A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.6


__ADS_3

Seperti dugaan Sean, tamu restoran mereka akhirnya berkurang setelah tiga hari acara pembukaan kemarin. Tidak ada antrian yang harus mereka layani tanpa bisa beristirahat. Para staf dapur pun akhirnya bisa bergantian dalam mengurus pesanan dan sedikit bersantai.


"Kami akan kembali setelah makan siang."


Lilian mengangguk. "Oke!"


Dia menatap beberapa staf yang, untuk sementara, berjalan kembali ke wilayah rumah kawanan mereka dan membawa bahan makanan yang dianggap melebihi stok yang dibutuhkan hari ini. Lilian dan Sean berpikir jika lebih baik mereka akan memulai sistem shift pagi dan siang untuk membagi jam kerja seluruh staf dan memangkas jumlah bahan makanan dengan memperhitungkan tamu yang akan datang hingga sore hari.


Mereka berdua memutuskan hal ini supaya tenaga mereka tidak terkuras seperti acara pembukaan kemarin. Jam kerja mereka sebelumnya terlalu padat hingga Sean dan Lilian tidak sempat memutuskan hal ini lebih cepat. Kalaupun ada waktu, mereka lebih memilih untuk beristirahat selagi bisa.


Suara pintu yang tiba-tiba menjeblak terbuka di ruang staf membuat Lilian menoleh.


"Kakak?"


Kakaknya itu tidak terlihat menyadari panggilannya. Pandangan matanya tertuju pada Ryan yang terlihat gugup dan tidak sanggup membalas tatapannya.


"Ryan, boleh pinjam bajumu?"


Cowok yang paling jangkung diantara mereka itu terlihat terkejut. "Maaf?" Dia sepertinya salah dengar.


"Bajumu saat ke sini." Nadanya terdengar tergesa-gesa. "Tolong berikan padaku."


"B-baik."


Ryan segera membuka lemari gantungan dan menyerahkan bajunya pada Stefan.


"Terima kasih."


Kakaknya segera pergi setelah mengucapkan hal itu.


Mereka semua bertatapan, saling menanyakan apa yang barusan terjadi dalam diam. Ini pertama kalinya mereka melihat kakak dan pemimpin mereka yang selalu terlihat tenang itu panik.


"Sepertinya ada yang terjadi." Ryan yang pertama kali membuka suara.


"Haruskah kita mengikutinya?"


"Kurasa bukan hal yang penting." Staf yang menggantikan Zee langsung kembali berbicara. "Stefan selalu meminta tolong jika merasa perlu, kalian juga tahu itu kan? Terlebih kalau itu memang hal penting, kita tidak akan terlibat dalam hal ini."


Biasanya anggota yang lebih senior yang akan membereskan hal itu bersama kakaknya. Anggota dalam kelompok usia seperti mereka tidak pernah dilibatkan.


"Berarti kita harus mengikutinya dulu." Mia menyambung percakapan. "Kalau memang penting, kita akan menyampaikan ke anggota yang lain untuk membantu Stefan."


"Setuju."


Lilian mendengarkan pembicaraan mereka sambil melayani tamu yang baru saja datang. Dia juga ingin ikut, tapi kakaknya dan para senior sudah memberikan tanggung jawab restoran padanya, dia harus bertahan di sini.


"Kalau begitu Sean dan Ryan yang akan pergi. Aku yang akan-"


Pintu ruang staf kembali terbuka. Lilian mendengar suara terkejut dari staf dapur, keheningan setelah itu membuatnya menoleh dan segera melihat kakaknya kembali dengan menggendong seorang cewek di punggungnya. Sosok itu terlihat menggunakan kaus Ryan dan jaket Stefan terikat di pinggulnya.

__ADS_1


"Siapa itu?"


"Apa dia tidak apa-apa?"


Para staf dapur terlihat penasaran dengan sosok itu. Kakaknya tidak sekalipun memberi perhatian pada pertanyaan mereka dan hanya membawa sosok itu memasuki bilik istirahat mereka.


Lilian segera menyusul kakaknya setelah melihat tatapan yang sempat terarah padanya. Cowok itu terlihat ingin menyampaikan sesuatu padanya. Saat tiba di sampingnya, kakaknya sedang membaringkan sosok itu dengan hati-hati di sofa, rambutnya yang tersibak menunjukkan wajahnya dengan cukup jelas.


"Kak Grace?" Cewek itu terlihat terkejut.


Kakaknya terlihat sama terkejutnya. Kamu mengenalnya?"


"Dia yang pertama kali mencoba sampel buatanku. Dia juga datang bersama kawanan itu kemarin...."


"Begitu rupanya."


"Apa yang terjadi padanya?"


Kakaknya menggeleng. "Dia kelelahan, entah karena apa. Apa kamu tahu kontak kawanannya?"


Lilian mengangguk. "Seseorang dari kawanannya memesan makan siang dari kita, kurasa namanya Theo, aku akan menyampaikan hal ini padanya."


"Baiklah. Katakan padanya untuk segera datang dan ingatkan dia tentang larangan yang kita bahas kemarin."


"Iya kak."


Stefan menatap sosok itu selama beberapa saat lalu menepuk pundaknya. "Aku duluan."


Cowok itu terlihat berdiam sebelum tersenyum dan melanjutkan langkahnya lagi. "Tidak perlu. Ada yang harus kulakukan."


"Oke, hati-hati kak!" Lilian membalas senyumnya.


