![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Kelas X, XI, dan XII IPS 3 memiliki jadwal olah raga di hari yang sama dengan guru pengajar yang berbeda. Ami
dan Nadira mengganti seragam di toilet, setelah selesai mereka bersama menuju lapangan.
Murid kelas X IPS 3 berkumpul di lapangan dan Pak Anton sudah berdiri dengan buku absen. Selesai
mengabsensi, pemanasan dimulai. Mereka lari keliling lapangan lima putaran terlebih dahulu dan terakhir untuk
anak cowok bermain basket dan anak cewek bermain bulu tangkis.
Ami duduk di bangku panjang dekat lapangan basket. Napasnya sangat tidak tertatur, keringat Ami juga banyak.
Tadi, Ami bermain bulu tangkis bersama Nadira, tapi hanya berlangsung delapan belas menit saja, setelahnya
Ami menyerah karena kok bulu tangkis berkali-kali mengenai kepala Ami. Entah itu Nadira sengaja atau Ami saja
yang terlalu bodoh untuk menghindar.
Tiba-tiba Justin duduk di samping Ami dengan keringat yang tidak kalah banyak, bahkan rambut di tepian pelipis
Justin basah semua. Mata Ami mengerjap-ngerjap kemudian menggeser duduk sampai ke bagian pinggir bangku.
"Justin jangan dekat-dekat Ami, badannya bau."
Bukan tersinggung, Justin malah mendekat dan merangkul Ami. "Bau-bau gini tetap ganteng, kok."
"Ish, udah dibilangin jangan dekat-dekat." Ami menepis tangan Justin yang bertengger di bahunya. "Tuh, kan!
__ADS_1
Keringat Justin nempel di badan Ami."
"Kan Justin suka sama Ami." Gaya bicara Justin dirubahnya dengan sengaja. "Ami terlalu imut, Justin jadi
gemas," kata Justin menjawil pipi Ami kemudian terbahak.
Ami mencubit tangan Justin. "Hobi ya godain Ami? Seharusnya Justin itu malu kalo dekat-dekat sama Ami, 'kan
baru kenal."
"Nggak masa--aduh." Justin memekik kesakitan, kepala dan tangannya dipukuli raket milik Nadira yang baru
datang. "Nad, sakit banget ini."
"Rasain biar lo mampus." Nadira tidak berhenti memukul. Ami yang melihat itu langsung tertawa lepas karena
"lya-iya. Udah dong, Nad." Justin melindungi kepala, sebagai ganti, kedua tangannya yang kena pukul. "Aelah, lo
cantik-cantik nyeremin."
"Bodo amat," seru Nadira. Setelah puas, Nadira menghentikan aksi pukulannya. "Nih, kembaliin raketnya." Raket
yang dipengang Nadira langsung dilempar ke pangkuan Justin. Belum sempat Justin protes, Nadira menarik Ami
untuk pergi.
Ami dan Nadira menuju kantin untuk membeli minuman dingin. Saat ingin membayar harga minuman, suara
__ADS_1
yang baru-baru ini akrab di telinga Ami memanggil, "Mungil, bayarin sekalian gue!"
"Loh, Kak Abi?" Ami menoleh dan terkejut saat menemukan Abi baru masuk bersama Ace dan Gino. "Kakak
bolos, ya?"
"Hai, Ami?" sapa Ace. Mereka mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan Ami dan Nadira berdiri. "Lagi
free class, jadi santai di kantin."
"Oooh." Mulut Ami membulat, pandangannya beralih pada Abi. "Kak Abi mau apa makan apa?"
Nadira mencebik tidak suka mendengarnya. "Kok lo mau-maunya sih, Mi? Dia itu manfaatin lo tau nggak?"
"Si Mungil nggak keberatan, kok," jawab Abi cengengesan. "Lagian, kalau lo mau, lo juga bisa deket sama gue,
dengan satu syarat. Lo harus traktir gue makan, minimal dua kali sehari."
"Ogah! Najis banget gue!" Cepat-cepat Nadira menarik tangan Ami. "Ayo, Ami. Kita ke kelas sekarang."
Ami mengangguk, tapi sebelum beranjak, Ami mendekati Abi. "Kakak pesan sendiri aja, ya? Ami mau ke kelas
ganti seragam."
Lembaran uang dua puluh ribu sudah berpindah ke tangan Abi. Tentu saja dengan tangan terbuka lebar Abi
menerimanya. "Makasih, Mungil." Abi menepuk dua kali puncak kepala Ami sambil menyeringai.
__ADS_1