
"Kau benar-benar akan pindah dari sini, Wayne?
Seorang anak perempuan dengan wajah kabur bertanya pada satu sosok anak laki-laki yang tampak seperti dirinya. Suara anak perempuan itu terdengar sedih dan kecewa secara bersamaan saat menanyakan hal tersebut.
Anak laki-laki itu mengangguk, terlihat salah tingkah dengan tangan kanannya yang beralih menggaruk tengkuk. "Ayahku menemukan rumah sewa yang lebih murah dibandingkan di sini, tempat kerjanya juga sangat dekat."
Kepala anak perempuan itu segera tertunduk tanpa mengatakan apa-apa. Anak laki-laki yang ada di hadapannya terlihat merasa bersalah dan menggaruk tengkuknya lebih keras lagi. "Em ... jangan sedih, aku janji akan mengunjungimu lagi jika sempat kan?"
Yang ditanya tidak memberi tanggapan langsung. Dia menyapukan tangannya di wajahnya terlebih dahulu lalu mendongak sambil sedikit terisak. "Janji?"
Sosok kecil itu mengangguk yakin. "Ya, aku janji," jawabnya. "Kita pasti akan bertemu lagi, Emily."
Wayne terbangun dengan erangan yang sangat keras dari mulutnya, kepalanya terasa ditusuk oleh ribuan jarum sekaligus. Mimpi yang dialaminya tadi segera mengabur dengan cepat, menolak untuk diingat dan disimpan dalam memorinya.
Salah satu tangannya mencengkram kepalanya dengan erat, merasa ingin menghempaskannya ke tembok untuk menghilangkan segala tusukan yang mulai tidak tertahankan lagi. Dia harus menemui perempuan itu untuk menghentikannya. Lagi.
Sialan.
Sialan.
Sialan.
Cowok itu kembali mengerang dan memaksakan dirinya untuk terbangun. Berjalan melewati pintu kamarnya menuju sebuah kamar lain yang terdapat di ujung lorong.
Intensitas tusukannya bertambah keras, membuatnya menahan ringisan dan menghentikan langkahnya yang sudah berada di depan pintu. Dia segera membuka pintu tanpa mengetuk. Seorang perempuan yang sebelumnya terbaring di balik selimut beranjak bangun dan dalam sekejap sudah berada di sampingnya.
"Wayne ... kepalamu terasa sakit lagi?"
Cowok itu mendengus pelan, dia tidak bisa menahan diri, matanya menolak untuk memandang perempuan itu yang mungkin saja tersenyum sedih penuh kepura-puraan. Dia Menolak menjawab tapi tetap tidak bisa menolak tangkupan tangan perempuan itu pada wajahnya.
"Kau tahu kalau kau tidak bisa kabur kan?" tanya perempuan itu lagi, terdengar setitik simpati yang jarang dilakukannya. Dia jelas tahu bahwa sikap cowok ini akan selalu sama setiap kilasan mimpi itu kembali. "Dia akan menahanmu di sisinya."
Wayne tidak mengatakan apapun. Sesuatu berdenyut di dadanya saat perempuan itu berjinjit untuk mencium dahinya, lama, meredakan segala tusukan itu sekaligus melenyapkan bekas mimpi itu dari kepalanya. Tubuhnya langsung terasa lemas yang dengan mudah ditopang perempuan itu.
__ADS_1
"Beristirahatlah, Wayne."
Dia membaringkan cowok itu di atas tempat tidurnya, menatap mata cowok itu yang dengan keras kepala masih saja terbuka. Apa dia harus memukulnya?
"Namanya ... Emily, kan?" tanya cowok itu, bertanya untuk pertama kalinya. "Orang itu ... si murid ... baru?"
Perempuan itu tidak bereaksi apapun, masih menatap cowok itu yang mulai kehilangan kesadaran. Sebentar lagi cowok itu pada akhirnya akan melupakan semuanya lagi dan dia akan mendengar ocehannya sampai dia benar-benar pingsan, untuk kesopanan, tidak lebih
"Aku...." Wayne berusaha mengatakan sesuatu lagi. Matanya mulai menutup tanpa beban, hanya satu kata yang akhirnya bisa keluar dari mulutnya. ".... sialan."
Perempuan itu terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan entah apa hingga salah satu tangannya terangkat untuk mengusap peluh dari dahi cowok itu. Mengusapnya dengan pelan dan sesamar mungkin.
Beberapa saat kemudian dia kembali menyingkirkan tangannya dan beranjak pergi dari kamarnya tanpa mengatakan apapun.
~°~
Sudah sejak lama Wayne tidak dapat mengingat masa lalunya. Bagaimana dia bisa tinggal di sekumpulan para vampir dan diadopsi oleh salah satu keluarga vampir tanpa tahu apa yang dilaluinya saat dia masih kecil dulu. Teman-teman dan terlebih orangtuanya.
menyediakan kebutuhannya tanpa sekalipun mengobrol dan menghabiskan waktu remeh seperti menonton bola, berita ataupun makan bersama (untuk yang terakhir pada akhirnya bisa dia maklumi akibat status keluarganya tersebut.)
