![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Dengan langkah terseok-seck, Ami mengikuti Nadira. Mereka menuruni tangga tanpa berbicara, Ami tau Nadira
marah, Ami hanya menundukkan kepala sambil memperhatikan langkahnya. Tentu saja Ami malu karena
kejadian tadi, sebodoh-bodohnya Ami, dia juga bisa malu. Yang dilakukan Abi tadi keterlaluan, Ami jadi sedih
karena itu.
"Dengart Jangan lagi dekat-dekat sama cowok itu?" kata Nadira saat mereka sudah duduk di bangku.
"Tapi, Ami suka sama Kak Abi," jawab Ami sambil menunduk
"Suka itu suka aja, jangan jadi bodch, Amil" Tanpa diperintah, air mata Ami keluar sendirinya. Kedua tangannya
saling meremas satu sama lain. "La itu sudah banyak dimanfaatin sama dia!"
"Wes, ada apa ini?" tanya Justin, dia mendekat ke tempat Ami dan Nadira duduk. "Ngapain lo bentak-bentak
Ami guer
"Ini bukan waktu bercanda, Justin!" Nadira menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. "Sanal Kembali ke
tempat lo duduk
"Nggak bisa gitu dong, Nad. Ami sampe nangis gitu."
Cepat-cepat Ami mengusap air matanya. "Ini salah Ami, bukan salah Dira. Justin kembali aja, Ami nggak pa-pa."
*Tapi, liAmi ."
Ami menggeleng lalu tersenyum. "Negak pa-pa, Justin kembali aja."
Walau tidak ikhlas, Justin mengangguk terpaksa. "Tapi janji, ya? Kalau nenek sihir ini ngapa-ngapain Ami,
panggil aja Bebeb Justin." Nadira hanya memutar bola mata malas mendengar kata-kata Justin. Justin itu cowok
playbay, sok ganteng, dan hobi menggombali cewek. Hampir semua cewek di kelas ini kena rayuan mlut manis
Justin, terkecuali Nadira dan Ami. Karena Nadira emang terlalu kebal dengan pesona segala macam playboy,
kalau Ami karena rasa sukanya hanya diperuntukan si superhera saja.
__ADS_1
Sotelah Justin kembali, Ami monunduk lagi. "Dira, maafin Ami, ya?"
"Buat apa minta maaf sama gue?"
"Maaf buat nggak dengerin kata-kata, Dira. Ami nurutin mau Kak Abi karena Ami punya hutang sama dia. Dulu
Ami pemah hampir diperkosa preman, tapi Kak Abi yang nolongin. Ami juga udah janji ke diri Ami sendiri buat
jadiin penolong Ami sebagai pacar atau budaknya. Ami nggak keberatan, kok."
Nadira sedikit terkejut mendengarnya, tapi cepat-cepat Nadira mengusai ekpresi agar datar dan mengintimidasi
kembali. "Tapi nggak harus buat dia semena-menanya kan sama le
"lya, Ami tau. Tapi, entah kenapa, walaupun Ami ingin marah atau kesal sama Kak Abi, Ami nggak bisa lama." Ami
meneguk ludahnya. "Ami bodoh banget, ya?"
"Bodoh banget kuadrat," jawab Nadira cepat. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Ami. "Adik Kocil,
balas budi sewajarnya aja. Gue gini karena lo udah gue anggap adik sendiri, walau tuaan gue tiga bulan, tetep lo
gue anggap adik."
"Bagus," kata Nadira. "Kalau dia jahatin lo, ngomong aja sama gue. Biar gue suruh bodyguard Papi gebukin dia."
Hendengar itu, Ami tersenyum lebar lalu mengangguk.
***
Bel pulang berbunyi, Ami dan Nadira keluar kelas bersama-sama. Tapi di depan kelas, langkah mereka terhenti
karena Abi. Ami sedikit tidak percaya menemukan Abi menungguinya, biasanya Ami yang selalu menghampiri
cowok itu.
Cepat-cepat Nadira menyembunyikan Ami di belakangnya. "Mau apa lagi?!"
"Gue ada urusan sama Mungjil"
Ami ingin menjawab, tapi Nadira lebih dulu memotong kata-katanya. "Belum cukup malu-maluin Ami di depan
__ADS_1
teman-teman le?"
Abi mengusap tengkuknya. "Gue mau minta maaf?"
"Huh!" Nadira mendengus. "Tidak semudah itu!"
"Dira." panggil Ami. "Dira pulang duluan aja. Sopir Dira udah nungguin, kan? Ami nggak pa pa, Kak Abi juga
sudah minta maaf"
"Tapi, Ami.
Ami menggeleng, "Nggak pa-pa, kok."
Mau tidak mau Nadira menurut. Sebelum beranjak, Nadira mengancam Abi lebih dulu agar tidak macam-macam
pada Ami. Abi hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.
"Kak Abi beneran minta maaf?"
"lya," jawab Abi. "Gue tau kalau gue sedikit salah."
"Lain kali jangan diulang lagi, ya? Walau Ami bodoh, tapi Ami juga punya malu. Masa udah capek naik tangga, Kak
Abi usir. Mana barnyak yang ngeliat Ami."
"lya, Mungil. Gue minta maat, sebagai ganti, gue pengen ngajakin lo jalan-jalan."
Mata Ami berbinar. "Mau, Kak." jawab Ami antusias. "Ami kabarin Mom dulu, ya?" Dengan cepat Ami mengirim
pesan pada Alea, setelah itu Ami memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. "Ayo kita jalan jalan!" seru Ami.
Saking antusiasnya, Ami menggenggam tangan Abi menuju parkiran.
Abi tidak melepaskan tautan tangan mereka. Matanya sibuk memandangi Ami dan merasa bersalah, tujuan Abi
meminta maaf sebenarnya karena tidak ingin kehilangan makanan gratis, uang, dan pembantunya. Bukan
karena hal lain. Maat, Mungil.
*твс
__ADS_1