Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 10


__ADS_3

Tanpa banyak bicara, Gino dan Susan keluar lebih dulu, sedangkan Meta masih tidak bergerak dari Abi. "Kalian


duluan aja, gue masih pengen sama Abi" jawab Meta.


"Tidak bisa, Ta. Abi ada perlu."


Hendengus keras, akhirnya Meta mau beranjak. Sebelum keluar, Meta melemparkan tatapan sinis pada Ami. Ami


hanya menunduk, meremas kedua tangannya.


"Kakak ke kantin dulu, Ami?"


Ami mendongak, dia melemparkan senyum pada Ace. "Makasih, Kak. Eh, Kakak kalo turun, bareng ya sama


teman Ami. Dia sendirian di luar" Awalnya Ace bingung, tapi dia memilih mengangguk dan beranjak keluar kelas.


Perlahan Ami mendekat ke tempat Abi duduk, Ami hanya berdiri di samping meja dan menatap Abi takut takut.


"Ami boleh duduk di samping Kak Abi?"


Tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponsel, Abi mengangguk. "Ya."


Dengan gerakan hati-hati, Ami duduk di samping Abi. Ami mulai mengeluarkan botol air minum lebih dulu,


setelah itu bekal untuk Abi, dan untuk dirinya. "Kak, ini bekalnya."


Aroma nasi goreng menguar, secepat kilat Abi meletakkan ponsel di samping botol minum dan langsung


menyuap satu sendok. "Enak banget"


"Enak, kan? Ami juga suka." Seperti Abi, Ami juga menyuap satu sendok nasi goreng ke mulutnya.


"Lo sendiri yang masak?"


"Bukan. Yang masak itu Mbok Latri, dia sudah kerja dari Ami belum lahir, lah."

__ADS_1


Abi mengangguk-ngangguk sebagai jawaban, pandangannya sesekali beralih menatap nasi goreng dan Ami


bergantian. "Kenapa lo nggak belajar masak?"


"Ami nggak di suruh ikut masak. Soalnya kalau Ami masak, pasti dapur kacau."


Satu suapan terakhir, Abi mendorong bekalnya. Kini pandangannya fokus pada Ami yang sedang minum. "Lo


anak orang kaya?"


Cepat-cepat Ami meneguk air minumnya. "Nggak tau, tapi kata teman-teman Ami waktu SMP, Ami termasuk anak


grang kaya, Caddy Ami punya perusahaan."


"Oh ya? Apa namanya?" tanya Abi, dia juga meraih botol air yang tadi di minum Ami dan menegaknya.


Helihat itu, wajah Ami merona. "J Group," jawab Ami pelan


Mata Abi bertinar. "Kalo kaya, nggak bisa masak, nggak apa-apa, tinggal bayar pembantu. Gampang, kan?"


Ami menggeleng tidak setuju. "Kata Mommy, anak perempuan harus bisa masak. Kalau nikah nanti, bisa masakin


*Serah lo aja, sih." Abi kembali mengambil ponselnya, tadi dia sedang sbuk berkirim pesan dengan Tante Rita.


Wanita yang baru Abi kenal lewat intagram pagi tadi mengajaknya ketemuan di Cafe sepulang sekolah,


Selesai mengemas bekal makan yang kosong, Ami menatap Abi selama lima menti. Tidak ada tanda-tanda cowok


itu ingin mengajaknya berbicara, Ami memutuskan untuk pergi saja. "Kak, Ami kembali ke kelas dulu" Karena


tau Abi tidak menjawabnya, Ami bangkit dan berjalan sedikit cepat.


Belum kakirnya menginjak koridor, Ami kembali ditarik masuk oleh Abi. "Kasih nomor lo."


*Nomor" tanya Ami bingung

__ADS_1


"lya, nomor ponsel atau nomor whatsapp, apa saja yang penting aktit"


Senyum Ami mengembang, dengan cepat dia mengambil ponsel Abi dan mengetikkan nomor ponselnya.


Beruntung Ami hapal, kalau tidak, bisa rugi sekali dia. "Nih, Kak." Ami menyerahkan kembali ponsel Abi.


Sokilas Abi molirik layar ponselnya, komudian mendongak. "Makasih bekalnya." Dia monepuk kepala Ami


layaknya hewan peliharaan. "Besok bawa yang lebih enak lagi


Rasanya dada Ami akan meledak karena perlakuan Abi. Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Ami mengangguk kaku


dengan pipi memerah, setelah itu berbalik dan berjalan sempoyongan.


Abi terkekeh melihat itu, tidak buruk juga pikirnya. Sepertinya Abi berpikir ulang mengatakan Ami tidak menarik,


cewek itu begitu lucu sekali saat merona.


Tatapan Abi kembali pada layar ponsel dengan deretan angka, Abi menyimpan nomor Ami dengan nama, "Si


Mungil


Tepat bel pulang berbunyi, dering ponsel Ami juga ikut berbunyi. Dia mengambil benda tipis itu dari dalam tas


lalu mengernyit kening bingung menemukan nomor baru mengiriminya pesan.


+6282324xxxx : Besok pulang sekolah ke kost gue.


Me: Maaf, ini siapa?


+6282324xxXXX: Abi, your superhero.


Senyum Ami melebar sampai ke mata. Dia mendekap ponselnya di dada dengan perasaan yang tidak bisa


digambarkan seperti apa. Membuta Nadira di sebelahnya bergidik geli dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"твс.



__ADS_2