
Finn menatap Stefan dan Lilian bergantian. "Apa mereka yang menjadi penyebab masalah?"
Kakaknya terlihat sedang memikirkan sesuatu sehingga tidak mendengarkan pertanyaan laki-laki itu. Lilian akhirnya menjawab. "Tidak bisa dibilang seperti itu juga, tapi Kak Grace terlibat dalam dua masalah itu secara langsung. Untuk Chloe, aku belum pernah bertemu dengannya."
"Bukannya kamu bilang kalau kawanan itu datang berkelompok?"
Cewek itu mengangguk. "Iya, tapi saat itu aku hanya melihat mereka sekilas. Ian dan Tya yang kemungkinan tahu karena mereka melayani kawanan itu."
"Ha.... sayang sekali mereka tidak ada di sini, aku cukup penasaran dengan kawanan itu."
"Para aggota mereka masih muda kan? Seharusnya perwakilan dari kawanan itu ada yang bisa kita kenali dari namanya kalau seangkatan dengan kita."
"Benar, tujuh tahun itu belum lama."
Walaupun sangat jarang terjadi, beberapa kawanan dari setiap wilayah akan berkumpul di satu tempat untuk mencatat perkembangan jumlah anggota kawanan masing-masing, seperti sensus penduduk manusia, tapi dalam skala yang lebih kecil dan tujuan yang cukup berbeda. Dengan adanya pertemuan ini, antara satu kawanan dan lainnya bisa tetap terhubung meskipun terpisah oleh jarak.
"Apa kalian lupa?"
"Apa yang kami lupa?" tanya Finn menatap mate-nya dengan pandangan tidak mengerti, mewakili pertanyaan dari anggota yang berpikiran sama.
"Mereka sudah tidak ada."
Iris mengangguk mendengar ucapan Stefan. "Benar, kelompok mereka sempat berseteru dengan keluarga besar vampir. Tidak ada yang tahu apa yang persisnya terjadi, tapi beberapa anggota kelompok mereka terpencar dan tidak ada yang pernah mendengar kabar dari mereka lagi. Kecuali insiden yang dikatakan Lilian."
"Bahkan Alpha mereka?"
"Alpha mereka yang sekarang lebih muda dariku."
"Dia lebih tua setahun dariku."
Beberapa anggota mereka, termasuk Finn, menatap kedua bersaudara itu terpana. Alpha mereka adalah yang paling muda sejauh yang mereka tahu dan belum ada sejarah di mana kawanan lain dipimpin oleh Alpha yang masih berusia belasan tahun. Jika ada kawanan yang mengalami hal tersebut, berarti kawanan tersebut mengalami kejadian yang tidak biasa dan tidak tertolong.
Seperti mereka.
".... itu benar-benar kacau."
"Paling tidak keadaan kita tidak separah itu."
"Apa mereka baik-baik saja?"
"Bagaimana mereka bisa mengelola kelompok tanpa bantuan anggota senior?"
"Kurasa mereka tidak apa-apa." Lilian menghentikan gumaman dari para senior.
Stefan juga menyetujui ucapannya dalam diam. Sepertinya kakaknya juga sempat bertemu kawanan itu, entah kapan.
"Walaupun anggota mereka memiliki rentang umur yang tidak jauh berbeda dengan anggota junior, tapi kawanan mereka bisa saling mendukung dengan baik. Alpha mereka tidak terlalu kuat, tapi dia dapat bertahan dari aura kakak. Mereka semua juga terlihat terlatih dengan baik."
__ADS_1
Para anggota senior saling bertukar pandangan, beberapa terlihat meragukan ucapannya, tapi tidak berkata apapun lebih jauh. Adik Alpha mereka itu selalu jujur dalam menyatakan pendapatnya sehingga tidak ada yang bisa menyanggah meski usianya masih muda.
Finn bersiul rendah. "Jadi kau bilang mereka mengurus diri sendiri tanpa ada bantuan anggota senior? Hebat."
"Tetap saja mereka masih anak-anak." Iris mengerutkan keningnya. "Melawan vampir yang jauh lebih berpengalaman dan menjaga kawanan adalah hal yang berat."
"Benar, tapi pada akhirnya mereka bisa melewati kedua hal itu dan sampai di sini 'kan." ujar Lilian bersemangat, menoleh ke arah Stefan. "Kakak, kalau ada kak Grace dan temannya, mereka mungkin bisa membantu mengenai masalah kawanan kita. Dengan bantuan mereka, mungkin saja kita bisa menemui celah dan sudut pandang lain agar bisa menyelesaikan masalah kita sendiri.
"Kita juga masih sibuk mengumpulkan dana 'kan? Tidak ada waktu lagi untuk membicarakan hal ini bersama. Kalau pertemuan ini terjadi, kita hanya akan meminta sumbangan pikiran mengenai masalah kita dan tenaga mereka selama beberapa hari di restoran, bukan menyeret mereka secara langsung ke masalah kawanan kita."
Ekspresi wajah kakaknya, Finn dan Iris terlihat tidak menyetujui ucapannya, sedangkan beberapa anggota senior yang lain terlihat menganggukan kepalanya setuju.
"Apa tidak apa-apa? Kita bahkan tidak menolong mereka saat masalah kawanan itu."
Lilian menoleh ke arah Bram yang baru saja berbicara lalu meraih tangannya, tersenyum. "Tentu saja tidak apa-apa, Bram. Mereka ke sini untuk menebus kesalahan mereka dan kita tidak melakukan kesalahan apapun ketika tidak membantu mereka saat itu, kau sudah tahu kan? Kawanan lain dilarang untuk terlibat dengan masalah kawanan lainnya. Kita hanya meminta bantuan dari sudut pandang mereka mengenai masalah ini saja."
