A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.13


__ADS_3

Biasanya apa yang paling diinginkan seseorang setelah akhirnya bertemu mate yang paling dinantikannya? Jawabannya pasti diantara memeluk dengan erat atau langsung menggenggam tangan masing-masing, bisa juga lebih dari itu, karena ikatan mate selalu berhubungan dengan keinginan untuk berdekatan dengan pasangan jiwanya.


Tapi Grace tidak merasakan satu pun hal di atas kecuali rasa marah dan dikhianati. Mengetahui jika mate-nya sedekat ini hanya berarti satu hal. Mate-nya tidak menginginkannya sebesar dia menginginkan mereka untuk segera bertemu dan menjalin ikatan yang sewajarnya terjadi.


Grace mengepalkan tangannya dengan erat agar tidak langsung memukul Stefan. Walaupun dia sudah sangat siap untuk menanggung resikonya, bukan berarti Chloe akan melakukan hal yang sama. Grace tidak mungkin membuat perempuan itu terlibat masalah karena dirinya lagi.


Dia kemudian menghembuskan napas pelan dan tersenyum. "Halo, Stefan. Terima kasih karena sudah menyambut kami."


"Kami juga berterima kasih karena kamu sudah memberikan keringanan untuk pelanggaran kami." Chloe menyambung ucapannya dengan tenang, lega karena Grace tidak melakukan sesuatu yang buruk setelah dia melihatnya mengepalkan tangan. Biasanya kepalan tangan yang seperti itu berakhir menjadi perkelahian.


Stefan juga tidak menyangka hal itu mungkin, saat Grace tidak melakukan apa pun padanya, tapi ikut tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku harusnya berterima kasih karena kalian yang menawarkan diri untuk menerima hukuman dan membantu kelompok kami."


Lilian yang berada di sebelahnya tersenyum lebar dan mengangguk. Senang melihat keakraban yang langsung terjalin diantara mereka.


"Karena sudah tidak ada yang bisa kukatakan sekarang, aku akan pergi sehingga Lilian bisa mengantar kalian ke kamar." Stefan mengangguk ke arah adiknya sebelum menatap Grace dan Chloe. "Besok aku akan memperkenalkan kalian ke kawanan. Selamat beristirahat."


"Tentu. Sampai jumpa, Stefan."


"Sampai bertemu lagi." Grace memberi senyum terbaiknya hingga Stefan terlihat bergidik, tapi tetap membalas senyumnya.


Lilian langsung mengambil alih ketika kakaknya sudah berjalan ke arah hutan, tapi Grace masih menatap ke arah laki-laki itu. Stefan sepertinya menyadari tatapannya dan membuat gestur agar nanti dia menyusulnya setelah mereka selesai membereskan barang.


"Ayo, kak Grace."


"Iya."


Grace segera menyusul mereka tanpa menoleh ke arah laki-laki itu lagi.


.


"Ini kamar kalian. Ada kamar mandi dan dapur juga, bahan makanan akan dibagi secara merata setiap sebulan sekali, jadi kalau ada yang kurang bisa kalian tambahkan sendiri ya." Lilian menjelaskan saat kalian memasuki salah satu rumah kosong. "Semoga kalian bisa segera nyaman, anggap saja rumah sementara selama tiga bulan."


Grace menahan senyum. Bagaimanapun, rumah ini memang akan menjadi tempat peristirahatan mereka selama masa hukuman berlangsung, jadi dia dan Chloe tidak punya pilihan selain menyamankan diri. Meskipun rumah, atau kamar, yang diberikan Lilian sudah terlihat layak untuk ditempati.


"Apa hanya kami yang akan tinggal di rumah ini selama tiga bulan ke depan?"

__ADS_1


Lilian mengangguk. "Kami tidak punya anggota lain yang tinggal di sini. Anggota sebelumnya sudah lama meninggal, jadi kalian tidak perlu khawatir kalau ada yang tiba-tiba datang dan menanyakan alasan kalian di sini." Dia langsung menyambung ucapannya begitu melihat tatapan mereka. "Oh, bukan berarti akan ada yang menyusup masuk jika kalian sudah mengunci pintunya. Kami sangat menghargai privasi kok."


"Baiklah, terima kasih atas penjelasannya, Lilian. Kami akan membereskan barang-barang dulu."


"Sama-sama. Selamat beres-beres dan sampai bertemu besok ya!"


"Iya, sampai bertemu besok."


Grace dan Chloe langsung membongkar barang dan menatanya ke tempat masing-masing dengan tidak banyak bicara. Mereka sudah cukup lelah setelah melayani pelanggan restoran dan berjalan cukup jauh untuk sampai ke rumah ini.


"Sepertinya kita juga tidak boleh ketinggalan latihan di sini."


Grace mengangguk, menyetujui ucapannya. "Setiap pagi dan setelah kita kembali ke rumah ini. Untung saja dapur di rumah ini tidak punya meja atau kursi."


