![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Selanjutnya, sarapan hanya terdengar dentingan sendok saja. Alea hanya menatap suami dan anak-anaknya
dalam diam, Alea tidak ikut campur karena apa yang dikatakan Andrew benar. Tidak boleh berbicara saat makan
adalah semboyan yang paling harus diingat sampai mati.
Alan lebih dulu menyelesaikan makan, setelah itu disusul Ami. Mereka berdua beranjak lalu menyalami Andrew
dan Alea bergantian. Di depan, Mang Sapri sudah siap dengan mobil yang akan mengantar mereka ke sekolah.
Setelah Alan dan Ami masuk, dengan perlahan Mang Sapri melajukan mobil.
Alan tidak menggunakan sepeda, karena jarak sekolah Alan lumayan jauh. Sedangkan Ami dilarang oleh Andrew
maupun Alea. Pernah waktu kelas dua SMP, Ami ke sekolah menggunakan sepeda, bukannya sampai sekolah, dia
malah sampai ke rumah sakit karena terserempet motor. Ami itu sangat ceroboh, kadang berjalan saja dia selalu
tersandung, apalagi menggunakan alat transfortasi pribadi, bisa-bisa tinggal almarhum saja.
Mobil berhenti di depan gerbang SMA Cendekia, Ami membuka pintu mobil. Sebelum melangkah, Ami
mengulurkan tangannya pada Alan. "Pamitan dulu sama Ami."
Dengan ogah-ogahan Alan menyambutnya. "Sebenarnya gue yang lebih cocok jadi kakak." Anak terong seperti
Alan juga pakai bahasa remaja gaul.
"Tapi Ami lahir duluan dari Alan. Jadi, Alan harus terima kenyataan itu."
"lya-iya. Hush sana! Nanti gue terlambat!"
Ami hanya mencebikkan bibir. Dia langsung berbalik membawa kakinya memasuki gerbang sekolah sambil
berpikir keras. Sebenarnya Alan itu adik Ami bukan, sih? Kok Ami selalu dijahati sama dia?
"Woi, Kak. Jangan dekat-dekat sama cowok, mereka semua berbahaya!"
Semua pemikiran-pemikiran buruknya langsung buyar mendengar teriakan Alan. Ami menoleh dengan senyum
lebar sambil melambai-lambaikan tangannya. "lya, Alan." Tapi bukannya Alan dan mobil yang ditemukan Ami,
__ADS_1
melainkan jalanan yang kosong. Ami menggaruk kepalanya, salah tingkah karena itu.
Tatapan demi tatapan menghujami Ami membuat pipinya memerah. Bergegas Ami mempercepat langkahnya,
berharap langsung sampai di kelas.
Sekitar dua puluh lima menit, akhirnya Ami bisa mendaratkan bokongnya di kursi. Tadi Ami beberapa kali hampir
salah masuk ruangan, dia benar-benar lupa kalau gedung IPS berada paling ujung.
Kelas begitu ramai, wajah-wajah asing begitu banyak, dan di antara semua itu Ami belum berkenalan, Ami hanya
tahu Nadira saja. Tapi kenalannya itu belum datang, sehingga Ami merasa tersisihkan sendiri.
"Ehm?"
Ami sedikit terkejut mendapati seseorang berdehem dan bangku sebelahnya di duduki oleh cowok berkacamata
dan rambut berwarna coklat keemasan. Tidak hanya sampai di situ, cowok itu juga mengulurkan tangan pada
Ami, tapi Ami malah menatap bengong tangan dan wajahnya bergantian.
Cowok itu salah tingkah, dia berdehem lagi dan mengusap tengkuknya. "Gue ngajakin lo kenalan."
lagi. "Eh, nama kamu siapa, ya?"
"Justin Pradipta.
"Salam kenal, Justin." Ami melepas jabatan tangan mereka dan tersenyum tipis. Setelahnya, Ami terus
memandangi Justin tanpa berkedip.
"Kalau lo?" tanya Justin balik.
"Apanya?"
"Nama lo siapa?"
"Panggil saja Ami."
"Oh, oke," Justin mengangguk mengerti, sedetik kemudian Justin bertanya lagi, "Lo ngapain mandangin gue?"
__ADS_1
"Karena wajah Justin aneh."
Mata Justin langsung melotot. Yang benar saja, ganteng-ganteng gini dibilang aneh. "Bagian mana yang aneh?"
"Semuanya. Terutama rambut, warna mata dan cara Justin berbicara."
Dari sini, Justin bisa menangkap maksud Ami. "Gue asli Inggris, mata ini turunan dari Daddy gue, kalau cara
bicara, itu karena gue masih baru di Indonesia."
"Woah." Ami terkagum-kagum mendengar penjelasan Justin. "Keren! Ami baru kali ini lihat bule."
Ah, Justin mengangguk-angguk mendengar jawaban Ami. Sebenarnya aneh juga, di Indonesia juga banyak bule,
tapi kenapa cewek di depannya ini tidak tahu?
"Permisi, apa masih lama mengobrolnya?" Justin dan Ami kompak menoleh, Nadira berdiri di samping Justin
sambil bersidekap.
"Sudah selesai, kok." Justin bangkit. Dia melirik Nadira dari atas kepala sampai ujung kaki setelah itu kembali ke
tempet duduknya.
"Siapa dia?" tanya Nadira yang baru mendaratkan bokongnya di kursi.
"Justin. Baru tadi Ami kenal sama dia."
"Jangan tertarik sama cowok itu. Dilihat dari penampilan, dia tipe bermulut manis."
"Emang Dira pernah rasain mulut Justin?"
Hampir saja Nadira dibuat mengumpat oleh Ami. Dua hari baru kenal, Nadira dapat menyimpulkan kalau Ami itu
bodoh. "Itu istilahnya untuk cowok yang suka merayu cewek."
Ami membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk tanda mengerti. "Kalau cowok bermulut pahit seperti apa,
Dira?"
Nadira tarik lagi kata-kata Ami bodoh, sebenarnya Ami bodoh banget.
__ADS_1
*TBC*
See you next part...