.


Kenapa baru sekarang?


Stefan merasa napasnya terengah karena melawan instingnya untuk bersama mate-nya.


Grace....


Sudah tiga tahun berlalu setelah dia berhasil menutup akses insting matingnya agar tidak mengganggu aktivitas, tapi dengan dihadapkan langsung seperti ini, cowok itu hampir tidak bisa melakukan apapun untuk mengendalikannya. Rasanya dia hampir gila.


Tapi, tidak boleh. Dia harus menahannya.


Dengan situasinya yang masih belum stabil, bagaimanapun caranya, dia tidak akan menemui mate-nya lagi. Terlalu berbahaya. Terlebih dengan keadaan orang itu yang semakin membaik bersama orang-orang yang ada di sisinya.


Stefan sama sekali tidak boleh lengah, sekalipun dia dan anggota lain sudah mengeluarkan usaha terbaik untuk mencegah hal yang buruk terhadap kawanannya. Masalah mengenai mate adalah masalah kesekian yang sama sekali tidak penting jika dibandingkan ketentraman kawanannya untuk seterusnya.


Selain itu, dia masih harus melindungi Lilian yang menjadi tanggung jawab utamanya. Cowok itu bahkan tidak punya waktu yang cukup untuk bersama adiknya, jika mate-nya terlibat, dia tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya tidak akan cukup untuk melindungi mereka.

__ADS_1


Jika saja orang itu tidak ada, Stefan tidak akan menutup insting itu dan menerima takdirnya seperti yang dilakukan anggota lain di kawanannya.


Dia mendengus tertawa, merasa mulai menggila. Cowok itu dapat mengingat wajah matenya dengan jelas dan hembusan napasnya yang terasa hangat ketika berada sangat dekat dengan wajahnya.


Cantik sekali.


.


Grace terbangun, harum masakan lezat yang tidak asing langsung tercium di ruangannya berada. Entah di mana dia sekarang, cewek itu tidak tahu, dia hanya merasa lapar akibat harum makanan yang menggiurkan.


Dia menatap tubuhnya yang hanya terbalut kaus yang tidak dikenalnya dan jaket yang menahan bagian bawah kausnya. Sepertinya dia pingsan setelah berlari sesuai instingnya dan menghabiskan energinya yang tidak seprima dulu. Cewek itu terlalu sibuk dengan pendekatannya pada Hans.


"Kamu sudah bangun?"


Cewek itu menoleh ke arah suara yang didengarnya. "Kamu...."


"Kita bertemu lagi, kak." Lilian tersenyum padanya, menyodorkan minuman ke arahnya. "Apa kamu sudah tidak apa-apa."


Dia menerima minuman itu. "Aku tidak yakin. Apa yang terjadi padaku?"


"Kamu tidak ingat?"


Grace terdiam, meneguk cokelat panas yang digenggamnya. "Aku berlari ... ke restoranmu?"


Cewek itu dapat mengingat dirinya yang terus berlari dalam wujud serigala dari rumah kawanan, berbicara dengan dirinya sendiri mengenai mate-nya yang tidak kunjung dirasakannya dan perasaan damai saat dia tidak sadarkan diri. Grace tidak yakin apa yang terjadi setelah itu.


".... apa kamu punya masalah dengan kawananmu?" Raut wajah Lilian terlihat mengkhawatirkannya. "Kalau aku tidak salah ingat, tempat tinggalmu lumayan jauh dari sini kan?"


"Bukan karena kawananku." Grace langsung tertawa, menutupi salah tingkahnya. Dia tidak mungkin mengatakan kalau penyebabnya berlari sejauh ini karena mate sialan itu kan? Harga dirinya akan terluka meskipun mereka baru bertemu beberapa kali. "Bukan apa-apa, kebetulan saja aku berlari hingga sampai ke sini."


Cewek itu menatapnya selama beberapa saat. "Kuharap kamu tidak lupa dengan larangan yang sempat kita bicarakan, ini sudah kedua kalinya untukmu."


Sialan. Dia lupa.


"Maafkan aku." Dia tidak sanggup menatap cewek yang berada di hadapannya, merasa bersalah. "Ini murni kesalahanku, tolong jangan libatkan kawanan kami dalam hal ini."


"Benar." Lilian menghela napas. "Anggap saja aku tidak pernah mendengar alasanmu hingga bisa berakhir di sini. Kakakku pasti akan berubah pikiran jika tahu mengenai hal ini."


"Terima kasih."


Lilian mengangguk. "Aku sudah menghubungi kawananmu, Theo bilang Dave akan menjemputmu."


Grace menatapnya terkejut. "Kamu punya kontak anggota kawanan kami?"


"Dia memesan makan siang pagi tadi. Cowok itu bilang kalau dia sangat menyukai menu restoran ini hingga rela memesannya dari tempat yang cukup jauh dari sini." Cewek itu tersenyum. "Tenang saja, aku tidak akan mengambil biaya antar karena kamu ada di sini untuk dijemput."


Perasaan Grace terasa campur aduk, wajahnya terasa sedikit panas setelah mendengar ucapan cewek itu. "Begitu rupanya." Rasanya dia ingin segera pergi dari sini karena malu.


"Aku duluan ya, kak."

__ADS_1


Cewek itu mengangguk tanpa membalas ucapan Lilian.


Setelah ini dia pasti akan habis di tangan adiknya dan Chloe.


__ADS_2