
"Nah, Allison, ini kamar kita," ucap Chloe membuka pintu kamar yang berada di paling ujung lorong lantai dua.
Aku mengedarkan pandangan. Kamar ini tampak luas dengan tiga tempat tidur dan masing-masing peti terletak di kaki tempat tidur. Terdapat sebuah meja rias kecil di seberang tempat tidur dengan tiang gantungan yang berdiri disebelahnya, sebuah jendela berteralis di sebelah salah satu tempat tidur dan wastafel di sudut kamar dekat jendela.
"Ada satu orang lagi yang tidur di sini tapi dia masih belum kembali," ujar Chloe, tangannya menepuk peti yang berada di kaki tempat tidurku. "Ini tempat untuk menyimpan pakaian dan segala kebutuhan pribadimu, di dalamnya sudah ada beberapa pakaian kalau kamu ingin ganti baju."
Aku menganggukkan kepalaku. "Terima kasih." Aku menepuk kasurku lalu membaringkan diri. Aku merasa sedikit lelah. "Kasurnya terasa nyaman."
"Tentu. Istirahatlah, kamu pasti capek."
Aku kembali mengangguk lalu memejamkan mataku, menikmati rasa kasur yang nyaman sekaligus membiarkan tubuhku merasa rileks setelah berkerumun dengan banyak orang dan membicarakan hal yang sangat penting.
Sesuatu tiba-tiba terasa mendarat di tempat tidurku.
"Maaf mengagetkanmu," ucap Chloe meringis. "Makanlah."
"Apa ini?" tanyaku, menatap bungkusan aluminium berwarna perak sebesar telapak tanganku dan tanpa tulisan.
"Cokelat, memang apa lagi?" jawabnya, tangannya masih sibuk merogoh ke dalam petinya untuk mengambil sesuatu, entah apa, lalu melembutkan raut wajahnya ketika kembali menatapku. "Tenang, itu hanya cokelat biasa. Makanlah supaya kau merasa lebih baik, Allison."
"Maafkan aku."
Dia tersenyum. "Tidak apa-apa."
Aku membuka bungkus cokelat tersebut dan memakannya, menikmati manisnya cemilan manis tersebut di dalam mulutku. Aku menghela napas lalu memakannya lebih cepat.
"Aku dan yang lain masih ada di bawah jika kamu butuh sesuatu. Beristirahatlah."
"Baiklah. Terima kasih."
Chloe kembali tersenyum sebelum akhirnya melangkah ke luar dan menutup pintu.
Aku masih sibuk dengan cokelat yang kumakan ketika pikiranku kembali melayang. Rasanya begitu membingungkan dan tidak nyata. Entah apa yang harus kulakukan setelah mendengar keseluruhan cerita mereka. Aku masih merasa tidak punya petunjuk mengenai tanggung jawab yang harus kuemban.
Aku meraih ranselku, satu-satunya barang yang kubawa, lalu membukanya, memasukkan tanganku di antara buku mata kuliah serta buku tulis dan akhirnya meraih untaian kalung tipis di kantong bagian dalam tas.
Tanganku bergerak untuk mengusap tali tipis untaian kalung tersebut dan kemudian berhenti di bandul berbentuk lingkaran berwarna perak pudar, di salah satu sisinya terdapat sebuah engsel kecil yang menandakan bahwa bandul tersebut bisa dibuka.
Secara perlahan aku membuka katup kalung tersebut dan mendapati satu foto mungil berada di setiap satu sisi, foto sepasang laki-laki dan perempuan serta foto seorang anak perempuan berusia 2 tahun yang menatapku dengan raut polos. Foto orangtuaku dan aku.
Aku mengusap foto sepasang laki-laki dan perempuan tersebut yang kemungkinan besar adalah orangtuaku, menatap foto kedua wajah mereka secara lekat untuk ketiga kalinya seumur hidupku. Mataku terasa begitu panas hingga akhirnya setetes air mata jatuh di atas permukaan foto tersebut saat otakku secara otomatis mengulang segala perkataan Will.
.... Ini melibatkan kakekmu dan Whitney
Aku tahu resikonya....
__ADS_1
.... jadi kau tenang saja.
'Kakekmu membunuh ayah Whitney—secara tidak langsung dia mengkhianati janjinya.'
"Kenapa...." gumamku tanpa sadar, menggenggam erat untaian kalung tersebut hingga berbekas ketika ucapan Will yang lain menghampiri.
'Whitney membunuh ayahmu, tapi dia membiarkanmu dan ibumu pergi.'
'Beberapa tahun berselang dia tiba-tiba mengubah pikirannya.... Ibumu menyusul ayahmu pada hari itu.'
'Kamu memang tidak ingat, tapi kenyataamya, kamu memang diharuskan untuk mengambil alih, Allison.'
"Bagaimana ini...." gumamku perlahan menutup wajahku dengan kedua tangan. "Apa yang harus kulakukan, Ibu, Ayah?"
Hening.
Aku menghela napas gemetar lalu menggosokkan kedua tangan di wajah, bangkit dari tempat tidur dan kemudian menaruh kalung itu kembali. Aku tidak boleh seperti ini. Aku berjalan mendekati peti tempat tidurku lalu melihat ke dalamnya, terdapat handuk kecil, dua t-shirt polos dan sebuah kemeja kotak-kotak, celana jins yang sedikit kebesaran dan celana kargo di sana.
