
Theo menerima pesan dari Lilian jika pertemuan antara perwakilan kawanan mereka akan dilakukan besok siang, di pusat perbelanjaan, tempat Grace dan adik dari Alpha kawanan itu bertemu pertama kali.
"Katanya kita bisa menentukan kafenya!" Cowok itu terlihat bersemangat ketika menyampaikan hal itu pada anggota yang berada di ruangan. Mereka baru saja selesai makan malam saat pesan itu masuk.
Salah satu dari si kembar menepok kepalanya hingga dia mengaduh.
Chloe menghela napas. "Kamu tidak ikut."
"Tapi ada kafe yang baru buka di sana...."
"Latihanmu bagaimana?" Grace menimpali. "Ini bukan waktunya untuk jalan-jalan."
"Iya, apa kamu berniat untuk kabur dari latihan kak Dave?" Jena menatapnya curiga, sedangkan Jean meniru kakak kembarnya itu di sampingnya.
Theo kelihatan salah tingkah, dia menolak membalas tatapan mereka berdua. "Tidak, aku cuma mau mencoba suasana kafe yang baru buka!"
Beberapa anggota lain berusaha menahan tawa melihat gelagat cowok itu yang secara tidak langsung membenarkan ucapan si kembar. Sudah rahasia umum kalau pelatihan yang diberikan oleh adiknya itu memang lebih keras daripada para anggota lain, kebetulan, besok adalah giliran Theo dan si kembar yang akan menerima latihan khusus dari Dave.
"Latihannya gak seburuk itu kok."
Hans mengangguk, menambahkan ucapan anggota junior yang pernah latihan bersamanya itu. "Hanya latihan dasar biasa, tapi lebih ketat."
Secara ringkas, Dave akan mengawasi setiap anggota yang mengikuti latihannya dengan teliti, lalu membenarkan postur tubuh sekaligus menyuruh mereka mengulangi gerakan yang salah hingga benar-benar sempurna. Tidak akan masalah kalau anggota yang dimaksud tidak membuat kesalahan, tapi kalau iya, latihannya akan berlangsung lebih lama dari seharusnya.
Cowok itu bergidik, sudah tahu akan apa yang dia hadapi jika mengikuti latihan dari pasangan Alpha mereka itu. Akan lebih baik kalau Allison juga ikut, tapi Alpha mereka itu juga akan sibuk dengan urusan lain, mengganti kekosongan Chloe untuk sementara.
"Tuh kan."
"Apa-"
"Sudah." Chloe menghentikan ucapan adiknya itu sebelum semakin panjang. "Karena ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Emily, tolong tunggu sampai Allison dan Dave kembali ya."
"Oke, Clo."
.
Pagi hari datang dengan cepat. Anggota kawanan yang lain sudah sibuk dengan kegiatan mereka sedangkan Grace masih mengumpulkan nyawa di tempat tidur.
Hari ini hari minggu, dia tidak punya jadwal piket secara khusus sehingga tidak merasa perlu untuk buru-buru ke bawah, Hans juga pasti sedang sibuk latihan. Dia tidak akan punya kegiatan sampai siang nanti, yang kemungkinan hanya akan dihabiskan dengan duduk dan mengobrol sebelum pergi ke tempat kawanan itu.
__ADS_1
Atau mungkin tidak.
"Grace, Chloe butuh bulumu untuk kalung pelindung." Jean melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar. "Yang banyak."
"Oke."
"Yang cepat juga."
"Iya...."
Dia menghela napas panjang lalu segera berdiri dari kasur, mengganti pakaiannya hingga seminimal mungkin supaya tidak merepotkan dan berjalan keluar rumah menuju pepohonan yang rindang. Cewek itu mengubah wujudnya dengan mulus lalu melakukan kegiatan yang paling merepotkan tanpa adanya musim rontok rambut serigala ataupun kutu hewan, mengusap tubuh ke batang pohon yang kasar.
Pelindung yang akan dibuat Chloe adalah kalung yang sama dengan yang diberikannya pada Emily saat dia pergi. Kegunaannya adalah menjaga kekuatan mereka agar tidak melemah akibat jauh dari kawanan atau Alpha mereka dan mencegah mengubah status mereka menjadi omega. Allison dan Dave pasti sudah mendapatkan semua bahannya sehingga cewek itu juga mempercapat proses pembuatannya.
Grace kembali ke wujud asalnya lalu mengumpulkan bulu-bulunya yang rontok, menyatukannya hingga menjadi untaian yang tipis dan cukup panjang.
"Sini."
Chloe segera meminta untaian bulunya saat dia tiba di ruangan cewek itu. Terdapat tiga untaian bulu lain, dua diantaranya dari Allison, dan beberapa alat dan bahan yang berada di atas mejanya. Dia terlihat serius saat mulai menyusun semua itu untuk dijadikan kalung. Alpha kawanan mereka dan Theo berada cukup dekat dengannya untuk memperhatikan proses pembuatannya, sedangkan Grace memilih untuk keluar untuk melakukan hal lain. Perutnya sudah cukup lapar.
