![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Hari ini, untuk pertama kalinya Abi dan Ami makan di kantin. Yah, walaupun tetap saja Ami yang membayar. Mau
gimana lagi? Ami memang ditakdirkan jadi anak orang kaya yang punya pemikiran lugu, polos, dan bodoh.
Sehingga, cowok brengsek macam Abi punya keinginan untuk memanfaatkannya.
Kantin ramai seperti biasa. Di meja ini tidak hanya ada Abi dan Ami, tapi ada juga Ace, Gino, Nadira, dan Meta.
Satu lagi, hampir semua cewek-cewek di kantin selalu mencuri-curi pandangan ke meja mereka lalu berakhir
menjerit tidak jelas. Ami yang memandangi sekitarnya jadi bingung sendiri.
Ami duduk berhdapan dengan Abi. Di samping kanan Ami ada Ace dan di samping kirinya ada Nadira. Begitu pula
Abi, di sampinya ada Meta dan di samping Meta ada Gino yang tengah makan batagor dalam diam.
Saat semua sedang sibuk makan, Ami hanya mengacak-acak piring nasi gorengnya sambil sesekali melirik pada
Abi yang tengah menikmati mie ayam. Pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata Ambar. Efek dari semua itu
membuat nafsu makan Ami hilang.
"Tidak makan?" tanya Ace.
"H-hah?" Ami menoleh terkejut.
"Ami tidak makan?"
__ADS_1
"O-oh. Ini baru mau makan, Kak." Cepat-cepat Ami menyuap satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Nadira hanya
melirik sekilas lalu acuh saja.
Ace terkekeh saat menemukan ada nasi di dekat bibir Ami. Diambil Ace butiran nasi itu lalu dimakannya. Setelah
melemparkan senyum, Ace dengan ringan melanjutkan makan yang sempat tertunda.
Bukan hanya Ami yang terperangah tapi Nadira juga ikut terbatuk-batuk dibuatnya. "I-ini. ini . ini?" Kata-kata
yang ingin Ami keluarkan langsung hilang begitu saja ditiup angin.
Abi yang sedari tadi mengamati dalam diam kini mengambil tindakan. Ditarik Abi nasi goreng milik Ami lalu
memakannya dengan kasar. "Makanan itu jangan diacak-acak. Mentang-mentang anak orang kaya, lo bebas
berbuat seenaknya. Di luaran sana masih banyak yang kelaparan, Mungil!" tekan Abi. Entah kenapa, telinga Abi
i berdengung panas dan Abi butuh marah-marah untuk melampiaskannya.
"Ami. Ami ."
Karena makan dengan emosi, tidak membutuhkan waktu lama untuk Abi menyelesaikannya. Setelah meminum
es jeruk dengan cepat, Abi berdiri lalu menendang kursinya sampai terjatuh, setelah itu melenggang keluar dari
kantin.
__ADS_1
Meta berdecak sinis dan melotot pada Ami lalu berakhir mengejar Abi.
Ami menunduk sambil meremas kedua jarinya. "Salah Ami apa?" lirihnya.
"Lo tau?" tanya Nadira, lalu dia mendekat untuk berbisik pada Ami. "Salah
karena terlalu bodoh." Setelah
mengatakan itu, Nadira juga pergi.
Gino dan Ace saling berpandangan lalu menoleh pada Ami. Terlihat bahu gadis yang menunduk itu bergetar. Gino
menggeleng pelan tanpa tau berbuat apa-apa lalu memilih ikut pergi.
Yang tersisa hanya Ace. Dengan Lembut Ace mengangkat wajah Ami lalu menyeka air matanya. "Kenapa
menangis? Ami nggak salah, kok."
"Tapi . tapi kata Kak Abi, Ami main-main sama makanan. Kalau daddy sama mommy tau, Ami juga bakalan kena
marah. Ami yang salah, Ami minta maaf."
"lya, lain kali jangan diulang lagi. Terus tadi, Kak Abi marah-marah mungkin lagi ada masalah."
Ami mengusap air mata menggunakan punggung tangan, menarik napas lalu tersenyum kembali. "lya, pasti Kak
Abi ada masalah," katanya ceria. Mungkin, kalau mata Ami tidak bengkak dan hidung memerah, Ace akan percaya
__ADS_1
kalau Ami tadi tidak menangis. Jadi Ami itu gampang, hanya butuh satu detik untuk menangis, di detik
selanjutnya Ami akan tertawa.