Aku mengambil t-shirt dan celana kargo untuk ditukar dengan pakaian yang kukenakan sekarang.
Selesai bergantian pakaian, aku melangkah ke wastafel dan mencuci wajahku, mengeringkannya dengan handuk kecil tadi. Tatapan mataku secara tidak langsung berhadapan dengan cermin, menatap pantulan wajah pucat berbingkai rambut coklat dan mata hazel yang tampak lelah.
Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pintu yang membuatku sedikit kaget. "Siapa?"
"Aku Dave," ucap seseorang itu terdengar samar. "Makan malam sudah siap, turunlah."
"Kamu masih di sini?" tanyaku heran menatap sosok laki-laki yang bersandar di samping pintu kamar.
Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang ke arahku. "Ayo."
Tanpa berkata apa-apa, aku mengikutinya menyusuri lorong kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan. Dia berjalan di depanku sehingga aku hanya bisa melihat punggungnya yang terbalut kemeja biru dan rambut hitamnya yang terlihat ikal.
Sesampainya di ruang makan cowok itu terlihat ingin segera menjauh dariku, tapi entah kenapa tanganku bergerak lebih cepat untuk meraih lengannya. Dia segera menoleh untuk menatapku, terlihat sedikit terkejut, tapi tidak menolak pegangan tanganku.
"Ada apa?"
Aku tersenyum ragu-ragu. Apa yang sudah kupikirkan sehingga bertindak impulsif begini? "Terima kasih sudah mengantarku."
"Sama-sama." Dia menatapku sebentar, matanya terlihat semakin hijau dengan kemeja biru yang dikenakannya. "Apa kamu ingin makan bersamaku dan saudaraku?" Dia menunjuk ke arah Malcolm dan Grace yang berada di salah satu sudut ruangan bersama dengan beberapa orang lain.
Aku segera melepas pegangan tanganku. Aku tidak ingin dekat-dekat dengan Malcolm saat ini "Tidak, tidak usah."
"Baiklah." Dia menatapku lagi, hendak mengatakan sesuatu sebelum mengurungkan niatnya. "Selamat makan."
"Kamu juga."
__ADS_1
Aku melihatnya menghampiri kerumunan itu, menerima makanan yang disodorkan oleh Grace dan dalam beberapa saat sudah terlibat dalam obrolan.
Aku mengedarkan pandanganku ke arah lain dan melihat beberapa orang sudah berkumpul di meja makan dan berhadapan dengan lauk-pauk yang tersaji di depan mata. Beberapa orang yang tidak kebagian tempat memilih untuk duduk di sofa ataupun kursi tanpa meja yang tersebar di sana.
"Di sini, Ally," ujar seseorang tiba-tiba mengalahkan dengungan obrolan di ruang makan.
Mataku langsung melihat Emily yang menepuk-nepuk bangku yang berada di sebelahnya. Aku segera berjalan mendekat dan duduk di tempat yang dia tunjuk.
"Hai, apa kabar?" tanyanya padaku seakan kami jarang bertemu.
"Baik."
"Sakit kepala?"
Aku menggeleng. "Hanya sedikit."
Dia tertawa dan menepuk-nepuk bahuku. "Syukurlah, kupikir kamu tidak akan mau keluar dari kamar."
"Awalnya begitu, tapi perutku lapar."
"Keputusan yang bagus!" Emily tersenyum lebar, menunjuk berbagai hidangan yang ada di hadapan kami. "Theo, chef muda kita, sudah memasak makanan lezat dan mengenyangkan untuk kita semua. Benar kan, Theo?"
"Benar sekali!" Seorang laki-laki yang duduk di sofa menyahut dan tersenyum lebar. "Selamat menikmati hidangan buatanku, Allison."
Aku membuka mulut hendak menjawab, tapi dihentikan oleh sahutan dua orang yang terlihat mirip satu sama lain.
"Hei, kami juga membantu, tahu." Salah satu dari si kembar menyahut.
"Salad itu kan buatan kami, jangan mengaku sembarangan, Theo," sambung kembarannya.
"Tapi-"
Perempuan kembar itu segera melotot. Theo menutup rapat mulutnya, terlihat sedih.
Orang-orang, termasuk aku dan Emily, tertawa. Tentu saja mereka hanya bercanda, karena setelah itu aku dapat melihat si kembar mendekati Theo dan mengobrol. Emily juga mengajakku ngobrol sehingga aku mengikuti obrolannya sambil melahap makanan yang tersedia.
Untuk sementara, kekhawatiran dan hal-hal yang harus kupikirkan tidak terlintas di benakku. Suasana nyaman yang terasa familier, seperti saat di panti asuhan, tapi jauh lebih lama dari itu.
"Ngomong-ngomong, di mana Will?" tanyaku menyadari ketidakhadirannya di antara orang-orang yang berada di sekeliling kami. "Aku tidak melihatnya."
"Dia berburu," jawabnya. "Kalau dibiarkan lebih lama lagi, mungkin kondisinya akan memburuk lebih cepat."
Aku mengangguk mengerti sambil mengunyah makanan yang berada di mulutku. Tanpa darah pasangannya, darah hewan akan lebih baik untuk meredam dahaganya untuk saat ini.
"Hei, Allison ... mau jalan-jalan?"
__ADS_1
Aku menoleh kepadanya sambil mengerutkan keningku heran. "Untuk apa? Ini sudah malam kan?"
Dia tersenyum penuh arti. "Ikut saja, ada yang ingin bertemu denganmu di sana."