![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Nadira, Ace, dan Gino melongo. Mereka tidak habis pikir dengan Ami, mau-mau saja menuruti keinginan Abi. Dan
lagi, heran saja, kenapa ada makhluk seperti Abi? Biasanya yang matre perempuan, ini kenapa laki-laki? Yah .
mungkin ini yang dinamakan dunia terbalik.
"Dadah Kakak Kakak." Ami melambai pada Abi, Ace, dan Gino. Kini Ami lah yang menyeret Nadira keluar dari
kantin. Nadira hanya pasrah mengikuti sambil geleng geleng kepala. Ami-Ami, saat pembagian otak, kamu ke
mana saja
"Halo, Mon Pulang sekolah jangan jemput Ami, yat"
"Eh, kerapa, Sayang? Tuh Mang Sapri sudah siap-siap jemput kamu," sahut Alea dari seberang
"Ami pulang sama temen, udah janji dari kemarin.
*Yaudah, kamu hati-hati, ya."
"lya, Mom." Sambungan telepon terputus. Buru-buru Ami memasuki buku dan peralatan menulis ke dalam tas,
Nadira sudah menunggu Ami di depan kelas. Setelah selesai, Ami bergegas menghampiri Nadira, mereka
bersama-sama menuju parkiran sekolah,
Tadi, di jam pelajaran terakhir, Ami mendapat pesan dari Abi. Ami di suruh pulang dengan cowok itu, entah ada
hal apa, tapi Ami menurut saja. Karena Ami menyukai Abi, maka Ami akan jadi gadis manis dan menurut semua
keinginan superheronya.
Terlihat di dekat pes satpam, Abi duduk di motor vespa cokelatnya sambil bermain ponsel. Ami tersenyum,
__ADS_1
pesona Abi menmang luar biasa, bahkan Abi berdiam seperti itu saja banyak anak cewek meliriknya. Apalagi Abi
menebar senyum, bisa-bisa satu sekolah, anak ceweknya akan mimisan masal
"Dira. Ami ke Kak Abi dulu, ya?"
Nadira menoleh, memandangi Ami sepersekian detik, lalu bertanya, "Ngapain?
"Ami hari ini pulang bareng Kak Abi."
"Mau apat" tanya Nadira sambil memicingkan mata. Walau baru kenal dengan Ami, Nadira langsung sika dengan
teman mungilnya ini. Ami adalah bentuk dari keinginan Nadira yang ingin mempunyai adik tapi tak sampai.
"Jangan terlalu dekat sama cowok itu, dia nggak baik."
"lya, Dira. Tapi Kak Abi nggak sejahat yang Dira kira, kok."
"Nggak jahat apanya, dia morotin lo, Ami.
Mommy harus saling berbagi."
Nadira memutar bola matanya malas. "Kalau lo diapa-apain sama dia, bilang sama gue. Biar gue torjok muka sok
ganteng itu."
Ami tertawa mendengamya, tapi Ami mengangguk-angguk saja. Setelah Nadira masuk ke delam mobil, Ami
menghampiri Abi yang masih asik dengan ponselnya. "Kak Abi, jadi ke kostrya?" Ami menyentuh bahu Abi.
Cowok itu mendongak, memandangi Ami beberapa detik lalu mengangguk. "Tapi.. apa itu bisa berdua?" tunjuk
Ami pada vespa Abi.
__ADS_1
"Kalo nggak bisa, lo jalan kaki aja."
Mulut Ami mencebik. "Kok tega sama Ami, kost Kakak 'kan jauh?"
Tawa Abi langsung pecah. "Bercanda, Mungil" Abi memasukkan ponsel ke dalam saku, setelah itu menstater
motor vespanya. "Ayo naik"
"Nggak pa pa"
"lya, nggak pa-pa."
"Tapi, Ami takut jatuh, Kak."
"Ck Lo pilih mana, naik motor atau jalan kaki?"
Mau tidak mau Ami menniki motor Abi, dengan hati-hati dia duduk. Tanpa disuruh, Ami melingkarkan tangannya
ke perut Abi. Motor perlahan meninggalkan gedung SMA Cendekia.
Sepanjang perjalanan, Ami memeluk erat Abi, bahkan Abi beberapa kali menegur tapi tidak Ami pedulikan. Ami
takut jatuh, ini adalah kali pertama Ami dibonceng menggunakan motor. Terlebih dari semua itu, jantung Ami
berdetak lebih kencang dari biasanya, parfum yang dipakai Abi membuat Ami merona sendiri, bahkan dengan
nakal Ami mengendus ngendus di pundak Abi.
Membayangkan sikap liarnya, Ami tersenyum dan jadi malu sendiri. Ah, Kak Abi, Ami tambah suka
*TBC*
Ami suka Kak Abi. Suka! Suka! Sukal
__ADS_1