Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 15


__ADS_3

Vote dan komennya, dong:(


"Bi, pulang sekolah hang out, yuk?" ajak Meta. Cewek yang menyukai Abi dari kelas sepuluh sampai sekarang.


Walau bar-bar, penindas, dan suka semaunya, Meta itu anak orang kaya dan Meta juga tidak pernah tanggung-


tanggung mengeluarkan uangnya untuk Abi.


"Boleh, tapi dibayarin seperti biasa."


"Tentu saja." Meta bergelayut manja di lengan Abi. "Bi, aku pengen beliin kamu baju sekalian. Nanti pilih aja yang


kamu suka."


"Tentu, Cantik." Abi sedikit mencubit pipi Meta. Membuat cewek yang tingginya 165 cm itu makin menempel di


tubuh Abi. Sudah sewajarnya, jika Abi ingin keuntungan maka dia akan membalas dengan dengan hal yang


menyenangkan.


Gerak-gerik kedua orang itu tidak luput dari pengamatan Ace dan Gino. Ace hanya menghela napas dan tidak


mau peduli, lain halnya dengan Gino. Cowok pendiam dan irit bicara itu tidak putus-putusnya memandangi Meta


dan Abi,


Jika Meta menyukai Abi dari kelas sepuluh, maka Gino sudah menyukai Meta dari kelas sembilan, karena Meta

__ADS_1


dan Gino satu SMP. Gino lebih memilih mengamati dan menyukai Meta dalam diam tanpa melakukan


pergerakan. Dia tipe cowok yang lebih suka memendam tanpa mengungkapkan, terlebih cewek yang disukai


Gino menyukai sahabatnya sendiri.


Masih ada waktu delapan menit lagi sebelum bel jam pertama berbunyi, kelas XII IPS 1 terdengar ramai karena


sebagian muridnya memilih memanfaatkan waktu untuk bercanda.


Tiba-tiba, suasana hening seketika, semua pandangan tertuju pada pintu. Abi yang sedang bermain game di


ponsel kini mendongak saat namanya dipanggil. Kening Abi mengerut mengetahui yang memanggilnya adalah


Ami dan temannya yang baru Abi tahu kemarin bernama Nadira. "Ada apa, Mungil?" tanya Abi.


cuma m-mau ngasih piring dan mangkuk Kak Abi."


Semua tergelak mendengar yang dikatakan Ami. Yang benar saja? Ke sekolah bawa piring dan mangkuk? Hal itu


menurut mereka lucu. Meta yang duduk di samping Abi kini mendelik sinis pada Ami. Dalam hati Meta, dia


mencibir dan mengatai Ami sangat kecentilan dan sok pura-pura polos.


Abi bergegas bangkit untuk menghampiri Ami, tapi tangannya ditahan Meta. "Mau ke mana, Bi? Kalau cewek itu


yang perlu, suruh ke sini aja. Jangan sok manja deh pake disamperin segala."

__ADS_1


"Gue yang ada perlu sama dia," jawab Abi sambil melepaskan tangan Meta. Abi menghampiri Ami yang berdiri di


depan pintu bersama dengan Nadira yang bersidekap, memandang Abi tajam. "Mungil, kok dikasih sekarang?


Pulang sekolah aja, nanti pecah lagi. Gue juga nggak bawa tas sekolah."


"Terus gimana, dong? Ami bawa balik lagi, kah?"


Abi mengangguk. "Itu cara terbaik, nanti pulang sekolah kasih lagi sama gue."


Nadira marah karena tingkah Abi. Dia maju dua langkah dan menarik kantong yang dipegang Ami lalu


menyodorkannya pada Abi. "Lo jadi cowok keterlaluan banget! Ami capek-capek naik ke lantai tiga buat ngasih


ini, tapi lo tolak. Waras nggak, sih?!"


"Gue nggak suruh Ami ngasih sekarang. Itu salah dia sendiri," jawab Abi santai.


Ami jadi panik, berusaha Ami menarik tangan Nadira. "Dira, nggak pa-pa. Itu memang salah Ami, Ami lupa ngasih


tau Kak Abi. Main pergi aja."


Kekesalan Nadira bertambah berkali-kali lipat. "Kok lo nyalahin diri sendiri, seharusnya brengsek ini, Ami," tunjuk


Nadira tepat di wajah Abi. "Sudah! Kasih sekarang aja, mau dia terima atau enggak, bukan urusan lo lagi!"


Diletakkan Nadira di lantai kantong yang tidak Abi sambut tadi lalu Nadira menarik tangan Ami untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2