![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Holaaa ... maaf lama gak update. Hengpon aku rusak dan itu menghambat segalanya.
Beruntung udah diganti, jadi bisa nyapa kalian lagi. Yeayy
Selamat membaca dan jangan bosaaaan
"Kanyaknya, makin hari, makin deket aja kamu sama adek kelas itu?" tanya Meta pada Abi.
"Seperti yang lo lihat," jawab Abi sekenanya. Pandangan Abi tidak sedikitpun berpindah dari layar ponselnya.
"Cewek yang polos gitu enak banget ya dimanfaatin?"
Abi menaikan kedua bahunya tanpa menjawab. Meta tidak menyerah, sebisanya Meta memancing Abi dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan aneh Abi dan Ami. "Kelihatannya, dia juga suka banget sama kamu."
"Itu juga orang buta tahu kali, Ta." Abi tertawa. Yah, sangat mudah sekali membaca gerak-gerik Ami. "Ami itu tipe
yang spontan, apa yang dia rasakan pasti terbaca dengan jelas dari raut mukanya."
Meta sebal mendengarnya. "Kamu tau banget tentang cewek itu," cibir Meta sinis. Sesaat pandangan Meta
beralih, tidak sengaja Meta menangkap kehadiran sosok yang sedang mereka bicarakan di dekat pintu. Meta
__ADS_1
melihat Ami sedang mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Seringai licik tersungging di bibir Meta saat
netranya dan netra Ami saling menubruk. "Bi, kalau dia suka kamu. Terus, perasaan kamu ke dia bagaimana?"
"Jangan tanya aneh-aneh, deh, Ta." Abi terkekeh. "Lo tau 'kan selera gue?"
"Jawab aja, sih. Aku pengen denger." Meta bersidekap, memandangi Abi lekat. Sesekali pandangannya beralih ke
tempat Ami bersembunyi.
"Cewek yang seperti Ami itu, dilihat dari sudut manapun nggak menarik," jeda Abi sejenak. Otaknya berusaha
keras menyangkal apa yang dikatakannya barusan, tapi dia memilih melanjutkan, "cengeng, bodoh, mudah
"Oh, ya?" Meta menyeringai puas mendengarnya. "Jadi, cewek itu buat lo porotin doang?"
"Bisa dibilang seperti itu," jawab Abi pelan. Kenapa sekarang dia jadi tidak yakin dengan ucapannya?
Ami tidak tahan mendengar lebih banyak lagi. Air matanya sudah banjir di pipi, dengan pandangan buram, Ami
menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Rencananya, istirahat ini Ami dan Abi akan makan bersama seperti biasa,
tapi Ami tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut Abi langsung.
__ADS_1
Ami sudah sering mendengar dirinya diejek karena bodoh, cengeng, dan mudah dimanfaatkan. Tapi, mendengar
Abi mengatakan untuk kesekian kalinya, entah kenapa rasanya sakit sekali dada Ami.
Genggaman tangan kanan Ami di tas bekal makin menguat. Saat memasuki ruang kelas, beruntung tidak ada
satupun teman-temannya. Jadi, Ami bebas menangis tanpa merasa malu.
Ami menelungkupkan kepala di atas meja lalu menangis kencang. "Jahat! Ami nggak tau kalau Kak Abi sejahat
itu," katanya di sela-sela tangis. "Padahal Ami kurang baik apa coba sama Kak Abi?"
Tiba-tiba ponsel yang ada di kantong Ami bergetar. Dengan wajah yang dibanjiri air mata, Ami menegakkan
tubuhnya dan mengambil benda tipis itu. Sedetik kemudian Ami mematung, antara percaya dan tidak karena si
penelpon tersebut adalah Abi. Beberapa kali Ami mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatan tapi
tetap saja layar itu menampilkan deretan angka dengan nama 'Kak Abi.
"Angkat nggak? Angkat nggak?" Beberapa kali Ami mengulangi kalimat itu sambil sesegukan, menyelesaikan sisa-
sisa tangis yang masih ada. Tidak lama berkutat dengan pikirannya, ponsel Ami berhenti bergetar. Ami langsung
__ADS_1
menghela napas lega. Untuk sekarang, Ami tidak ingin berbicara dengan Abi karena Ami merasa sangat marah.