
Entah kenapa aku dapat merasakan kesadaranku melayang dari tubuhku. Dari luar aku dapat melihat apa yang berada di sekitarku, tapi aku tidak dapat sedikitpun mengendalikan anggota tubuhku yang bergerak tanpa diperintah.
Aku memperhatikan tubuhku melangkah dengan mantap dengan didampingi Hans, tanganku merangkul lengannya sehingga kami berjalan dengan ritme langkah yang sama. Whitney berjalan di depanku dengan didampingi dua butlernya, mengarahkan kami menuruni tangga dan berjalan mendekati pintu besar.
Dua butler Whitney bergerak membuka pintu itu selebar mungkin sehingga aku dapat melihat gerombolan serigala yang berada dalam jarak beberapa meter di depan kami.
Kawananku.
Jantungku berdetak lebih kencang saat dua serigala berjalan maju dan mendekat ke arah kami. Salah satu diantara mereka memiliki mata sehijau pepohonan sedangkan yang satu lagi memiliki mata berkilat abu-abu, mereka berdua berjalan tanpa ragu dengan sebuah gulungan terkurung di moncong mereka.
Whitney menoleh ke arah Hans lalu memberikan isyarat mata. Cowok itu segera menurut dan mengambil dua gulungan yang sedikit berliur dari mulut dua serigala tersebut. Sekilas salah satu mata mereka sempat terarah tepat ke arahku lalu mengangguk pelan.
Aku hanya bisa terpaku ketika Hans perlahan membuka salah satu gulungan dan membacanya tanpa suara, lalu menyerahkannya kepada Whitney.
Perempuan itu menerimanya lalu membacanya, wajahnya terlihat datar ketika akhirnya dia menyerahkan gulungan itu kepada salah satu butler lalu bergumam pelan. "Satu lagi."
Hans mengangguk lalu membuka gulungan kedua dan mulai membaca seperti sebelumnya. Raut wajahnya terlihat tidak terbaca pada awalnya lalu perlahan mengerutkan keningnya saat dia sudah sampai pada baris terakhir gulungan.
Whitney mengerutkan keningnya saat menatap ke arah Hans. "Ada apa?"
Hans menggeleng, dia menolak untuk menjawab pertanyaan Whitney dan malah menyerahkan gulungan itu padanya. Hans kemudian menoleh ke arahku dan menatapku dengan pandangan lekat yang tidak bisa kuartikan, dia melakukannya selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya.
Whitney terlihat memucat ketika dirinya menyudahi membaca gulungan tersebut.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ayahmu yang merencanakan semua ini pada awalnya, Whitney," ucap sebuah suara yang terdengar tanpa emosi.
Aku menoleh ke asal suara dan melihat sesosok laki-laki berjalan mendekat ke arah kumpulan kami dengan menaiki undakan tangga. Will.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Ayahmu memang berencana untuk mati, mengakhiri masa eksistensinya di dunia ini dari dulu bahkan sebelum kita bertemu dengan Thomas."
Wajah tirus Whitney terlihat semakin pucat, kebingungan tercetak semakin jelas dan bahunya yang terlihat naik-turun dengan cepat seakan kehabisan napas
"Bohong.... Ini bohong...." Dia terlihat marah, matanya berkilat merah saat menatap Will tajam. "Ayahku tidak mungkin melakukan itu!"
Will menggelengkan kepalanya. "Awalnya ayahmu hanya berusaha menghubungi dewan untuk meminta vampir lain menggantikan posisinya mengawasi daerah ini, tapi permintaannya ditolak.
"Dia sudah mengawasi daerah ini selama enam abad, tapi ibumu tewas di abad ke empat posisinya akibat pemberontak yang menyusup ke dalam manor dan menyerang orang-orang tanpa pandang bulu—"
"Darimana kau mengetahui hal itu?" potong Whitney tiba-tiba.
"Ada di arsip yang diletakkan ayahmu ke dalam lacinya, dia sempat menunjukkan arsip itu padaku sebelum Thomas membunuhnya."
Whitney terdiam, raut wajahnya terlihat campur aduk. Dia shock.
"Allison," bisik seseorang memanggilku.
Tubuhku bergerak merespon panggilan itu bersamaan dengan diriku yang ikut menoleh ke sana, seorang cowok tampak mendekat ke arah kami diikuti cewek berambut hitam di belakangnya. Dave dan Emily. Aku menoleh ke tubuhku dan melihat bahwa dia hanya memandang kosong ke arah mereka.
Dave menatap Whitney dan Will yang masih berhadapan satu sama lain lalu kembali menatap wajahku. "Di mana kamu sekarang?"
Di sini. Aku hendak mengatakan hal itu ketika sadar bahwa tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
"Kalau kamu ada di sini, kamu bisa menyentuh bahu Dave, Ally," ucap Emily membantu.
Aku mengangguk mengerti lalu berusaha menggerakkan tanganku untuk menyentuh bahu Dave. Cowok itu langsung bergidik begitu merasakan sentuhanku dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Dia kembali membuka matanya yang terlihat lebih hijau dari sebelumnya lalu mendekat ke arah tubuhku, tubuhnya tampak membungkuk untuk mengecup dahiku, menyapu ke pipi dan berakhir pada ciuman singkat di atas bibirku.
Wajahnya berpindah ke dekat telingaku dan membisikkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Rangkaian kata dalam bisikannya tidak terdengar terlalu jelas, tapi permohonannya bergema dalam diriku, memanggilku untuk kembali ke dalam tubuhku seperti sedia kala.
~°~°~
Will mengepalkan tangannya dengan erat di samping tubuhnya, matanya menatap ke arah Whitney yang masih tampak terkejut akan fakta yang telah dia terima. Laki-laki itu tampak terbelah akan keinginannya untuk menghampiri tunangannya atau tetap melaksanakan tugas yang sudah dia pilih dengan keinginannya sendiri.
'Apa kau yakin bisa melakukan ini?' tanya Chloe padanya, wajahnya tampak bersimpati setelah dia menjelaskan apa yang akan dia lakukan nanti.
Will mengangguk pasti. 'Aku harus melakukan ini demi kebaikannya dan demi kebaikanku sendiri.'
'Bukankah ini sama saja dengan memberi kemenangan kepada kami?'
Laki-laki itu menggeleng pelan, sebuah senyum simpul terukir di bibirnya yang pucat. 'Tidak juga, ada beberapa vampir dari kelompok kami yang tersisa menolak perseteruan ini terus berlanjut, diantara mereka sudah ada yang mengetahui kebenaran dan akan membangun kelompok kami kembali–jika sewaktu-waktu kalian ingin bermain.'
Chloe menggeleng. 'Bukan itu maksudku.'
'Lalu?'
'Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?'
Will kembali tersenyum. 'Aku baik-baik saja.'
Bohong.
Dia merasa sakit. Memang bukan sakit fisik yang dapat dilihat oleh mata, tapi lebih kepada rasa sakit yang menyerang kesadarannya saat melihat pasangannya menderita dalam diam. Dari semua orang yang harus mengetahui informasi ini, dia melakukan kesalahan fatal dengan membiarkan semuanya di luar kendali dan memutuskan untuk mengakhirinya secara sepihak.
Will kembali mengeratkan kepalan tangan lalu mulai membuka mulut. "Ayahmu sangat sedih ketika kematian ibumu, dia mengurung diri dalam kamarnya selama dua bulan, berduka sendirian dan menolak meminum persediaan darah yang dimiliki manor demi kesehatan tubuhnya sendiri.
"Waktu itu kau masih bayi, selama ayahmu berduka, kau dirawat oleh Fay dan Sara. Mereka yang mendampingi, mengajar dan menemanimu selama ayahmu tidak ada disampingmu. Ayahmu tidak pernah melihat keadaanmu sama sekali, dia hanya terfokus pada kematian ibumu dan mulai menunggu kematiannya—"
"Hentikan!"
"Hans."
Hans berjalan mendekat pada Whitney dan menyerahkan sebuah pisau kecil di tangannya.
"Lindungi aku." Whitney berbisik untuk terakhir kalinya sebelum menubrukkan tubuhnya pada Will.
Vampir-vampir yang berkumpul di belakang Whitney juga ikut bergerak dan mulai menyerang para serigala yang merangsek maju.
Terdengar berbagai suara geraman dan hantaman ketika semua itu berlangsung. Para serigala mencabik tubuh para vampir tanpa ampun sedangkan para vampir membenamkan gigi mereka yang sekuat baja ke dalam tubuh para serigala untuk menyebarkan racun.
Tangan Whitney bergerak untuk mencengkram leher Will lalu menekannya sekuat mungkin, matanya tampak berkilat-kilat merah saat darah tunangannya mulai merembes akibat goresan dari kukunya yang memanjang.
"Merindukanku?" tanya Will serak melalui tenggorokannya.
Whitney tidak menjawab dan hanya memberikan tekanan lagi pada leher Will yang mulai membiru.
Laki-laki itu meringis pelan lalu berusaha mengangkat salah satu tangannya untuk menangkup wajah perempuan itu. Whitney menegang merasakan sentuhannya, selama sesaat cengkraman tangannya di leher Will melonggar dan wajahnya tampak mengerut seakan menahan ekspresi lain muncul.
"Lepas," ujar Whitney akhirnya dengan nada datar tapi tegas secara bersamaan.
Will tersenyum. "Aku tidak akan melepasnya."
"Lepas!"
"Tidak."
__ADS_1
Whitney kembali mengeratkan cengkramannya pada leher Will, lebih erat daripada sebelumnya sehingga leher laki-laki itu mulai menghitam. Tatapan benci kembali dia tunjukkan saat melihat Will tetap tersenyum kecil walaupun tahu bahwa dia hampir diambang kematian.
"Maafkan aku."
"Lalu? Mati lah!"
Will tetap menatapnya. "Aku egois, aku tidak ingin kehilanganmu."
Tunangannya sedikit melonggarkan cengkramannya tanpa sadar, tapi masih memberinya tatapan yang sama. "Bagaimana dengan yang lain? Thomas?" Whitney menelan isakannya yang nyaris keluar. "Aku membunuhnya dengan tanganku sendiri dan kamu tidak menghentikanku!"
"Itu keinginannya, dia merasa bersalah padamu. Walaupun dia tidak tahu keinginan ayahmu, tapi dia menuruti perintah ayahnya untuk membunuh."
"Tapi-"
"Aku mencintaimu, Whitney."
Perempuan itu mematung, mengerjapkan matanya kaget. Tangannya semakin melonggar sehingga Will dapat dengan mudah meraih bagian belakang kepala Whitney, menariknya mendekat sehingga bibirnya dapat bertemu dengan milik tunangannya.
~°~°~
"Kamu siap?"
Aku mengangguk, memegang pasak berukir di tanganku dengan seerat mungkin.
Dave menyentuh tanganku yang kosong lalu menggenggamnya lembut, menyalurkan aliran hangat dan ketenangan yang sangat kuperlukan saat ini. Mataku terangkat untuk menatap matanya yang kini menatapku, pandangannya dengan cepat memberiku kepercayaan diri untuk melakukan apa yang harus kulakukan.
Secara perlahan aku memejamkan mata dan merasakan tubuhku mulai bergemeletak. Aku menarik napas dalam untuk terakhir kalinya lalu membuka mata–cahaya terang langsung menusuk mataku sehingga aku kembali memejamkannya selama beberapa saat.
Saat aku kembali membuka mata, aku mulai bergerak untuk berlari melewati sisa pertarungan yang tersaji di depanku, menabrak beberapa vampir dan segera menghampiri punggung seorang perempuan berambut pirang pucat. Tanpa ragu aku kembali mengubah wujudku menjadi manusia lalu menusukkan pasak itu dalam-dalam ke tempat jantungnya berada.
Dua jeritan tertahan segera terdengar nyaring di telingaku yang masih sensitif.
Whitney perlahan menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap tepat ke arahku, aliran darah sudah mengotori bagian bawah dada kirinya dan mulutnya yang memucat. Mulutnya tampak membuka seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat selagi darah terus menetes dari dadanya.
Dia tampak mengerjapkan matanya sekali lalu menoleh ke arah Hans yang berdiri di samping Emily. Matanya tampak melebar ketika melihat tangan Emily mengenggam erat tangan Hans.
"Kalian...."
Whitney tiba-tiba terbatuk sekali lalu meringis menahan sakit sebelum menyelesaikan ucapannya, bola matanya mulai terlihat memerah dan mengalirkan darah dari ujungnya.
Sebuah pasak lain telah tertembus ke lambungnya.
"Will...."
".... Maafkan aku."
Whitney menarik napas berdeguk untuk terakhir kalinya sebelum tumbang dalam tangan Will yang menyambutnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke Will lalu mendekat ke arahnya, wajah laki-laki itu terlihat sangat pucat dan darah masih terus merembes keluar dari sisi lehernya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Kami tidak akan bisa sampai di sini tanpa bantuanmu, Will."
Dia tersenyum lemah. "Tidak masalah."
"Apa kau-" aku tidak dapat melanjutkan ucapanku saat melihatnya.
__ADS_1
Dia menggeleng tanpa berkata apa-apa, tangannya bergerak perlahan di atas permukaan wajah Whitney yang masih tampak sama dengan keadaannya dulu walaupun darah masih menghiasi beberapa bagiannya, membelai helaian rambutnya selama beberapa saat lalu mulai memejamkan matanya.
Will tumbang menyusul tunangannya.