![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Kelas X IPS 3 diapit oleh kelas XIPS 2 dan X IPS 4, Ami dan Nadira masuk ke dalam ruangan yang masih kosong itu
dan memilih tempat duduk sesuka hati. Kompak mereka berdua memilih bangku pojek di bagian tengah.
Setelah menaruh tas, mereka beedua memutuskan untuk ke kantin. Kantin di SMA Cendekia pun khusus, masing-
masing jurusan sudah disediakan kantin dan koperasi. Ami memilih makan sandwich sedangkan Nadira memilih
makan salad.
"Dira, apa bisa kenyang makan itu?" tanya Ami ketika mereka sudah duduk.
Nadira tertawa mendengar pertanyaan Ami. "Tentu saja, kadang juga gue nggak abis."
"Beneran Kalo Ami tidak akan cukup segitu."
"Kan beda, gue harus jaga penampilan, jaga bentuk tubuh. Jadi harus memperhatikan pola makan."
Sambil menggigit sandwich, Ami mengangguk-anggukan kepalanya.
Terdengar derai tawa dari arah pintu membuat Ami mengalihkan pandangannya. Hampir saja sandwich dalam
mulut Ami semburkan saat melihat wajah tidak asing. Cepat-cepat Ami meminum jus mangganya dan berdiri.
"Ngapa-
"Superhero?"
Nadira melotot horor menatap Ami. Bukan hanya dirinya saja, tapi satu kantin menatap Ami dengan tatapan
bingung dan bertanya-tanya.
*Tuh bener, kan? Kamu Superhero?!" Ami memekik antusias, dengan cepat dia mendekati cowok yang
dipanggilnya superhero, "Masih ingat, Ami?"
Kening Si Superhero mengemyit. "Siapa lo?r"
"Ini Ami yang Superhero tolong waktu itu."
"Oh gue baru ingat. SI Mungil yang kasih uang tiga puluh ribu itu, kan?"
"lya." Mata Ami berbinar mengetahui Superhero mengingatnya. "Jadi, siapa nama kamu? Ami mau tau?"
"Uang dua jutanya sudah ada?" Melihat dari ekpresi Ami, Si Superhero sudah dapat menebaknya. Dia menepuk
puncak kepala Ami dua kali. "Sayangnya, kali ini juga tidak bisa"
Lag-lagi Ami hanya bisa memandang punggung yang berlalu begitu saja di sampingnya. Kalau Ami tau akan satu
sekolah dengan superhero, Ami bertekad akan membongkar celengannya.
__ADS_1
"Dek, jangan mau ditipu sama dia."
Merasa ada yang mengajak berbicara, Ami kembali mendongak. Matanya mengerjap lambat, cowok di depannya
Ini juga ganteng tapi masih gantengan superhero. "Kenapa?"
"Dia itu tukang porotin uang "
"Tapi Ami pengen tau namanya, dia sudah nolongin Ami."
"Begini saja, kalau kamu ingin tau tentang dia, tanyakan saja pada Kakak."
"Bolehkah?"
"Tentu saja boleh. Tapi untuk sekarang tidak bisa dulu."
"Kenapa, Kak?"
"Kakak lapar, mau makan.
"Ah ." Ami langsung menepuk jidatnya. Dia juga belum selesai makan. "Kalau gitu nanti Ami ketemu sama
Kakak." Segera Ami menjauh, belum ada beberapa langkah, Ami berbalik lagi. "Nama Kakak siapa? Kelas
berapa"
"Immanuel Ace, kelas XII IPS 1
"Oke." Ami berbalik dan bersenandung kecil karena senang, dia bahkan tidak sadar kalau masih jadi bahan
akan sampai berpikir kalau orang-orang yang menatapnya itu adalah orang yang penasaran sekaligus mencibir,
mengatakan kalau Ami kecentilan. Baru saja satu hari jadi murid SMA Cendekia, sudah berani-beraninya
menyapa dua most wanted sekaligus.
Seperti janjinya dengan Ace, jam istirahat kedua Ami gunakan untuk menemui kakak kelasnya itu. Kebetulan saat
di ujung tangga lantai tiga, Ami berpapasan dengan rombongan Ace, di sana juga ada superhero dan satu cowok
yang tidak Ami tahu.
"Kak Ace, bisa sekarang?" Ami menatap ketiga orang itu satu persatu, ketika berhenti di wajah Superhero, Ami
memandangi sedikit lama dan tersenyum semringah.
"Tentu, sekarang langsung ke perpustakaan kelas X saja." Ace menepuk kedua punggung sahabatnya. "Kalian
duluan, nanti gue nyusul
Dua orang itu berlalu di samping Ami. Bahkan Si Superhero tanpa melirik padanya, itu membuat Ami menunduk.
__ADS_1
Entah kenapa, Ami tidak suka diabaikan oleh superhero.
"Jadi?"
Ami tersentak saat Ace menyentuh bahunya. "Ja-jadi, Kak."
"Ikut Kakak."
Mereka menaiki satu anak tangga terakhir. Menyusuri koridor lantai tiga dan berbelok memasuki ruangan
dipenuhi buku, atau yang biasa di sebut perpustakaan.
Ace mengambil tempat duduk paling pojok agar pembicaraan mereka tidak mengganggu siswa/siswi lain yang
sedang belajar. Baru saja mendaratkan bokong, Ace diberondongi dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Namanya siapa, Kak? Apa dia satu kelas sama Kakak? Apa dia juga sudah punya pacar?"
Seketika Ace terkekeh geli melihat gadis di depannya ini. "Kakak jawab, ya?" Ami mengangguk cepat. "Namanya
Abiandra Putra, satu kelas dengan Kakak. Untuk pacar, kayaknya sudah. Oh satu lagi, Abi suka wanita dewasa,
bukan yang mungil seperti kamu."
Mendengar itu, Ami langsung murung. "Gitu, ya?"
"Jangan tertarik sama dia. Kalau istilah untuk cewek, dia itu matre banget. Pasti kamu dengan mudah
dimanfaatkan."
Entah kenapa, Ami tidak suka mendengar pernyataan Ace. "Kenapa Kakak menjelek-jelekkan teman Kakak?"
"Bukan menjelek-jelekkan, tapi lebih menyarankan untuk hati-hati saja. Apalagi yang polos seperti kamu mudah
sekali ditipu."
"Tapi kalau Ami tidak masalah, bagaimana?"
"Berarti kamu bodoh!"
"Kakak adalah orang ke sepuluh yang bilang Ami bodoh."
Tawa Ace lepas begitu saja. Tiba-tiba dia merasa tertarik dengan gadis mungil di hadapannya ini. Wajah polos
saat mengatakan bodoh itu terlihat menggemaskan sekali. "Nama kamu Ami, kan?"
"lya, Kak. Ada apa?"
"Tidak ada." Ace tersenyum sambil memandangi Ami. Menarik juga!
*твс-
__ADS_1
Kalau dia yang jadi superhero, cocok nggak ya?