
Butuh waktu yang sangat lama hingga Emily dapat tersadar. Ruangan tempatnya tidur terlihat sangat rapi, cahaya merembes masuk melewati tirai jendela yang sedikit terbuka dan sebuah minuman-air putih-tersedia di meja kecil, di sebelah kepala tempat tidurnya.
Cewek itu sebenarnya sedikit berharap jika dia disekap di tempat yang lebih tidak terawat dan tampak menjijikkan. Entahlah. Walaupun dia jadi lebih mirip dengan Allison karena seringnya jatuh pingsan dan kemudian sadar di tempat yang berbeda.
Yah, dia hanya berharap akan ada alasan untuknya melawan vampir yang sudah menyekapnya di sini.
Suara ketukan pintu terdengar dan sesosok anak laki-laki berjalan di sampingnya dengan membawa nampan berisikan makanan yang tampak lezat.
Anak laki-laki itu menatapnya selama beberapa saat, sebelum menyodorkan nampan makanan itu ke arahnya. "Kakakku menyuruhmu untuk menghabiskan semua ini dan ke lantai bawah untuk mengobrol dengannya."
"Siapa kau?"
"Aku adik Alex," jawab anak laki-laki itu menghela napas. "Aku tidak mengerti kenapa selera kak Alex terhadap perempuan menjadi sejatuh ini."
Emily tanpa sadar menyentil dahi anak laki-laki itu dan mengibaskan tangannya sekali. "Pergilah kalau begitu, maaf sudah mengganggu pemandangan."
"Tanpa kau suruh pun aku akan keluar kok," ketus adik Alex sambil memeletkan lidahnya.
Emily menyeringai dan menerima bantingan pintu sebagai balasan. "Ck."
Dia mengambil air putih dan segera meneguknya hingga setengah gelas, mencicipi kuah supnya yang terasa ringan dan hangat dan kemudian memakan setangkup roti dengan telur mata sapi serta bacon yang tampak menggiurkan.
Dalam beberapa menit, nampan itu sudah kosong dan nyaris mengkilat.
Emily bangun dari tempat tidurnya dan meletakkan gelas di atas nampan kosong, bimbang antara mengantarkannya ke bawah atau membiarkannya berada di meja kecil.
"Biar aku yang bawa." Suara anak laki-laki itu kembali terdengar.
"Kau-?"
Anak laki-laki itu memotong ucapannya. "Pintu di rumah ini dibuat tanpa derit, dan kau sendiri sedang fokus dengan hal yang tidak penting. Jadi kau tidak dapat mendengarku masuk."
Emily terdiam dan akhirnya menyerahkan nampan itu pada adik Alex yang ternyata lebih pendek dibanding dirinya ketika berdiri bersebelahan. "Terima kasih."
Dia tidak mengubris dan segera berjalan ke luar kamar. "Ayo turun, kakakku sudah menunggu."
Emily mengikuti langkah kaki anak laki-laki itu dengan sedikit terburu-buru, tanpa diduganya, jalannya sangat cepat dan tampak cuek dengan nampan yang terus bergetar di atas kedua telapak tangannya.
"Kakakku ada di kamar itu," tunjuknya dengan tolehan kepala. "Kuharap kalian tidak terlalu berisik saat di dalam."
"Apa maksudmu?"
Anak laki-laki itu memutar bola matanya dan tanpa berkata apa-apa meninggalkannya sendiri.
Dia akhirnya mengangkat bahu, memutuskan untuk tidak peduli dan melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditunjuk.
"Masuk," ucap suara yang terdengar di balik pintu. Dia bahkan belum meraih kenop pintunya. "Sudah kenyang, Em?"
__ADS_1
Alex tersenyum dan menepuk tempat kosong yang berada di sebelahnya.
"Sudah, terima kasih atas hidanganmu yang lezat."
Dia nyengir. "Adikku yang membuatnya.
"Woah." Emily harus mengakui kalau adik Alex memang terlihat seperti tipe cowok yang bisa memasak.
Alex mengangguk. "Dia sangat terampil dalam hal itu dibanding ibu kami."
Cewek itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Jadi," ujar Emily menelengkan kepalanya, "kenapa kau repot-repot menyekapku di tempat ini, tapi memperlakukanku dengan sangat baik?"
Cowok itu mengangkat slisnya dan menatap Emily dengan pandangan heran. "Memang aku harus menyiksamu supaya bisa dibawa ke sini?"
"Kau memukulku di ulu hati."
"Ah, benar juga." Alex meringis pelan sambil nyengir. "Tapi tidak ada masalah apapun setelah aku memukulmu kan?"
Emily terdiam, merasa bimbang dengan pilihan menonjok cowok itu-yang menunjukkan tanda-tanda ingin mengulur waktu-atau tetap mendengarkan ocehannya sampai selesai. Entah kenapa pilihan pertama terlihat menyenangkan untuk dilakukan.
"Baiklah, baiklah." Cowok itu akhirnya berucap. "Bagaimana cara menjelaskannya ya?"
"Aku suka padamu?" lanjutnya dengan nada bertanya.
Emily segera mengerahkan kepalan tangan pada wajah cowok vampir itu-yang pada akhirnya-dapat dihentikan dengan mudah.
