Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 32


__ADS_3

Update slang deng


So, selamat membaca. Semoga puasa hari Ini lancari


"Pssstt . pssstt.. Kak Ace? Kak?"


Ace menoleh dan dibuat bingung saat menemukan Ami yang tengah bersembunyi di luar kelas. Tangan Ami


melambai-lambai mengisyaratkan Ace untuk mendekatinya. Setelah mendekat, Ace bertanya, "Ada apa, Ami?"


Dengan tergesa-gesa Ami menarik Ace keluar lalu menyodorkan tas yang berisi bekal makan siang. "Bantu Ami


kasihin ini buat Kak Abi."


"Abi ada di dalam. Ami langsung kasih aja. Atau mau Kakak panggilkan?"


"Shutt.. jangan kenceng-kenceng, Kak. Takutnya Kak Abi tau kalo Ami ada di sini."


"Kenapa?" tanya Ace yang juga ikut berbisik-bisik mengikuti Ami.


"Itu ." Sesaat pikiran Ami mengulangi kejadian demi kejadian yang membuat malu sampai seratus tahun.


Memikirkan hal itu membuat pipi Ami memerah, dengan kuat Ami menggeleng. "Pokoknya untuk sekarang Ami


nggak boleh ketemu Kak Abi dulu. Titip ya, Kak."


Setelah menyerahkan bekal makan siang untuk Abi, Ami menoleh ke kiri dan kanan lalu pergi dengan cara

__ADS_1


mengendap-endap. Seolah-olah Abi bisa ada di mana saja.


Ace memandangi tas itu lalu menghela napas. Kok menyedihkan, ya??7?


***


Waktu istirahat, ponsel Ami berbunyi dan itu pesan dari Abi yang menanyakan perihal kenapa Ami tidak ke


kelasnya alih-alih menitipkan makanan saja. Ami mengatakan kebohongan kalau dirinya sibuk menyalin catatan.


Beruntungnya itu berhasil karena Abi percaya dan tidak mengirimi Ami pesan lagi.


Saat pulang ternyata lebih berat lagi. Abi menunggu Ami di depan kelas. Beruntung saat bersiap-siap untuk


pulang, teman-teman ceweknya yang katro itu berteriak dan jejeritan di depan pintu 'Kak Abi, Kak Abi, Kak Abi'.


sudah pulang duluan. Dengan tampang terpaksa dan ogah-ogahan Nadira akhirnya menuruti permintaan Ami.


Sementara Nadira berbicara dengan Abi, Ami memilih bersembunyi di kolong meja paling belakang kelasnya


sambil menutup mata dan menggigit jari cemas. Tidak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat, Ami


menghela napas lega dan bersyukur dalam hati karena Nadira pasti sukses menyampaikan kebohongan.


"Sedang apa, Mungil?"


Suara serak yang khas sangat akrab sekali di telinga Ami menyapa. Ami membuka matanya cepat dan terlonjak

__ADS_1


kaget. "Akh!" jerit Ami memegangi belakang kepalanya yang baru saja terantuk meja. Bagaimana Ami tidak


kaget? Yang Ami kira tadi Nadira ternyata itu adalah Abi. Parahnya, cowok itu juga ikut-ikutan berjongkok


menatap Ami heran.


"Nga-nga-ngapain?" tanya Ami tergagap-gagap.


"Lo akhir-akhir ini sering banget jedotin kepala."


Ami masih mematung memandangi Abi sambil memegang kepala bagian belakang, matanya mengerjap lambat.


"Ck! Ayo." Abi mengulurkan tanggannya.


Ami memandangi wajah dan tangan Abi bergantian. "A-a-a-apa?"


"Lo mau di sini sampe malam?"


Dengan kuat Ami menggelengkan kepala.


"Yaudah keluar dari kolong meja."


Setelah otak Ami mencerna semuanya, dengan gugup Ami menyambut uluran tangan Abi lalu keluar dari kolong


meja. Mereka berdua tidak langsung pulang begitu saja, Ami lebih dulu di dudukkan Abi di atas meja. Meski


terheran-heran, Ami mengikuti saja.

__ADS_1


l l l l l l l l l l l l l l l l l


__ADS_2