"Atau kita ke dalam hutan?" Chloe mengingat kelebatan hutan yang dimasuki Stefan sebelumnya. "Sepertinya akan ada cukup ruang untuk latihan di sana, walaupun kita harus meminta ijin padanya dulu."


"Kamu saja kalau begitu."


Chloe menghela napas lalu berbaring di atas kasurnya. Tasnya sudah terlipat rapi di dalam lemari, beserta dengan pakaian dan jimat mereka. Grace masih sibuk membereskan barangnya yang berantakan karena dimasukkan dengan asal.


"Aku tidur duluan. Kalau kamu sudah selesai, tolong matikan lampunya, Grace."


Chloe terdiam, sepertinya ingin bertanya mengenai tujuannya, tapi tidak melanjutkan karena sudah mengantuk. "Baiklah, hati-hati. Ingat, kita bukan berada di wilayah kawanan sendiri."


"Aku tahu. Selamat tidur, Chloe."


Perempuan itu menggumam panjang dan mulai terlelap. Grace masih mengatur barang-barangnya selama beberapa saat sebelum meraih kunci, mematikan lampu lalu berjalan keluar menuju hutan yang dimasuki Stefan.


.


Stefan terus menunggu di dalam hutan, menanti kematiannya–kemarahan Grace–dengan pasrah. Pandangan perempuan itu di awal pertemuan mereka sudah memberi peringatan yang cukup untuknya. Grace jelas ingin menghajarnya di tempat kalau saja tidak ada orang lain selain mereka.


Dia sudah berjalan masuk ke hutan cukup dalam sehingga tidak dekat dengan perumahan kawanan. Laki-laki itu sudah memastikan tidak ada orang lain yang berada di dekatnya sehingga pembicaraan di antara mereka aman. Kalau tidak, dia akan membatalkan pembicaraan mengenai masalah kawanan pada Grace.


"Belum cukup dengan menipuku, sekarang kamu juga berani membuatku capek?"

__ADS_1


Laki-laki itu langsung menoleh ke Grace dan tersenyum, menghapus jejak pikiran dari raut wajahnya. "Halo, Grace, kita bertemu lagi."


Grace terlihat kehabisan napas karena berjalan lebih cepat dari biasanya, tanpa berubah wujud. Sepertinya dia tidak ingin membangunkan kawanan dengan suara langkahnya jika langsung berlari atau memungut pakaiannya kembali jika berubah wujud. Tanpa sadar Stefan menatapnya dengan teliti, selama beberapa saat, hingga membuat perempuan itu menjadi risih.


"Berhenti menatapku seperti itu."


Stefan mengalihkan pandangannya sambil berdeham. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri. Aku senang ... karena akhirnya bisa berbicara denganmu."


Grace kembali mengepalkan tangannya. "Kalau begitu kenapa kamu menyembunyikan diri sebelumnya? Apa kamu sebelumnya tidak menginginkan keberadaanku?"


Laki-laki itu terdiam. "Itu benar, tapi lebih karena keegoisanku sendiri. Ini terjadi bukan karena kesalahanmu."


"Tentu saja bukan, aku bahkan tidak mengenalmu sebelum ini."


Mereka terdiam, berdiri berhadapan dengan jarak yang lumayan jauh. Stefan berusaha menahan dirinya agar tidak menghampiri Grace dan memeluknya seperti yang pernah dibayangkannya. Perempuan itu pasti tidak akan menyukai tindakan seperti itu.


"Jadi sudah berapa lama kamu mengetahuinya?"


"Dari awal transformasi, tapi aku menyadari keberadaanmu tiga tahun yang lalu. Kita sempat bertemu di pusat perbelanjaan."


"Aku tidak mengingatnya."


Stefan tersenyum. "Itu wajar, aku hanya melihatmu dari jauh tanpa sempat berpapasan denganmu—"


Ucapannya tiba-tiba terputus saat menyadari ada orang lain yang berada cukup dekat dari mereka, nyaris tidak menyentuh radarnya, tapi dia masih bisa merasakannya. Sepertinya pertemuan mereka harus diakhiri dengan lebih cepat.


"Ada apa?"


Stefan tidak menjawab pertanyaannya dan malah berjalan mendekatinya, Grace tidak sempat menjauh karena laki-laki itu meraih tangannya dan berbisik di telinganya. "Besok aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sore. Kita ke pusat perbelanjaan."


"Oke. Aku mengerti." Grace langsung menjawab tanpa bertanya, dia hanya menatap Stefan dengan lekat hingga laki-laki itu ingin menciumnya. "Aku tidak mau dicium."


"Aku tahu. Maaf." Stefan menatap Grace kembali dan meremas tangannya dengan lembut. "Terima kasih karena sudah mau mengerti, Grace."


"Aku belum memaafkanmu. Tepati janjimu dulu, kalau mau."

__ADS_1


"Tentu. Aku akan mengingatnya dengan baik."


Grace melepaskan jalinan tangan mereka dan berjalan kembali menuju rumah. Stefan menatap kepergian perempuan itu bersama satu sosok yang tidak diketahui.


__ADS_2