Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter.9


__ADS_3

"Dira, mau temenin Ami ke kelas XII IPS 1?" Bel istirahat sudah berbunyi satu menit yang lalu. Saat ini, Ami sudah


siap dengan tas kecil yang berisi bekal dan air minum untuk Abi dan dirinya.


"Mau ngapain?"


"Mau ngasih bekal buat Kak Abi. Soalnya Ami sudah janji sama dia."


"Sebenarnya hubungan lo sama dia apaan, sih?" Nadira memfokuskan pandangannya pada Ami.


"Ami pengen pacaran sama Kak Abi, tapi kata Kak Abi, Ami bukan tipenya. Jadi, kemarin kami berdua


memutuskan untuk jadi teman."


"Gila lo." Nadira tidak habis pikir dengan Ami. "Terus, bekalnya ada berapa?"


"Ada dua. Untuk Ami dan Kak Abi."


"Lah, ngapain lo ngajakin gue?"


"Nemenin Ami jalan. Ami 'kan malu kalau sendirian."


"Setelah nganterin lo, gue ngapain?"


"Dira lapar?" tanya Ami balik.


"Lapar," jawab Nadira cepat.

__ADS_1


"Nah, kalau Dira lapar, habis nganterin Ami, Dira ke kantin aja."


Tangan Nadira sangat gatal ingin menoyor kepala Ami. Tapi dia urungkan dan lebih memilih menjawab dengan


kesabaran level 30. "Ami, lo nggak kasihan kalau gue capek bolak-balik?"


"Jadi, sebenarnya Dira mau apa? Mau ikut Ami sama Kak Abi makan bareng? Ami nggak pa-pa kok kalau bagi


bekal sama Dira."


Lagi-lagi tangan Nadira hanya terkepal, sangat ingin sekali menjambak Ami tapi dia pergunakan untuk mengusap


dada. Itu lebih baik daripada menganiaya. "Oke, gue temenin lo. Nggak pa-pa bolak-balik," putus Nadira


akhirnya. Demi kebaikan bersama, biarlah yang pintar seperti dirinya berkorban.


Senyum Ami terbit, segera dia menarik Nadira ke luar kelas. Tangga menuju lantai dua dan tiga berada di


Karena ini jamnya istirahat, tentu saja koridor dan tangga dipenuhi oleh siswa/siswi baik dari kelas X, XI, maupun


kelas XII yang berbondong-bondong menuju kantin.


Sayangnya, di antara puluhan atau ratusan siswa/siswi itu, Nadira tidak menemukan kakak kelas yang dimaksud


Ami tadi. Padahal Nadira berharap kalau berpapasan di koridor atau tangga, sehingga Nadira tidak perlu capek


lebih banyak lagi.

__ADS_1


Mereka berdua sudah menginjak koridor lantai tiga, Nadira ngos-ngosan menormalkan pernapasannya.


Sedangkan Ami, gadis itu juga berkeringat tapi tidak seheboh dirinya. Malah Ami sibuk mengintip di kelas yang


bertuliskan XII IPS 1.


"Sudah, masuk aja." Nadira gemas, di dorongnya badan Ami.


Ada lima orang yang tersisa di ruangan itu, Ami yang hampir terjatuh jadi salah tingkah dipandangi mereka. Dia


menggenggam erat tas bekal dan tersenyum canggung.


Abi, Ace, Gino, Susan, dan Meta memandangi Ami. Empat dari mereka terlihat bingung, satu lainnya terlihat masa


bodo dan tidak peduli.


"Nyari siapa, Dek?"


Tatapan Ami jatuh pada cewek rambut bergelombang, wajahnya penuh riasan layaknya orang dewasa. Dia juga


yang ada di samping Abi, bergelayut manja. Abi juga balas merangkul cewek itu. "A-Ami nyari Kak Abi."


Ace berjalan mendekati Ami. "Apa yang kamu bawa?" Matanya menatap lekat wajah mungil Ami yang hampir


menangis.


"Bawa bekal. Satu buat Ami, satu buat Kak Abi."

__ADS_1


Ace mengangguk paham. Segera dia menoleh dan mendapati Abi bermesraan dengan Meta, Ace menghela napas


melihat sahabatnya itu. "Susan, Gino, Meta. Lo bertiga ikut gue ke kantin."


__ADS_2