A Werewolf Girl

A Werewolf Girl
3.16


__ADS_3

"Aku tidak akan banyak bertanya soal masalah internal kawananmu, tapi kamu harus menjelaskan semuanya padaku, juga Chloe, jika waktunya sudah tepat."


Grace menambahkan ketika sedang mencerna perkataan Stefan padanya. Laki-laki itu sepertinya memang belum menceritakan semua hal padanya, ada beberapa hal yang masih belum terasa jelas baginya, tapi dia tidak akan memaksa orang di hadapannya itu untuk langsung menjelaskan semuanya. Perempuan itu masih perlu waktu untuk membiasakan diri dengan lingkungan dan informasi baru yang dihadapinya sekarang maupun nanti.


Stefan mengangguk. "Aku akan langsung memberitahumu, juga Chloe."


Perempuan itu menyesap minumannya hingga habis setelah selesai menyantap donat. Suasana kafe yang awalnya sepi, semakin lama mulai ramai dengan beberapa pengunjung yang datang untuk waktu istirahat mereka. Perkataan Theo yang membangga-banggakan beberapa menu andalan kafe itu sepertinya tidak salah karena sudah ada beberapa orang yang memesan kombinasi dari menu rekomendasinya.


"Kamu mau pesan minuman atau kue yang lain? Aku melihatmu yang tidak berhenti menatap kue di etalese itu."


Grace terdiam. "Kamu mau membelikannya?"


"Tentu saja." Laki-laki itu tampak senang meskipun raut wajahnya terlihat biasa saja, tapi sorot matanya menjadi seperti Lilian ketika sedang bersemangat. "Aku akan memesankannya untukmu."


"Bukan untukku, aku ingin membelikannya untuk beberapa bocah di kawananku."


Stefan langsung mengerti dengan siapa yang dimaksud olehnya. "Tidak masalah, aku akan memesankan untuk mereka juga. Kamu juga mau?"


"Tidak usah, setelah ini kita harus berbelanja kan? Aku juga masih kenyang."


"Baiklah, tunggu di sini."


Grace memperhatikan Stefan yang berjalan menuju kasir dan memesan beberapa minuman serta kue berukuran besar yang akan dikirim menuju rumah kawanannya. Laki-laki itu tampak ramah ketika berbicara dengan kasir lalu menuliskan pesan yang akan diterima oleh Allison dan yang lain.


Tidak lama, Stefan kembali dan menghabiskan kopinya yang masih tersisa.


"Mereka akan segera mengantarnya. Theo sudah kamu beritahu kan?"


Perempuan itu mengangguk. Walaupun masalah yang ada di kawanan mereka sudah terselesaikan, tapi semua anggota sepakat untuk tetap merahasiakan wilayah rumah yang menjadi satu-satunya tempat perlindungan. Jadi, Theo akan menunggu di tempat lain saat menerima pesan antar dari kafe favoritnya.


"Ayo."

__ADS_1


Mereka meninggalkan tempat duduk lalu berjalan menuju ke pusat perbelanjaan untuk membeli bahan-bahan tambahan untuk keperluan restoran. Dia dan stefan memakai alasan berbelanja agar bisa berbicara pada siang ini, sehingga tidak punya pilihan selain tetap melakukannya, walaupun Grace sudah merasa malas untuk sekedar berjalan mengelilingi tempat itu.


Stefan sepertinya menyadari apa yang dirasakannya. "Kamu tunggu saja di kafe atau di luar pusat perbelanjaan. Aku bisa masuk sendiri."


"Tidak apa-apa, kamu sudah membelikan makanan untuk anggota kawanan kami, mana mungkin aku juga membiarkanmu berbelanja sendirian."


"Bukannya kamu malas?" Stefan membalas ucapannya dengan bertanya.


Mereka sekarang sudah berada di depan pusat perbelanjaan, beberapa langkah dari rak-rak tinggi yang menyediakan setiap kebutuhan sehari-hari semua orang. Situasinya tidak seramai di kafe saat mereka pergi, tapi tetap saja Grace merasa malas dengan berjalan berkeliling untuk mencari-cari bahan yang mereka butuhkan. Mengingat beberapa menu utama di restoran, sepertinya mereka akan menghabiskan waktu yang cukup banyak.


"Iya, karena itu cepatlah."


"Baiklah."


Berbeda dengan kesan dari pertanyaannya, laki-laki itu tampak senang karena Grace tidak menolak untuk menemaninya berbelanja. Baru beberapa lama mereka saling mengenal sebagai mate, perempuan itu merasa seperti sudah mengetahui beberapa sisi Stefan yang tidak ditunjukkannya pada anggota kawanan selama perkenalannya dan Chloe.


Grace mengikuti langkah Stefan yang kali ini memimpin jalan. Dia masih merasa tidak nyaman jika berjalan berdampingan dengan Stefan, atau lebih tepatnya, masih belum terbiasa dengan koneksi di antara mereka yang terasa semakin jelas seiring mereka berdekatan dengan satu sama lain dan menghabiskan waktu bersama. Perempuan itu tidak tahu dengan pasangan yang lain, tapi dia seperti terekspos setelah beberapa lama hanya memikirkan dirinya sendiri.


