A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.17


__ADS_3

"Aku yang akan mengantarnya."


Sean tiba-tiba muncul dan mulai melepas masker yang dipakainya serta seragam kokinya. Sedangkan Grace yang baru saja selesai berganti baju, melangkah keluar dan menatap para anggota lain yang sedang mengerumuni Zee dan Lilian. Hanya Chloe yang tidak ada di sana karena masih sibuk mengurus pesanan.


Lilian menggeleng. "Tidak, kamu harus tetap di sini, Sean. Ada banyak tamu yang harus kita layani hari ini."


"Bukannya ada Grace? Dia lebih jago memasak daripada aku sekarang," ujar Sean terlihat kebingungan. "Ryan juga bisa membantu jika dia kesulitan."


Ryan mengangguk, mendukung perkataan Sean karena senang sudah diakui oleh laki-laki itu, setelah hanya diberi tanggung jawab untuk tampilan akhir sajian makanan restoran mereka. Dia juga khawatir karena Zee yang biasanya terlihat sehat, tiba-tiba sakit seperti itu. Laki-laki bongsor itu hanya ingin temannya segera dibawa ke rumah untuk diobati.


"Tetap tidak bisa. Aku membutuhkanmu dan Ryan untuk melayani tamu, sedangkan Stefan yang akan membantu Grace di dapur."


Stefan tampak terkejut karena namanya tiba-tiba dilibatkan dalam urusan restoran, sementara Ryan terlihat ingin protes karena tidak pernah melayani tamu, tapi keduanya tidak bisa berkutik ketika menerima tatapan memaksa dari perempuan itu.


"Aku tidak menerima jawaban tidak. Kalian bisa lihat kan kalau kita kekurangan orang?"


Mereka akhirnya menutup mulut. Mau tidak mau, keduanya harus mengikuti kemauan Lilian jika tidak ingin menerima akibatnya dengan alasan yang berbeda. Stefan sebagai kakak yang tidak mengabulkan keinginan adiknya, sementara Ryan yang merupakan anggota termuda di restoran hari ini, tidak mengikuti perkataan anggota yang lebih tua.


"Kamu bisa membawa Zee sendirian?" tanya Sean lagi, memastikan.


Zee masih tampak lemas saat berusaha berbicara. "Aku tidak apa-apa, cuma lemas sedikit. Aku masih bisa berjalan kalau dipapah Lilian dan langsung istirahat di rumah."


Mereka semua terdiam. Jika orang yang sedang sakit berbicara seperti itu, maka dia harus didampingi oleh banyak orang, tapi Lilian segera menghentikannya. "Aku sudah menelepon Bram. Kalian bisa melanjutkan tugas masing-masing, sudah sana." Perempuan itu tiba-tiba mengusir mereka, tapi menatap Stefan dengan sorot memohon. "Tolong ya, Kak."


"Iya...."


Stefan tidak punya pilihan selain menuruti ucapan adiknya. Dia bahkan tidak sempat berpikir apapun karena Grace masih berada di belakangnya, sibuk menyiapkan menu makanan yang sudah dipesan oleh pelanggan yang sudah menunggu lama karena obrolan mereka. Dia tidak mungkin meninggalkan pasangannya sendirian ketika sedang kesulitan.

__ADS_1


"Oke! Kalau begitu, selamat bekerja semuanya."


Lilian dan Zee melangkah keluar, menunggu jemputan Bram, sementara para anggota lain kembali ke pos mereka. Sean kembali memakai maskernya dan bersiap untuk melayani tamu, sama seperti Ryan, dengan masih menggunakan seragam pos mereka sebelumnya. Tidak ada waktu untuk berganti baju sehingga mereka menggunakan apa yang ada.


Stefan mendekati Grace dengan ragu-ragu, tidak menyangka kalau kebersamaan mereka masih akan berlanjut untuk sisa hari ini. Perempuan itu masih tampak serius dengan apa yang dikerjakannya sehingga bisa mengabaikan kehadiran laki-laki itu.


"Apa ... yang harus kulakukan?"


Grace menatapnya sekilas dan menunjuk kertas berisi tulisan menu yang ditulis oleh Zee sebelum merasa sakit. "Kamu bisa memulai membuat menu yang lain. Kamu tahu resepnya kan?"


Stefan mengangguk. Walaupun tidak pernah terlibat secara langsung dalam urusan restoran, tapi Lilian dan Iris selalu menceritakam perkembangan bisnis mereka yang cemderung stabil, terutama dalam menu-menu makanan dan minuman yang sudah beberapa kali berganti atau dimodifikasi karena ingin memanfaatkan setiap bahan yang mereka beli selama ini. Mereka tidak ingin ada sisa makanan yang sudah disantap.


"Baguslah kalau begitu, kita bisa menyelesaikan ini dengan lebih cepat."


