![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Halo.o.o o.o.o.o Maaf lama gak up, aku lagi sibuk karena nikahan kakak aku, belum lagi flu dan batuk yang
datang tidak tepat waktu membuatku tersiksaa
Selama membaca, teman-teman
Besoknya, X IPS 3 dibuat gempar. Pasalnya, Ami keluar dari mobil Jasmine bersama Aurora dan Ella. Ditambah,
Ami yang biasanya ke sekolah hanya menggunakan bedak bayi kini ditambah alis yang tertata rapi dan terlihat
natural, bibir dipoles dengan lipstik pink, dan mata menggunakan lensa coklat bening. Bahkan Justin yang
melihatnya hampir meneteskan air liur saat melihat penampilan Ami sekarang.
"Wah ." Justin ternganga di tempatnya berdiri lalu bergumam lagi. "Wah."
"Apa Ami, aneh?" tanya Ami tak nyaman.
"Lil Ami. ayo ke KUA," ajak Justin setengah sadar.
Nadira yang kebetulan baru memasuki kelas langsung menabok kepala Justin. "Ini baru pagi, please jangan
mulai gilanya."
"Tapi, Nad, Ami terlihat .. wah .."
"Sekali lagi, Just. Sekali lagi ngomong kayak orang mesum, gue tendang aset lo!" ancam Nadira sambil
mengacungkan telunjuknya tepat
muka Justin. Lalu setelah itu, diseretnya Ami ke tempat duduk mereka. "Lo
__ADS_1
ikut gabung geng itu, Ami?" selidik Nadira.
"A-ah, Ami nggak tau."
"Kok bisa nggak tau tapi lo keluar dari mobil mereka?"
"Ami abis nginap di rumah Jasmine. Jadi, pergi sekolahnya bareng mereka."
"Bahkan sampe nginap?" Nadira menarik napasnya cepat. "Baru pertama berbincang langsung menginap? Lo
gimana sih, Mi?"
"Itu ... mereka udah minta izin lebih dulu kok sama mom. Terus, mereka juga baik sama Ami."
Nadira menepuk jidatnya pelan. "Sumpah, lo itu kayaknya perlu periksa mata. Apa-apa dianggap baik, tukang
porotin baik, orang yang buat lo nggak jadi diri sendiri juga dianggap baik. Ck!"
Ami hanya mengerjap tak mengerti apa yang dikatakan Nadira. Kenapa sih, pandangan Ami dan orang lain selalu
"Ah, sudah, deh," pasrah Nadira. Capek sendiri dia kalo menasehati Ami.
***
Abi yang baru saja menegak teh botol langsung menyemburkannya begitu saja. Terakhir, Abi terbatuk-batuk
dengan wajah memerah.
"Pelan-pelan, Ab," kata Meta sambil mengusap-usap punggung Abi.
"Ace, Ace, tampar pipi gue," pinta Abi tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Ace mengernyit tak mengerti. Tapi, tetap saja menuruti keinginan Abi.
Plak!
"Aw! Sakit ****!" ringis Abi sambil memegang pipinya. Matanya mendelik tajam pada Ace yang sedang nyengir.
"Lo sendiri yang minta ditampar dan gue ngelakuin apa yang lo suruh.
"Tapi, nggak kenceng juga."
"Oh, lo tadi nggak bilang jangan kenceng-kenceng."
Abi hanya mendengus saja, lalu pandangannya kembali ke depan. Di kejauhan sana, terlihat seseorang yang
sudah membuat Abi tersedak sedang berjalan menuju kantin bersama teman-temannya. Bahkan, sepanjang
jalan banyak yang menoleh dua kali pada sosok mungil yang sedang tertawa lepas. Abi dibuat tercengo-cengo
dengan penampilannya. Sangat. cantik.
Saat rombongan Ami memasuki kantin, Gino yang biasanya diam kini bergumam, "Cantik."
Abi langsung menoleh ke samping dan bertanya dengan cepat dan matanya mendelik tajam. "Siapa?"
"Yang biasa lo sebut mungil."
Ace tau siapa itu mungil, jadi matanya langsung mencari-cari Ami. Saat menemukan apa yang dicarinya, Ace
langsung menahan napas. Kenapa jantung Ace seakan lepas dari rongganya?
Terdengar bunyi gebrakan meja, membuat semua penghuni kantin yang tadi tertuju pada Ami kini mergalihkan
__ADS_1
pandangan pada Abi. Ya, Abi lah orang yang menggebrak meja itu. Kalau bertanya alasannya kenapa? Karena,
cuacanya sangat panas, dan Abi tidak tahan untuk tidak menggebrak meja.