![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Maaf baru up
Oh iya, selamat menjalankan ibadah puasa yaa
Beberapa kali Abi melayangkan tinju pada samsak. Peluh sudah merembes melewati cela pori-pori, hampir
membasahi kaos putih polos yang Abi kenakan.
"Istirahat dulu, Ab." Brandon, pemilik MMA Lion Club melemparkan satu botol air mineral dingin pada Abi.
Dengan sigap Abi menyambut lalu meneguk setengahnya. "Kemampuan lo semakin meningkat, dan gue bangga
karena itu."
"Kalau Abang lupa, gue Abi yang serba bisa. Serba keren dari sudut manapun."
"Siall Sombong banget lo!" Abi terbahak mendengarnya.
Hari ini, genap tiga bulan Abi bergabung dengan club MMA milik Brandon yang terpaut usia sembilan tahun di
atas Abi. Bahkan Abi sudah jadi pemain tetap di sini. Setiap ada pertandingan, Abi akan diajukan sebagai peserta,
dan tidak sedikit kemenangan yang Abi peroleh. Uang hadiahnya juga besar, itu faktor utama yang membuat Abi
bergabung.
"Bang, gue pulang dulu," pamit Abi setelah menghabiskan air mineral dan peluh di tubuhnya sudah mengering.
"lya. Jangan lupa, sore sabtu ada pertandingan. Kali ini uangnya lebih gede, dan lawan lo juga nggak bisa
dianggap remeh.
"Gampang itu." Abi mengacungkan jari jempolnya lalu menepuk pundak Brandon. "Demi uang, hulk pun gue
__ADS_1
lawan."
Brandon hanya tertawa lalu menggeleng gelengkan kepala. Abi itu anak didik Brandon yang paling percaya diri,
tapi kemampuannya memang patut diacungi jempol. Satu bulan pertama bergabung saja, Abi sudah
memenangkan dua pertandingan untuk pemain pemula.
***
Abi mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Terdengar suara pintu kost diketuk, bergegas Abi
menggantung handuk di belakang pintu lalu keluar kamar. Dari kaca, Abi melihat Ibu Lidia, pemilik kost tempat
Abi bersama anak perempuannya. Abi memutar handle pintu lalu bertanya, "Ada apa, Bu?"
"Gini Nak Abi, Ibu mau nagih uang kost-kostan. Soalnya uang itu untuk biaya berobat suami Ibu."
buat ngambil uangnya?"
"Eh, silahkan-silahkan. Pulangnya langsung antar ke rumah Ibu aja, ya? Nggak pa-pa, kan?"
"Nggak pa-pa, Bu."
"Duh, sebenarnya Ibu nggak enak nagih-nagih gini, Nak Abi."
"Tidak apa-apa, Bu. Sebenarnya Abi yang harusnya nggak enak sama Ibu karena lupa bayar kostan."
Bu Lidia tersenyum. "Yaudah, Ibu kembali ke rumah dulu. Nanti Nak Abi datang aja." Abi mengangguk. Setelah Bu
Lidia dan anaknya pergi, Abi masuk ke dalam kamar. Mengganti celana selututnya dengan jeans panjang lalu
mengambil jaket untuk menutup kaos hitam polosnya.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu, Abi langsung memacu motor vespanya menuju atm terdekat. Beruntung uang yang
dikasih Tante Ana masih ada, setidaknya cukup untuk membayar kost-kostan Abi. Untuk uang makan dan
lainnya, biar Abi pikirkan nanti. Lagian masih banyak cewek-cewek yang naksir Abi, Abi juga bisa meminta tolong
pada mereka. Terlebih pada Ami, pasti Ami dengan senang hati menolongi Abi, mengingat Abi pernah
menyelamatkannya.
Delapan ratus lima puluh ribu uang yang Abi tarik dari mesin atm. Saldo yang tersisa hanya seratus ribu dua ratus
rupiah saja, menyedihkan sekali kondisi keuangannya saat ini. Semoga saja, salah satu dari para Tante-Tante
menghubingi Abi, karena hanya mereka yang bisa memberi uang banyak.
Bergegas Abi melajukan motornya menuju rumah Bu Lidia. Seperti yang diduga, Bu Lidia sedang menunggu
kedatangan Abi. Bahkan saat Abi menyerahkan uang kost, Bu Lidia berkali-kali mengucapkan maaf dan terima
kasih. Sampai-sampai Abi tidak enak sendiri.
Pulangnya, Abi langsung ke kost. Merebahkan diri dan uring-uringan di tempat tidur. Dari sore berganti malam,
para Tante itu seolah kompak tidak menghubungi Abi. Sedangkan saat ini Abi dalam kondisi lapar, mana di kost
hanya ada beras saja. Walau Abi anak kost, tapi Abi tidak pandai memasak, Abi sering makan di luar atau
membeli lauknya saja.
Dering ponsel berbunyi, Abi yang tadi terpejam kini membuka mata. Abi mengambil ponselnya, nama 'si Mungil"
muncul di layar, Abi menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinga. "Halo, Mungil? Ada apa?"
__ADS_1