Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 21


__ADS_3

Setelah selesai, Ami memasukkan kedua bokal dalam satu tas lengkap dengan botol air minumnya. Ami meraih


gelas yang berisi susu cokelat lalu menegaknya sampai tandas. "Mom, Dad, Ami berangkat duluan, ya?" Ami


menoleh ke samping. "Alan, hari ini kamu ikut mobil Dad aja"


"Loh, nggak sarapan, Sayang" tanya Alea. Dengan sigap Alea mengusap bekas susu ci bibir Ami dan merapikan


rambutnya. "Kok buru-buru?"


"Nggak apa apa kok, Mom. Ami juga bawa bekal." Ami menggoyangkan tas bekalnya. "Ami berangkat dulu, ya?"


Dengan cepat Ami menyalami Alea lalu berpindah pada Andrew. "Dad, Ami berangkat.


"Hmm," jawab Andrew. Dia memberikan kecupan di kening Ami. "Jangan terlalu dekat sama laki laki, berbahaya."


Ami terkikik mendengarnya. "Siap, Bos." Dan yang terakhir Alan. Adiknya itu memicingkan mata pada Ami, tapi


cepat-cepat Ami pergi sebelum Alan melayangkan pertanyaan padanya


"Mator Kak Abi mana?" tanya Ami pada Abi yang baru masuk ke dalam mobil. Mang Sapri sudah menjalankan


mobilnya dengan perlahan. Kini Ami sepenuhnya menryamping untuk memandangi Abi. "Kak Abi udah sarapan?"


"Mator gue di tempat Gina, lagi malas ngambil. Lagian, mobil lo lebih enak. Ada AC-nya, gue juga nggak perlu


keluar uang buat beli bensin." Mata Abi bertubrukan dengan Mang Sapri, Abi sedikit berdehem dan tersenyum.


"Gue belum sarapan, Mungil."


"Nanti di sekolah kita beli rati aja, Ami juga belum sarapan. Cuma minum susu."


"Kok beli roti? Lo nggak bawa bekal, ya?"


"Bawa, dong, Tapi, itukan buat makan kita istirahat nanti."

__ADS_1


"Serah lo aja, Mungil. Asal dibayarin." Lagi-lagi Abi mendapat pelototan Mang Sapri lewat kaca spion, kali ini Abi


hanya nyengir saja.


Mobil berhenti di deopan gorbang, Abi keluar lebih dulu lalu diringi Ami. Semua murid SMA Cendekia yang berada


di gerbang kompak melayangkan tatapan penasaran. Bertanya-tanya, apa hubungan keduanya? Tapi, Abi


memilih cuek, dengan ringan dia melangkahkan kaki memasuki sekolah.


Abi begitu cepat berjalan sampai sampai Ami sedikit berlari untuk menyeimbangkannya. Sepanjang koridor


menuju kelas, kebanyakan dari anak cewek saling berbisik. Ami memandangi mereka satu persatu dengan


bingung, tapi tidak terlalu ambil pusing, mungkin hanya perasaannya saja.


Pandangan Ami beralih pada Abi. "Kak ma"


"Kak Abi


Seorang cewek dengan potongan rambut sebahu dan dua temannya di sisi kanan dan kiri. Cewek itu memegang


satu kotak yang terbungkus rapi, lalu mendekat pada mereka. Bukan Bukan pada mereka, tapi pada Abi. Ami dan


Abi sama-sama memberikan tatapan bingungnya.


"Ya, gue Abi?" Abi menaikkan satu alisnya. Siapa cewek ini? Perasaan Abi tidak pernah bertemu atau berbicara


padanya. Dilihat dari lambang baju, cewek itu kelas X dari jurusan IPB.


"Anu." Cewek itu menelan ludah gugup. "A-ku suka sama Kakak!" katanya sedikit terbata, kemudian beberapa


kali berdehem. "Kakak mau jadi pacar aku"


Anak-anak sudah bergerombol mengerumuni mereka. Ami merasa jantungnya mencelos mendengar permyataan

__ADS_1


itu. Vang benar saja? Superheronya ditembak terang-terangan di sekolah. Ah, kenapa dada Ami sakit seperti ini?


Dan rasanya ingin menangis saja.


"Maaf, namanya siapa, Cantik?" tanya Abi sambil tersenyum santai.


"Laura, Kak. Aku Laura."


"Oke, Laura." Pandangan Abi tertuju pada kotak kado. "Itu buat gue, kan?"


"Eh?" Seolah tersadar, cepat cepat Laura memberikan kado itu pada Abi. "lya, itu untuk Kak Abi," jawabnya


tersenyum jebhar


Abi memberikan kotak itu pada Ami lalu pandangannya kembali pada Laura. "Makasih untuk kadonya." Abi


tersenyum menawan membuat anak cewek histeris di tempat. "Emm. untuk permyataan cinta, kanyaknya


nggak bisa. Tapi kalo sekali dua kali jalan nggak pa-pa, asal Abi mengedip genit. "Dibayarin."


Laura hampir mangap mangap di tempatnya berdiri. Seperti kena hipnotis, Laura mengangguk anggukkan


kepalanya. "iya, Kak


Satu tepukan di puncak kepala Laura, setelahnya Abi merangkul Ami lalu berbalik dan menjauh dari kerumunan


itu. Ami menurut saja, dia masih kehilangan rohnya. Bahkan, Ami tidak sadar memegang erat kado pemberian


Laura tadi. Yang ada di kepala Ami hanya 'Abi ditembak, Abi dinyatai cinta oleh cewek, Abi banyak yang suka'.


твс


Uhm . Ami cinta Kak Ab


__ADS_1


__ADS_2