Stefan mengangguk. "Untuk sekarang, aku akan mengendalikan diri sebaik mungkin agar tidak membuatmu merasa tidak nyaman."


Mereka menuju ke rak-rak yang menampilkan bahan-bahan kering untuk makanan penutup lalu beberapa bumbu dapur yang sudah mulai kehabisan. Stefan memilih bahan-bahan mentah selama Grace membawa troli belanjaan mereka. Dalam beberapa saat saja, troli yang dibawanya sudah terisi lebih dari setengahnya.


"Biar aku saja yang mendorong, pasti berat," ujar Stefan sambil mengulurkan tangannya untuk meraih troli.


Grace menepis tangannya. "Sama sekali tidak berat, tunjukkan saja jalannya supaya kita bisa lebih cepat ke kasir dan pulang."


"Oke."


Stefan mengikuti perkataannya dan membayar belanjaan mereka hari itu. Grace sama sekali tidak mengeluarkan dompet maupun tenaganya ketika mereka akhirnya kembali ke restoran. Di sana, beberapa pengunjung sudah terlihat memenuhi bangku yang tersedia sehingga mereka melewati pintu khusus anggota kawanan.


Lilian sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


"Gimana, pembicaraan kalian lancar?" tanyanya terlihat berbinar saat menatap mereka berdua.


Grace balas menatap Lilian dengan terkejut, sementara Stefan menurunkan barang belanjaan dari motor, terlihat jelas tidak ingin ikut campur dengan pembahasan adiknya sendiri. "Kamu sudah tahu?"


Lilian mengangguk. "Kakakku tidak bisa berbohong padaku. Jadi, gimana? Kalian sudah membicarakannya dengan baik kan?"


"Sudah, dia menceritakan masalah internal kawanan kalian walaupun baru sebagian padaku."


"Itu saja?" Lilian terlihat kecewa dengan perkataannya, seakan tidak mengharapkan hal itu sebagai jawaban dari pertanyaannya sendiri. "Aku lebih ingin tahu tentang hubungan kalian, setelah kakakku berusaha mati-matian untuk menahan diri agar tidak mendatangimu. Kalian tidak bertengkar karena itu kan?"


Grace mendengus, kalau dia memang berniat intuk bertengkar, Stefan tidak mungkin kembali ke kawanannya dalam keadaan yang masih utuh. "Dia menahan diri seperti itu?"


Lilian mengangguk, terlihat tidak berbohong dengan ucapannya. "Aku kadang melihatnya mengurung diri di kamar jika saat itu sedang musim di mana para mate berkumpul dan menyatakan diri dengan satu sama lain."


"Tolong jangan ceritakan bagian itu pada Grace, Lily...." Stefan tahu-tahu saja muncul dan meletakkan belanjaan mereka di dekat pintu masuk, motornya masih dalam keadaan menyala. "Aku akan kembali ke rumah, di dalam ada Sean untuk memasukkan belanjaannya kan?"


"Ada, tapi dia sedang sibuk memasak untuk melayani pesanan antar. Hari ini hanya dia yang bertugas memasak di dapur, Grace kan kamu ajak pergi."


Stefan menghela napas pelan dan mematikam mesin motornya. Dia sepertinya tidak punya pilihan untuk mengikuti kemauan adiknya yang tidak akan ikut membawa belanjaan ke dalam. "Geser sedikit."


Lilian terkekeh sambil sedikit menyingkir dari pintu, sementara Grace ikut membantu membawa barang belanjaan mereka. Restoran mereka masih saja ramai sehingga mereka sekarang menggunakan jadwal tetap untuk pembagian tugas dan jam kerja masing-masing. Waktu istirahat mereka hanya berlaku saat sudah tidak melayani pelanggan, sebelum membuka dan sesudah menutup restoran. Jam kerja mereka lebih padat dari kegiatan sehari yang dijalani Grace dan Chloe sebelum berpindah kawanan.


Chloe terlihat melotot ketika tatapan matanya bertemu dengan Grace. Dia helas terkejut karena perempuan itu sedang bersama pemimpin kawanan lain dengan sikap yang terbilang santai. Perempuan itu membentuk pertanyaan retoris yang membuatnya menggeleng. Dia jelas tidak gila.


Mereka mulai menyusun belanjaan mereka ke dalam lemari bahan dan pendingin. Lilian sudah kembali belerja karena kehadiran beberapa tamu lain. Diam-diam, Grace dan Stefan tahu kalau mereka sama-sama mendapat perhatian dari anggota kawanan yang sedang bertugas karena bersikap cukup akrab dengan satu sama lain.


Tanpa sadar Grace menjadi gugup karena tekanan untuk bersikap wajar. "Aku ... akan bekerja dulu."


"Tentu." Stefan tampak santai dan mulai berpamitan pada anggota lain. "Selamat bekerja semua, aku pergi dulu."


Laki-laki itu baru saja akan melangkah keluar dari dapur ketika Lilian datang sambil memegangi salah satu anggota yang terlihat pucat. Zee. Dia bertugas untuk melayani tamu. Wajah perempuan itu terlihat serius.

__ADS_1


"Zee sepertinya sakit, dia harus digantikan oleh seseorang, Kak."


__ADS_2