Lauren juga tidak pernah membahas apapun soal itu. Perempuan itu akan selalu mengalihkan pembicaraan dengan sesekali menyentuh dahinya dan mengusapnya pelan. Berkali-kali hingga membuatnya merasa seperti idiot.
"Bangun, Wayne." Sebuah suara yang terdengar manis terdengar di telinganya.
Dia membuka matanya dengan malas dan melirik kesekitar kelasnya yang sudah tampak kosong, hanya tinggal dua anak lain yang sedang berberes dan salah satu anak yang bersender di meja guru dan memainkan ponselnya.
"Kau tertidur seharian," ujar suara itu lagi. "Apa kau begitu lelah?"
Wayne menatap wajah perempuan itu dan segera bangkit dari kursinya tanpa mengatakan sepatah katapun. Meraih ranselnya sebelum melangkah keluar dari kelas dan berjalan dengan pasti menuju luar sekolah.
"Wayne!" Suara itu kembali memanggilnya.
Dia tidak mengacuhkannya dan tetap berjalan. Beberapa saat lagi perempuan itu pasti akan menggandolinya seperti biasa lagi tanpa merasa terganggu, berbeda sekali dengannya.
__ADS_1
Langit terlihat lebih gelap dibanding beberapa hari yang lalu di atasnya. Wayne berhenti berjalan. Pandangan matanya tiba-tiba terpaku pada sekumpulan awan yang bergerumul di sana, memerhatikan awan-awan tersebut berarak dengan pelan dan memperluas bagian berwarna gelapnya.
Sebuah lengan sudah kembali menggandolinya. "Aku mendapatkanmu."
Wayne tidak mendengarkan, perhatiannya terlalu terpusat pada langit yang berada di atasnya dan sesuatu hal yang sedang memandangnya dari jauh. Bulu kuduknya meremang, pandangan matanya secara perlahan beralih pada sosok berbulu dengan empat kaki yang berada dua meter di depannya, tampak menggeram dan mengancam dengan gigi taring yang menonjol.
"Wayne...."
Pandangan mata serigala itu tiba-tiba mengarah kepadanya. Wayne hanya bisa terpaku ketika sosok berbulu itu berjalan ke arahnya, tampak lebih tenang tapi tetap mengancam, dan dalam sedetik menghilang dari hadapannya.
Genggaman di lengannya juga terasa menghilang.
Wayne kembali melihat ke atas dan menemukan dua kilasan cepat yang saling bertubrukan. Jeritan memenuhi lapangan, anak-anak vampir yang sebelumnya mengobrol dan bercanda ria segera berlari menjauhi lokasi kejadian.
Kedua sosok itu masih terlihat seimbang saat keduanya kembali ke tanah. Wayne hanya bisa melihat kilasan bulu hitam dari serigala tadi, gerakan Lauren terlalu cepat hingga tidak bisa melihat dengan baik. Dia tidak pernah tahu apa saja yang sudah dilakukan dua sosok itu.
Semakin lama lajur pertarungan mereka bergeser menuju hutan. Wayne melangkah tiga meter di belakang mereka, menjaga jarak aman, kedua sosok itu mulai memperlambat gerakannya. Tetapi tekanan pukulan dan belitan dari masing-masing sosok itu terlihat menguat.
Wayne mengatupkan mulutnya serapat mungkin. Merasa gelisah ketika pandangan matanya menangkap gerakan Lauren yang dengan cepat menahan serigala itu dalam belitan tubuhnya, menghempaskan sosok itu hingga menubruk sebuah pohon besar.
Tubuh sosok berbulu itu tampak lemas saat akhirnya merosot dengan posisi tidak wajar pada pohon itu. Kaki kirinya terletak pada arah yang berlawanan dan bulu-bulunya tampak kusut, sisi perut bagian bawahnya mengeluarkan cairan merah kental yang sejauh ini merupakan luka paling parah yang bisa dia lihat.
"Sistem penyembuhanmu melambat, pengubah bentuk?" tanya Lauren dengan tenang.
Wayne memerhatikan mata serigala itu menatap pada satu titik kosong di depannya. Berusaha menggeram memeringati dengan napasnya yang bisa dibilang tersengal.
Pandangan mata cowok itu mengedar dengan cepat, berusaha mencari sosok Lauren yang tiba-tiba saja menghilang kembali. Dia teringat bahwa kakak angkatnya itu merupakan salah satu vampir yang memiliki bakat khusus yang berguna untuk saat seperti ini.
Dia mengepalkan salah satu tangannya dengan erat, merasa bimbang dengan suara hatinya yang menyuruhnya untuk menolong serigala itu. Cowok itu tidak mengerti alasan mengapa dia harus menolong serigala itu yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Sistem penyembuhanmu melambat, pengubah bentuk? Wayne teringat pada pertanyaan retoris yang dilontarkan oleh kakak angkatnya. Pengubah bentuk ... manusia menjadi hewan.
Dia kembali menatap serigala itu dan dengan secepat mungkin berlari kearahnya.
__ADS_1