A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
1.12


__ADS_3

Aku berjalan mengikuti Emily yang berada di depanku, melewati banyak pepohonan dalam gelapnya malam. Bulan separuh terlihat bersinar temaram di antara rimbunnya pepohonan yang berada di sekitar kami.


Aku menggerakkan tanganku beberapa kali untuk menyingkirkan ranting pohon yang menjulur keluar dan sempat menggores samar lenganku yang tidak tertutup kemeja pinjaman Chloe. Emily yang berada di depanku masih tetap berjalan dengan mantap tanpa memedulikan ranting-ranting yang terus menggoresnya.


"Em, sebenarnya kita mau ke mana?" tanyaku akhirnya setelah beberapa lama.


Sedari tadi Emily terlihat sama sekali tidak peduli dengan rasa penasaran yang menggerogotiku dan tidak memberiku petunjuk sama sekali ke mana tujuan kami sebenarnya.


"Sabarlah, Ally," ucapnya tanpa menatapku. "Sebentar lagi kita sampai."


Aku mendesah pelan, mau tidak mau terus mengikutinya berjalan semakin dalam memasuki hutan. Sambil berjalan, aku memperhatikan sekelilingku dengan dahi mengerut, entah kenapa terasa hawa aneh yang meliputi hutan ini dan kabut samar yang mengambang di antara kami. Aku mengangkat salah satu tanganku untuk merabanya tapi tidak merasakan apapun selain udara kosong.


Emily masih terus berjalan di depanku hingga akhirnya dia menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahku.


"Maaf, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, Ally," ucapnya terdengar menyesal. "Nanti akan ada orang lain yang akan menunggumu di persimpangan jalan."


"Siapa?" tanyaku mengerutkan kening bingung.


"Nanti kamu akan tahu. Ikuti saja jalannya, ya?"


Aku terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk. Emily menepuk bahuku memberi semangat sebelum akhirnya membiarkanku melangkahkan kaki mengikuti jalan yang sepertinya sudah lama terbentuk di bawahku.


Selama beberapa saat aku terus melangkah mengikuti jalan tersebut, melihat sekeliling untuk mencari tanda-tanda orang lain dan mendengarkan suara kresakan di antara beberapa semak yang bergoyang akibat hewan kecil yang lewat di sekitarku.


Aku menghentikan langkahku ketika menemukan sesosok cowok yang sedang bersandar di salah satu pohon, tangannya terlipat di dada dan kepalanya terkulai membelakangiku sehingga aku tidak bisa langsung melihat wajahnya. Secara perlahan aku kembali berjalan untuk mendekat pada sosok itu, berhenti setelah cukup dekat dengannya dan bisa melihat wajahnya sejelas mungkin.


Dave. Matanya tertutup rapat dan aku bisa melihat bahunya bergerak samar seiring dengan napasnya yang berhembus. Dia tertidur.


Aku terdiam selama beberapa saat untuk memperhatikan wajahnya yang tampak damai akibat tertidur pulas, tidak ada kesan dingin dan kaku yang sempat kutangkap saat dia berhadapan dengan Will dan aku, maupun kesan canggung saat kami mengobrol sebelumnya. Matanya dinaungi sepasang alis cukup tebal, sepasang bibir tipis yang terkatup dan wajah yang cukup mulus dengan bulu-bulu samar disekitar dagunya.


"Kamu baru saja sampai?"


Aku membeku kaget ketika kata-kata tersebut tiba-tiba keluar dari mulutnya meskipun dia masih belum membuka matanya yang bergerak-gerak samar dari balik kelopak matanya.


"Iya, apa kamu sudah menunggu lama?" tanyaku segera mundur beberapa langkah dari dirinya.


Dave akhirnya membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke arahku sekilas sebelum mengarahkannya kembali ke depan. "Tidak lama. Ayo, kita berangkat."


"Kita mau ke mana?" tanyaku sambil mengikutinya berjalan.


"Chloe menyuruhku untuk menemanimu ke tempat penting yang belum sempat kamu kunjungi."


"Tempat apa?"

__ADS_1


Dia melirikku sekilas dengan jeda yang lebih lama, merasa ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya mengatakannya juga. "Rumah orangtuamu."


"Rumah ... orangtuaku?" tanyaku kehilangan kata-kata.


"Ya," balasnya. "Tempat kita sebelumnya berkumpul bersama sebelum berpindah-pindah."


"Untuk apa?" tanyaku sambil meremas ujung kemejaku. "Bukannya kalian bilang kalau seluruh rumah anggota kelompok kita sudah dihancurkan?"


Dave menggeleng. "Rumah orangtuamu satu-satunya yang selamat dari kehancuran tersebut."


Aku mengerutkan keningku, ucapannya tidak sesuai dengan apa yang mereka ceritakan pada saat kami berkumpul pertama kali. "Kenapa kalian berbohong?"


"Berjaga-jaga," ujarnya. "Rahasia itu memang selalu terkunci rapat untuk setiap anggota kelompok kita yang tersisa, orang luar tidak boleh mengetahuinya."


"Will?"


Dave mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi.


Aku terus berjalan mengikutinya hingga tiba di sebelah rumah yang terlihat hampir sama dengan markas kawanan kami. Dave merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci lalu memutar kenop pintu yang sudah terbuka.


Ruangan penuh debu segera menyambut kedatangan kami, aku terbatuk beberapa kali untuk melepaskan serpihan debu yang tidak sengaja terhirup dan mengusapnya dengan tanganku.


"Pakai ini," ucap Dave mengulurkan sapu tangan padaku, salah satu tangannya terlihat menutup hidungnya dengan sapu tangan lain pada saat itu.


