Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 22


__ADS_3

Maaf baru up


Oh iya, selamat menjalankan ibadah puasa yaa


Beberapa kali Abi melayangkan tinju pada samsak. Peluh sudah merembes melewati cela pori-pori, hampir


membasahi kaos putih polos yang Abi kenakan.


"Istirahat dulu, Ab." Brandon, pemilik MMA Lion Club melemparkan satu botol air mineral dingin pada Abi.


Dengan sigap Abi menyambut lalu meneguk setengahnya. "Kemampuan lo semakin meningkat, dan gue bangga


karena itu."


"Kalau Abang lupa, gue Abi yang serba bisa. Serba keren dari sudut manapun."


"Siall Sombong banget lo!" Abi terbahak mendengarnya.


Hari ini, genap tiga bulan Abi bergabung dengan club MMA milik Brandon yang terpaut usia sembilan tahun di


atas Abi. Bahkan Abi sudah jadi pemain tetap di sini. Setiap ada pertandingan, Abi akan diajukan sebagai peserta,


dan tidak sedikit kemenangan yang Abi peroleh. Uang hadiahnya juga besar, itu faktor utama yang membuat Abi


bergabung.


"Bang, gue pulang dulu," pamit Abi setelah menghabiskan air mineral dan peluh di tubuhnya sudah mengering.


"lya. Jangan lupa, sore sabtu ada pertandingan. Kali ini uangnya lebih gede, dan lawan lo juga nggak bisa


dianggap remeh.


"Gampang itu." Abi mengacungkan jari jempolnya lalu menepuk pundak Brandon. "Demi uang, hulk pun gue

__ADS_1


lawan."


Brandon hanya tertawa lalu menggeleng gelengkan kepala. Abi itu anak didik Brandon yang paling percaya diri,


tapi kemampuannya memang patut diacungi jempol. Satu bulan pertama bergabung saja, Abi sudah


memenangkan dua pertandingan untuk pemain pemula.


***


Abi mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Terdengar suara pintu kost diketuk, bergegas Abi


menggantung handuk di belakang pintu lalu keluar kamar. Dari kaca, Abi melihat Ibu Lidia, pemilik kost tempat


Abi bersama anak perempuannya. Abi memutar handle pintu lalu bertanya, "Ada apa, Bu?"


"Gini Nak Abi, Ibu mau nagih uang kost-kostan. Soalnya uang itu untuk biaya berobat suami Ibu."


buat ngambil uangnya?"


"Eh, silahkan-silahkan. Pulangnya langsung antar ke rumah Ibu aja, ya? Nggak pa-pa, kan?"


"Nggak pa-pa, Bu."


"Duh, sebenarnya Ibu nggak enak nagih-nagih gini, Nak Abi."


"Tidak apa-apa, Bu. Sebenarnya Abi yang harusnya nggak enak sama Ibu karena lupa bayar kostan."


Bu Lidia tersenyum. "Yaudah, Ibu kembali ke rumah dulu. Nanti Nak Abi datang aja." Abi mengangguk. Setelah Bu


Lidia dan anaknya pergi, Abi masuk ke dalam kamar. Mengganti celana selututnya dengan jeans panjang lalu


mengambil jaket untuk menutup kaos hitam polosnya.

__ADS_1


Setelah mengunci pintu, Abi langsung memacu motor vespanya menuju atm terdekat. Beruntung uang yang


dikasih Tante Ana masih ada, setidaknya cukup untuk membayar kost-kostan Abi. Untuk uang makan dan


lainnya, biar Abi pikirkan nanti. Lagian masih banyak cewek-cewek yang naksir Abi, Abi juga bisa meminta tolong


pada mereka. Terlebih pada Ami, pasti Ami dengan senang hati menolongi Abi, mengingat Abi pernah


menyelamatkannya.


Delapan ratus lima puluh ribu uang yang Abi tarik dari mesin atm. Saldo yang tersisa hanya seratus ribu dua ratus


rupiah saja, menyedihkan sekali kondisi keuangannya saat ini. Semoga saja, salah satu dari para Tante-Tante


menghubingi Abi, karena hanya mereka yang bisa memberi uang banyak.


Bergegas Abi melajukan motornya menuju rumah Bu Lidia. Seperti yang diduga, Bu Lidia sedang menunggu


kedatangan Abi. Bahkan saat Abi menyerahkan uang kost, Bu Lidia berkali-kali mengucapkan maaf dan terima


kasih. Sampai-sampai Abi tidak enak sendiri.


Pulangnya, Abi langsung ke kost. Merebahkan diri dan uring-uringan di tempat tidur. Dari sore berganti malam,


para Tante itu seolah kompak tidak menghubungi Abi. Sedangkan saat ini Abi dalam kondisi lapar, mana di kost


hanya ada beras saja. Walau Abi anak kost, tapi Abi tidak pandai memasak, Abi sering makan di luar atau


membeli lauknya saja.


Dering ponsel berbunyi, Abi yang tadi terpejam kini membuka mata. Abi mengambil ponselnya, nama 'si Mungil"


muncul di layar, Abi menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinga. "Halo, Mungil? Ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2