Para anggota lain sudah sibuk dengan kegiatan rumah tangga sehingga cewek itu menyiapkan sarapan dan menikmatinya sendiri. Sandwich dan salad terasa pas dengan cuaca yang cukup cerah. Sambil memasak, dia memikirkan tentang pertemuan yang akan didatanginya bersama Chloe dan berujung pada ingatan perasaan damai yang sempat dirasakannya saat dia tidak sadarkan diri di hutan. Akibat teralihkan dengan masalah baru yang dialaminya, dia hampir lupa dengan peristiwa penting itu.
Walaupun singkat dan tidak terlalu jelas, dia mengingat sensasi itu seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Kemungkinan besar, dia akan menemukan sosok misterius dan sialan itu di kawanan yang sama dengan Lilian nanti. Dia tidak sabar untuk menghajarnya karena membuatnya menderita, lalu memeluknya dengan erat agar sosok itu tidak bisa kabur lagi. Kekehan menakutkan tanpa sadar keluar dari mulutnya, membuat beberapa anggota menatapnya aneh dan menghindar.
".... kamu tidak apa-apa?"
Grace menatap Hans yang berada di hadapannya, sedikit terkejut, tapi senyumnya tetap otomatis muncul. "Oh, Hans, kamu sudah selesai latihan?"
"Belum, kami disuruh istirahat sebentar."
Anak cowok yang lebih muda dari Hans itu mengangguk, tatapannya sedikit teralihkan dengan masakannya yang sudah hampir jadi di meja makan, terlihat menggiurkan. "Apa itu sarapanmu?"
Cewek itu mengangguk. "Kalian mau? Tapi aku akan buat yang baru setelah sarapan."
"Oke!" Anak cowok itu terdengar bersemangat.
"Terima kasih, Grace."
"Tidak masalah. Aku sarapan dulu sekarang."
__ADS_1
Grace menyantap makanannya sambil melihat beberapa anggota lain yang latihan. Theo sudah berada di luar bersama si kembar dan Dave. Si kembar menjalani latihan dengan cukup mulus dengan sedikit perbaikan, sedangkan cowok itu terlihat mulai berkeringat akibat gerakan yang harus dia ulang berkali-kali. Adiknya itu memang tidak kenal ampun.
Dua tumpukan sandwich dan mangkok besar berisi salad segar sudah terhidang dengan rapi di meja makan. Anggota lain yang seharusnya menerima tugas itu berterimakasih pada Grace dan berjanji akan menggantikan tugasnya di lain waktu. Yah, ternyata ada gunanya juga punya hobi memasak.
Untuk catatan, dia sebenarnya tidak masalah kalau anggota itu tidak menggantikan tugasnya, tapi apa salahnya kalau sudah ditawari begitu? Lebih baik dia terima.
"Coba pakai."
Chloe menyerahkan kalung yang segera dikenakannya. Tidak ada efek yang dirasakannya secara langsung, tapi cewek itu mengangguk puas saat melihat kalung itu diantara bagian atas dadanya. Sepertinya kalung pelindung ini berhasil.
"Ayo siap-siap, waktu janjiannya sudah dekat."
.
Tas berisi pakaian dan perlengkapan mereka sudah siap. Chloe dan Grace menerima berbagai tepukan semangat dari para anggota dan pelukan spesial dari Allison sebelum keberangkatan mereka.
"Jangan lupa, nama kafenya-"
Grace sengaja menutup pintu mobil lebih cepat agar suara Theo tidak terdengar. Sudah semalaman penuh cowok itu ribut menjelaskan kafe itu berulangkali, dia tidak sanggup mendengarkan nama itu lagi sekarang. Chloe tidak mengatakan apa-apa, sedangkan Dave menjalankan mobil dengan tenang menuju pusat perbelanjaan.
Perjalanan mereka berjalan lambat seperti biasa, apalagi akibat akhir pekan yang mengundang pengguna jalan lebih banyak dan ramai. Tetap saja, mereka sampai beberapa menit sebelum waktunya, sesuai rencana. Dua orang itu menerima tepukan semangat dari Dave dan titipannya pada Chloe agar mengawasi kakak ceweknya. Grace memutar bola matanya, tapi mendengus maklum begitu melihat sorot mata adiknya yang khawatir. Ternyata adiknya juga menyayanginya.
"Aku tidak akan kenapa-kenapa, tenang saja."
"Aku tidak khawatir padamu, tapi kawanan itu yang akan menerima pemalas sepertimu."
"Apa?!"
Chloe menepuk punggung Grace cukup keras. "Tidak usah khawatir, Dave. Aku titip kawanan padamu dan Allison ya."
"Tentu. Terima kasih, Clo."
Grace mendengus keras, tapi menatap kepergian Dave sampai mobilnya tidak terlihat lagi. Cewek itu sudah merasakan kalau dia akan kangen dengan mereka semua saat berada di tempat baru.
"Kamu sudah siap?"
"Tentu saja." Dia melihat Chloe yang sedikit gugup, pertemuan seperti ini adalah yang pertama untuk mereka. "Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa.” Dia menarik napas, meneguhkan diri. “Ayo."
__ADS_1
"Oke."