tatapan tajam cewek itu. "Untuk apa? Dia baik-baik saja."
"Bagaimana dengan menghapus ingatan? Mengisolasinya?"
"Bukan perbuatanku, itu murni perbuatannya." Vampir cewek itu menunjuk Lauren yang berada di barisan depan para penduduk yang sudah dihapus ingatannya. "Aku hanya menyuruhnya mengawasi manusia itu."
"Menyuruh seseorang mengawasi setiap gerakan dan mencegahnya bersosialisasi. Tetap saja itu perbuatanmu."
"Wah, ada yang lebih gila daripada aku." Grace tiba-tiba menyahut, berhenti di samping Wayne yang tetap diam. Dia menyenggol cowok itu. "Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu? Kamu bisa berbicara kan?"
"Grace...."
"Diam, Dave." Cewek itu masih menatap Wayne yang secara perlahan balik menatapnya. Dia mengalihkan pandangannya pada Emily yang sedang menatap genggaman tangan Wayne. "Yang mengalami tentu saja yang harus berbicara lebih banyak. Kamu setuju kan, Emily?"
"... benar."
"Nah, bagaimana menurutmu Wayne?"
Wayne merasakan genggaman tangan Emily mengerat selama beberapa saat. Cowok itu menatap teman masa kecilnya itu, merasakan keberadaannya mengalir dan dengan cepat melenyapkan segala kekhawatirannya. Dia mengangguk sekilas lalu mulai berbicara.
"Aku tidak apa-apa, itu sudah tidak berarti lagi sekarang." Wayne menatap teman-teman Emily yang baru kali ini dia temui, tidak memberi perhatian sama sekali pada dua vampir yang berdiri di hadapannya. "Mereka tidak perlu meminta maaf. Aku hanya ingin supaya mereka tidak pernah terlihat lagi di hidupku."
Mereka semua terdiam kecuali Grace yang terlihat puas. Emily dapat melihat wajah Cara terlihat tidak terbaca, tapi tangannya mengepal dengan erat hingga telapak tangannya sangat pucat.
"Sekarang akhirnya sudah selesai."
Jordan mengangguk. "Kalau begitu kami akan pergi dari sini, sebentar lagi mereka akan bangun. Sebaiknya kalian juga segera pergi."
"Benar." Grace tersenyum. "Semoga kita tidak pernah bertemu lagi."
__ADS_1
Cowok vampir itu membalas senyumnya. "Tentu saja."
.
"Dasar kejam."
"Apanya?"
"Dia bahkan tidak melihatku."
"...."
"Kau pasti mau mengejekku lagi."
Suara helaan napas terdengar. "Aku terlalu lelah untuk bisa mengejekmu."
"Hah! Harusnya-"
"Jangan."
"...."
"Setelah ini kita harus mencari tempat baru, aku tidak ingin menghabiskan energiku untuk mendengar ocehanmu."
"Dasar kejam. Aku akan membunuhmu nanti."
"Coba saja."
.
Wayne menatap rumah yang berada di hadapannya, terlihat luas dengan kebun yang asri, penyiram otomatis menyala untuk menyiram tanaman di sekitarnya.
"Kalian sudah kembali-"
"- Akhirnya."
Dua orang cewek yang terlihat mirip segera mendekati mereka. Salah satunya meraih tas belanjaan yang dibawa oleh Allison, sedangkan yang satu lagi menerima bawaan belanjaan dari Chloe. Dia bisa merasakan tatapan mereka mengarah padanya, tapi saat dia menoleh, kembaran itu sudah berjalan mendekati rumah.
"Kalian pasti capek."
"Kami sudah menyiapkan makan malam."
"Yang lain masih menunggu."
"Mandi dan ganti baju sebelum makan ya."
Cewek kembar itu berkata secara bergantian. Allison, Dave dan Chloe sudah menyusul mengikuti mereka memasuki rumah.
"Ayo, Wayne."
__ADS_1
Wayne mengangguk, menerima uluran tangan Emily yang masih menunggunya lalu mengikuti mereka memasuki rumah barunya.