"Maaf-maaf, sungguh." Dia mengucapkannya sambil menghentikan kekehannya. "Aku sangat bingung menjelaskan ini padamu."
"Aku mengenal vampir posesif yang kau cari itu," ujarnya akhirnya. "Kau bahkan dapat mengenalinya juga jika dia tidak menyembunyikan identitasnya selama ini."
Emily membuka mulutnya untuk bertanya-yang langsung dihentikan dengan isyarat jari dari cowok itu.
"Cowok manusia itu juga baik-baik saja, kalau kau ingin tahu," ujarnya. "Berada bersama cewek vampir posesif itu tentunya, tapi bagiku keadaan itu jauh lebih dari pada dengan bersamamu dan mengambil resiko untuk dikejar olehnya sampai membahayakan kaummu sendiri."
"Kenapa kau memberitahuku ini?"
Alex merapikan rambutnya dengan tangan. "Yah ... ada banyak alasan, tapi selain itu, aku punya banyak informasi lain mengenai dia jika kau mau membantuku"
"Apa yang kau inginkan?"
"Bantu aku supaya bisa menemui Amanda
~°~
Amanda baru saja selesai mandi ketika tanpa permisi kedua sosok berbeda jenis menyusup ke dalam kamarnya dan membuatnya nyaris terlonjak.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" tanyanya dengan wajah datar yang nyaris menakutkan.
__ADS_1
Alex tidak mengatakan apapun kecuali memberikan senyum lebar yang mungkin menjadi trademark-nya. Emily yang berada di sampingnya malah menghela napas dan mengatakan alasan mereka berdua kemari.
"Dia ingin bertemu denganmu, penting."
Cewek vampir itu menatap Alex selama beberapa saat dan kemudian melangkah ke balik mereka untuk menutup pintu lalu berbalik untuk melangkah ke dekat jendela untuk menutup tirainya hingga tersisa sedikit celah. "Kalian tahu kan seberapa berbahayanya jika kita terlihat di sini bersama-sama dan tampak mencurigakan?" ujarnya pelan dan menatap Alex tajam. "Terutama kau."
"Maaf." Alex terkekeh pelan sebagai tambahan.
Amanda mengerutkan keningnya dan mengarahkan pandangannya pada Emily. "Duduklah, Em," ujarnya menunjuk tempat kosong di tempat tidurnya.
"Kau, tetap berdiri di dekat dinding." Jarinya menunjuk cowok vampir itu yang mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang tertangkap basah. "Apa maumu sekarang?"
Senyum Alex mengecil menjadi sebuah simpulan biasa. "Aku sangat merindukanmu."
"Yang benar saja, Alex," ujar Amanda terlihat marah. "Di saat seperti ini-"
"-aku sudah lelah berpura-pura semua akan baik-baik saja," potong cowok itu tiba-tiba. "dan berpisah denganmu demi mengawasi obsesinya yang kian besar, itu lebih membuatku lelah."
Emily hanya diam mendengarkan, dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan dan berusaha memahami di sisi lain. Mereka berdua jelas punya hubungan yang sangat dekat dulu kalau bisa disimpulkan. Amanda yang berada di sampingnya juga terdiam. Untuk pertama kalinya Emily dapat melihat campuran emosi yang kuat di wajah datar cewek vampir itu.
"Kupikir, dia hanya akan mencegah cowok manusia itu meninggalkannya sehingga aku bisa menonton dengan tenang seperti biasanya," jelasnya mengalihkan pandangan. "tapi dia membunuh Jordan hanya karena cowok itu menyukai Emily."
"Jordan?" Emily berbicara setelah beberapa saat.
Alex mengangguk. "Selain itu dia memforsir kekuatan Lauren dengan berlebihan, daya tahan tubuh cewek itu sangat lemah dibanding anak vampir lainnya. Dia tahu dan sekarang cewek itu tidak bisa bangun untuk waktu yang cukup lama.
"Kalau tidak dihentikan, entah siapa lagi yang akan digunakannya untuk menahan cowok manusiamu itu."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Amanda pelan.
Alex berkedip. "Menciummu karena kau sangat cantik."
Cewek vampir itu menatapnya tajam. Jika tatapan bisa membunuh cowok itu sudah akan tamat.
"Aku serius."
"Aku akan pergi ke bawah untuk mengambil minuman." Emily menyela tatapan intens di antara keduanya.
Alex tersenyum berterima kasih yang dibalas dengan bunyi menutupnya pintu.
...|•|...
"Kau seharusnya mengatakan semua ini padaku sebelum dia mengutukmu seperti ini."
Alex tersenyum. "Mungkin ini karma atas perbuatanku yang selalu suka mengulur waktu dan membuat orang lain selalu terganggu."
Amanda menghela napas pelan dan menguburkan wajahnya di dada Alex yang masih terasa sama seperti dulu, memeluknya seerat mungkin walaupun tahu itu tidak dapat menghentikan kematian cowok itu setelah mengatakan rahasianya. "Selamat tinggal."
__ADS_1
"Sampai jumpa."
Cewek vampir itu mendongak untuk melihat senyum terakhir Alex sebelum berubah menjadi debu.