"Tapi-"
Salah satu anggota senior memotong ucapan Iris. "Mereka sudah remaja. Kamu masih saja bersikap seperti orangtua untuk anggota junior, di saat seperti ini, bahkan pada anggota kawanan lain. Sesuai dengan ucapan Lilian, ini adalah kesempatan yang bagus."
"Terima saja tawaran mereka, kita maupun mereka tidak akan mengalami kerugian apapun."
Anggota senior yang lain mengangguk menyetujui. Lilian menatap kakaknya yang masih diam dengan penuh harap.
"Jadi bagaimana, Stefan?"
Finn mengangguk, menatap mate-nya sekilas sebelum ikut berkata. "Aku dan Iris juga menolak."
".... aku juga." Bram mengeratkan genggaman tangannya.
Lilian tidak melakukan apapun untuk melepasnya. Dia tidak menyalahkan Bram maupun pasangan mate yang paling disayanginya itu atas pendapat mereka yang berbeda.
Para anggota senior lain terlihat tidak senang, tapi karena kakaknya masih memegang kendali penuh, mereka tidak jadi mengutarakan pendapat mereka dengan bebas. Sebagai Alpha, kakaknya yang selalu lembut itu memang tidak pernah bisa ditentang oleh para anggota senior di kawanannya.
"Kakak."
"Lilian."
Dia menatap kakaknya dengan pandangan memelas. Di sisi lain, Stefan menolak tatapannya dan menghela napas, beralih menatap ke arah anggota lain yang ada di ruangan selain dirinya. "Aku tahu sebagian besar dari kalian menyetujui pertemuan ini, karena itu, kita akan membicarakan hal ini seminggu lagi setelah kita memikirkan semuanya lagi. Sekarang ayo kita pulang."
.
"Kakak."
Stefan menyerahkan kunci restoran padanya tanpa mengatakan apapun, tapi membiarkannya mengalungkan lengannya pada lengan kakaknya itu. Mereka berjalan dalam diam menuju rumah. Bram dan yang lainnya sudah berangkat lebih dulu.
"Akhir-akhir ini kakak selalu ragu-ragu."
__ADS_1
"Kenapa? Kamu mau aku menolak pertemuan itu tanpa diskusi ulang?"
Lilian mencubit Stefan hingga cowok itu mengaduh dan terkekeh melihat wajahnya yang cemberut.
"Bukan itu maksudku."
"Terus?"
"Kak Grace."
Tidak ada reaksi dari cowok itu. Lilian sedikit berharap kakaknya menunjukkan setitik sikap salah tingkah, tapi mereka masih berjalan seperti biasa seakan ucapannya tidak berarti apapun.
"Ada apa dengan anggota kawanan itu?"
Lilian menatap kakaknya selama beberapa saat. "Kak Grace itu mate kakak 'kan?"
Stefan menghentikan langkahnya sehingga mereka berdua terdiam di tempat. Wajah kakaknya terlihat sangat terkejut saat menatapnya. "Bagaimana-"
"Kakak terlalu baik, terutama setelah kak Grace muncul. Kakak yang kukenal selalu menaati peraturan dan sangat tegas, tidak ada kelonggaran bagi semua orang kecuali ke orang yang kakak sayang, kayak ke aku. Akhir-akhir ini, aku merasa perlakuan kakak ke kak Grace dan kawanan itu hampir mirip dengan apa yang kakak lakukan buatku. Kalau bukan karena itu, mereka pasti sudah kita seret ke sini kan?"
Kakaknya menghela napas, ucapannya benar. Tentu saja cowok itu tidak akan memberi ampun pada kawanan itu meski mengetahui keadaan mereka setelah perseteruan dengan keluarga vampir itu. Jika bukan karena keberadaan mate-nya, keadaan saat ini akan jauh berbeda.
"Aku tidak ingin dia terlibat."
"Tapi mereka sudah melanggar. Tidak ada larangan soal meminta bantuan kawanan lain sebagai bayaran dari kesalahan mereka dan, kebetulan, mereka juga ingin menebus kejadian itu. Bukannya sebaiknya kita manfaatkan untuk kebaikan kawanan. Kita untung, mereka juga tidak rugi."
"Lilian...."
Cewek itu mengalihkan pandangan dari Stefan. "Aku hanya ingin kawanan kita kembali seperti semula, kak. Tidak ada ketakutan dan kita bisa beraktivitas biasa seperti dua tahun yang lalu.... Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi."
Stefan terdiam. Walaupun ucapan adiknya ada benarnya, tapi dia masih merasa kalau melibatkan pihak lain dalam masalah mereka adalah hal yang salah, terutama ketika matenya terlibat. Dia bahkan sengaja menyegel insting mate-nya tanpa membiarkan Grace bisa mengetahui keberadaannya. Kalau dia tiba-tiba membawanya ke dalam masalah ini juga, maka dia benar-benar tidak tahu diri.
"Kak, kita lakukan ya? Pertemuan itu."
Stefan menatap adiknya yang terlihat sangat sedih. Dia tidak tega. Bagaimanapun, Lilian dan kawanannya jauh lebih penting baginya sekarang, dia tidak bisa menghindar lagi. "Baiklah, ayo kita lakukan."
Lilian segera memeluk kakaknya. "Terima kasih kak."
Stefan membalas pelukannya. "Kalau mereka tidak berguna dan malah membuat masalah, kita akan langsung membatalkan ini."
"Iya."
.
[Halo, aku balik lagi. Maaf ya butuh waktu lama untuk update.... untuk selanjutnya update bakal balik ke tiap minggu atau paling cepet tiga hari. Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak!]
[edit: kalau aku bikin janji kapan update, jangan percaya ya haha]
__ADS_1