Laki-laki itu tersenyum dan mulai memasak.


Beberapa lama, hanya suara pelanggan yang memenuhi restoran dan perasaan akan kehadiran satu sama lain yang melingkupi mereka berdua, tapi Grace sepertinya bisa mengatasinya dengan baik. Sementara Stefan sudah beberapa kali mengambil kesempatan untuk melihat ekspresi wajah Grace yang masih terlihat serius dan memikirkan bagaimana bisa dia bertahan selama ini ketika perempuan itu sekarang menjadi fokus utamanya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, kamu harus lebih cepat menyelesaikan masakan agar bisa segera disajikan."


"Oh, benar...."


Grace kali ini menatapnya dengan lekat. "Kalau kamu bisa melakukannya dengan baik, aku akan memaafkan kelakuanmu yang menyembunyikam identitas selama ini."


"Benarkah?" Laki-laki itu merasa senang walaupun tidak ditunjukkan secara langsung. "Aku akan melakukannya secepat mungkin."


"Buat yang enak."

__ADS_1


Stefan mengangguk cepat, memerima setiap perkataan Grace sebagai tanggung jawab yang harus dilakukan dengan baik. Dia sebenarnya sudah cukup senang ketika perempuan itu masih mengajaknya mengobrol meskipun lebih banyak terdengar ketus dan tidak ramah, tapi dengan bonus penerimaan maaf oleh pasangannya, laki-laki itu tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan. Stefan ingin hubungan mereka lebih dekat lagi.


.


"Kenapa kamu memintaku berbohong pada mereka?"


Zee tiba-tiba bertanya ketika mereka mulai melangkah menuju rumah. Dari awal, Lilian tidak benar-benar mengikutsertakan Bram dalam rencananya sehingga mereka pulang dengan berjalan kaki. Jarak rumah mereka juga tidak begitu jauh karena sudah terbiasa berjalan pulang hampir setiap hari.


Lilian cuma tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. "Terima kasih karena sudah mengikuti kemauanku, Zee."


"Yah ... itu bukan masalah." Zee mengangkat bahunya dengan acuh, tahu kalau tidak bisa sembarangan dalam menghadapi adik dari alpha kawanan mereka. Stefan saja dibuat Lilian tidak berkutik seperti itu. "Aku juga ingin beristirahat karena terus-terusan berdiri untuk melayani tamu serta mengantar pesanan."


Walaupun tanggung jawabnya sebagai pelayanan tamu terdengar mudah, tapi ada banyak hal yang harus diperhatikan agar dia tidak membuat kesalahan yang membuat pelanggan merasa tidak terpenuhi kebutuhannya. Dia juga lebih banyak berdiri dan berpindah-pindah tempat karena sibuk menerima dan mengantar pesanan dengan tepat waktu, serta membereskan meja agar tidak terlihat berantakan untuk tamu selanjutnya.


Setelah beberapa lama bekerja, Zee cukup mengagumi pekerja restoran yang tetap sabar dalam bekerja selama ini.


"Kira-kira, sampai kapan kita harus melakukan ini ya?"


Lilian hanya terdiam, sementara Zee menutup mulutnya karena tahu sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibahas jika bersama perempuan itu. Terutama alasan dibalik pembuatan restoran mereka yang dilakukan dengan keputusan yang mendesak, dibuat dari penilaian sekumpulan anggota muda atas kebutuhan kawanan mereka yang terhitung banyak karena setiap generasi yang masih berada di dalamnya.


Sebagai kawanan dengan anggota yang beragam, kebutuhan utama mereka adalah uang, untuk memenuhi berbagai kebutuhan setiap anggota yang tinggal bersama tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Awalnya mereka baik-baik saja karena Greg, paman dari alpha kawanan mereka, yang mengurus semua hal itu. Kawanan mereka bahkan membuat berbagai pengeluaran lain yang menyenangkan untuk hiburan untuk para anak-anak dan juga anak yang lebih tua, tapi begitu para anggota muda mengetahui alasannya, semua hal yang membahagiakan itu lenyap tak bersisa. Sekarang hanya ada ketegangan dan rasa waspada antara satu sama lain yang tersembunyi di kawanan mereka.


"Maaf."


Lilian menatap Zee yang terlihat menunduk sedih. Dia memaksakan senyum dan menepuk pundak perempuan itu. "Tidak apa-apa. Aku juga ingin semua ini segera berakhir dan kita bisa kembali seperti dulu."

__ADS_1


Mereka mulai mengobrol hal lain untuk mengalihkan perhatian dari suasana yang muram itu, tapi sosok yang paling dihindari malah kembali muncul di hadapan keduanya. Greg.


Tanpa sadar, mereka ternyata sudah tiba di rumah.


__ADS_2