Dave menggeleng. "Tetua selalu melarang kami ke sini. Hanya pemilik dari rumah ini yang boleh masuk, kami hanya boleh mengetahui denah rumahnya melalui catatan yang ditinggalkan mereka.


"Begitu...."


"Maaf kami tidak bisa merawat rumah ini untukmu."


Aku menatapnya terkejut, hanya dapat melihat belakang kepalanya karena dia tidak menoleh, tapi dapat mendengar perasaan bersalahnya. "Bukan salahmu, aku hanya bertanya."


Dave tidak menjawab dan hanya kembali menuntunku menuju lantai atas, menghampiri pintu kamar pertama yang kami lihat dari tangga. Dia kembali membuka pintu dan melangkah minggir untuk memberiku jalan terlebih dulu.


"Kamar orangtuamu."


Aku menganggukkan kepalaku mengerti lalu berjalan memasuki kamar. Secara otomatis mataku memperhatikan sekeliling kamar dan berhenti pada sebuah pigura dalam posisi menelungkup.


Aku berjalan mendekati pigura tersebut lalu membaliknya, mengusap tanganku pada permukaannya dalam sekali sapuan untuk melihat foto di dalamnya. Foto sepasang suami-istri yang berdiri berdampingan dengan seorang anak kecil di gendongan, baju mereka sama dengan foto yang ada dalam kalungku.


Aku merasakan Dave mendekat ke arahku dan berdiri di sebelahku, pandangannya ikut memperhatikan pigura yang berada dalam genggamanku tanpa berkata apa-apa. Aku mengusap perlahan foto itu selama beberapa saat sebelum akhirnya meletakkannya kembali dan mengalihkan pandangan. Aku tidak boleh menangis di sini.


"Jadi, apa tujuan kita?" tanyaku menatapnya.

__ADS_1


Dia mengangkat bahunya. "Aku hanya disuruh untuk mengantarmu."


Aku memandangnya tidak percaya.


"Aku tidak bohong."


Aku terdiam. "Tidak ada hal yang harus kita lakukan di sini?"


"Tidak ada."


Aku menggelengkan kepalaku lalu mulai berjalan keluar dari kamar orangtuaku. Bagaimanapun keadaan rumah ini sekarang, pasti ada sesuatu yang bisa kudapatkan dari sini. Pandanganku menyusuri lorong lantai dua dan memperhatikan dua kamar lain yang terletak beberapa langkah dari kamar orangtuaku.


Pintu pertama terlihat seperti kamar anak-anak. Aku membukanya, dan benar saja, terdapat tempat tidur bayi dan mainan gantung, sebuah box mainan dan lemari pakaian juga stroller untuk bayi di dalamnya. Berbagai kenangan yang sangat samar terlintas di benakku, tapi aku berusaha mengabaikannya. Aku segera menutup pintunya kembali dan berjalan ke kamar selanjutnya.


Aku membuka pintu kamar kedua dan melangkah masuk, melihat meja yang cukup besar di tengah-tengah kamar, lemari dengan beberapa buku dan berkas-berkas yang terlihat melapuk dan kursi putar model lama. Aku mendekat ke arah meja lalu segera membuka lacinya dan mulai membongkar.


Terdapat beberapa map coklat berdebu yang cukup tebal dengan tali yang mengikat menjadi satu, kertas-kertas yang sudah menguning dan beberapa kotak kecil yang terletak di tumpukan paling atas di sana. Aku merogoh kantong celanaku untuk mengambil sapu tangan lalu menyapukannya pada benda-benda itu untuk menghilangkan debu yang menempel.


Mataku segera bersiborok dengan tulisan tangan yang tampak seperti ukiran di atas map coklat tadi dan kemudian menengok halaman sebaliknya untuk menemukan tulisan-tulisan lain yang menyatakan segala informasi yang mungkin saja kami butuhkan.


"Dave, coba lihat ini," ucapku tanpa menoleh ke arahnya. "Aku menemukan sesuatu."


Dalam diam Dave segera melangkahkan kakinya mendekat dan bertopang pada meja untuk ikut memperhatikan isi map coklat yang mulai berserakan keluar. Dia ikut memilah-milah kertas bersamaku dan membaca sekilas tulisan yang berada disana.


[.... Tertanda, Thomas Graymark.]


Itu adalah kalimat terakhir dari lembaran tersisa yang berasal dari map coklat tersebut. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum senang ketika menatap Dave.


"Bagaimana menurutmu?" tanyaku pelan padanya.


"Bagus...." ucapnya perlahan menoleh ke arahku dengan mata berkilat samar. "Ini bagus sekali, kita harus membawanya ke rumah."


"Semuanya?" tanyaku menatap sebaran kertas di atas meja.


Dave menggeleng. "Tidak, kita bawa beberapa yang bisa kita bawa saja."


"Baiklah."


Dia tampak terdiam selama beberapa saat untuk menatap kumpulan kertas tersebut lalu kembali memilah-milah kertas dan mulai membaginya menjadi dua kelompok: satu ke dalam map coklat dan satu lagi ke seutas tali untuk menyatukan kertas-kertas yang akan mereka bawa. Beberapa lembar kertas menguning dan kotak-kotak kecil juga turut ambil bagian dalam pemilihannya.


Setelah selesai aku memasukkan map coklat ke dalam laci dan membereskan sisa barang-barang ke tempat semula. Dave tampak sibuk mengikat lembaran kertas yang terpilih lalu menyerahkannya kepadaku.


"Sudah, ayo kembali."

__ADS_1


Aku mengangguk setuju lalu mengikutinya keluar rumah orangtuaku.


__ADS_2