Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 43


__ADS_3

Holaaa .. apa kabar?


Maaf baru up, aku sibuk ngerjain suatu projeke


Tak perlu panjang lebar, selamat membaca.


Hari ini Abi menjadi sosok yang pemarah. Apapun yang dikerjakannya selalu menggunakan emosi. Bahkan saat


latihan, nyaris saja Abi membuat Teguh, rekannya sesama petarung tinju masuk rumah sakit.


"Lo kenapa, sih, Ab?" tanya Brandon tak habis pikir dengan kejadian tadi. "Kalo ada masalah, jangan di bawa ke


tempat latihan. Gini 'kan jadinya."


"Sori, Bang."


"Sori? Lo hampir buat anak orang meninggal dan lo cuma ngomong sori? