A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
1.17


__ADS_3

Allison melarikan ke empat kakinya memasuki hutan, melewati pohon-pohon yang daunnya sudah berguguran, merasakan angin menghempas lembut bulunya yang menebal akibat musim dingin yang akan datang. Selama sesaat dia bisa merasakan dirinya melupakan kesedihannya mengantar Emily pergi.


Pelan-pelan, Ally.


Suara tenang itu bergema dibenaknya yang kosong. Allison mendesah, berusaha untuk tidak peduli pada keberadaan Dave yang tiba-tiba saja terasa dekat dengannya dan tetap berlari dengan kecepatan yang sama. Jangan ganggu, Dave. Aku ingin sendirian.


Tidak bisa. Dave membalasnya kembali.


Aku memerintahkanmu untuk berhenti mengejar sebagai seorang Alpha sekarang.


Tidak ada tanggapan. Cewek itu menghela napas lega dan kembali fokus hanya pada ke empat kakinya yang tetap berlari diantara guguran daun.


Maaf.


Allison kembali mendengar suara tanpa nada Dave sebelum merasakan tubrukan yang cukup keras dari samping tubuhnya, membuatnya terguling bersama sesuatu itu hingga menabrak sebatang pohon dan mengeluarkan seluruh napas yang dihirupnya dengan keras.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Allison terengah mengambil napas, menatap wajah Dave yang tertelungkup diatas perut kemejanya dan merasakan campuran perasaan kaget, marah dan malu di dirinya saat ini. "Kenapa kau menghentikanku?"


"Ini tanggung jawabku sebagai mate-mu, Ally. Tidak membiarkanmu sendirian."


Dave mengangkat wajahnya setelah mengatakan kedua kalimat itu. Kedua mata hitamnya menatap Allison yang masih berbaring dengan tatapan tak terbaca yang dibalas cewek itu dengan tatapan yang sama-sebisa mungkin.


Cowok itu tidak mengatakan apapun lagi padanya, tidak ada kata-kata lembut atau apapun, dia hanya mengulurkan tangan pada cewek itu dan langsung menariknya pada pelukan. Hangat.


Aku tahu. Dave menyelutuk benak Allison yang sekarang terasa berkabut.

__ADS_1


Allison tersenyum kecil sambil memejamkan mata, menyurukkan wajahnya pada pundak Dave yang cukup bidang. "Aku konyol ya?"


"Tidak konyol," jawab Dave pelan. "Aku tahu kalau kau hanya takut Emily tidak kembali kesini."


"Apa maksudmu?"


Ibumu


Allison mengerjapkan matanya kaget, sedikit mengangkat wajahnya hingga bisa menatap balik cowok itu yang masih memeluknya. "Kau tahu dari mana?"


Tidak ada tanggapan. Dave hanya menunduk dan berusaha mengalihkan tatapannya dari wajah cewek itu yang terus menatapnya penasaran tanpa disembunyikan, bersinar-sinar meminta jawaban langsung.


Cowok itu mendesah pelan. "Aku melihatnya ... di kepalamu."


"Kau mengintip pikiranku?" Cewek itu terdengar kaget dan tidak percaya. Untuk sementara benaknya teralihkan dari penyebab kesedihannya.


Allison menundukkan wajahnya kembali ke pundak Dave, meredam suaranya pada kaos yang dikenakan cowok itu. "Aku tidak bisa merahasiakan apapun darimu ya?"


"Kurasa begitu."


"Tidak adil...."


Dave menariknya semakin mendekat. Dia dapat merasakan hembusan napas cowok itu di rambutnya yang mungkin sedang terurai berantakan, membayangkan sebuah senyum yang mungkin saja sedang terukir dibibirnya. "Kau begitu polos."


"Apa?"

__ADS_1


"Manis."


"Kau kenap-"


Sentuhan lembut di bibir sudah cukup untuk membuat Allison teralihkan sepenuhnya. Itu hal pertama yang bisa disadari oleh Dave saat pertama kali mengesahkan cewek itu sebagai mate-nya.


Perlahan tapi pasti, Allison membiarkan dirinya kembali rileks dalam pelukan Dave dan membalas ciuman cowok itu, bergerak sesuai gerak bibirnya yang begitu hati-hati-terhanyut sepenuhnya ke dalam sentuhan cowok itu yang sangat jarang terjadi.


Cewek itu membiarkan beban akan masa lalu dan kekhawatiran tidak masuk akal akibat kepergian Emily terlepas darinya. Dia tersadar kalau seharusnya dia yang paling mengetahui kondisi yang membuat keadaan akan dua kejadian itu akan begitu berbeda satu sama lain.


"Sudah lebih baik?"


Allison menundukkan kepalanya, berusaha mengumpulkan napas ke dalam paru-parunya yang terasa mengempis. "Kurasa ya."


Kedua tangan Dave terangkat untuk menjauhkan jarak di antara mereka dan membantu Allison berdiri. Tatapan matanya meneliti wajah cewek itu yang sedikit memerah di bagian tulang pipi dan menyebar hingga ke telinga, tidak sekalipun membalas tatapan Dave seperti biasanya. Apa dia sudah berlebihan melakukannya?


.... mungkin iya, tapi itu tidak penting sekarang. Dia melakukan ini untuk Allison dan segala hal yang mengganggu sisi positif cewek itu, dengan senang hati, akan dia singkirkan. Untuk Allison dan dirinya sendiri.


.


"Kalian pasangan yang istimewa," kata Chloe suatu hari saat Allison bertanya mengenai mate.


"Kenapa?"


"Kalau kau tidak lahir, Dave berhak mendapat posisi Alpha. Posisi keluarganya berada setelah keluargamu di kawanan ini."

__ADS_1


"Jadi dia juga darah murni?"


Chloe mengangguk. "Karena itu dia sempat tidak menerimamu seperti Malcolm, diam-diam," jawabnya tersenyum miring, "tapi aku yakin semuanya berubah setelah merasakan dirimu adalah mate-nya, Ally. Dia sudah terjatuh lebih dulu."


__ADS_2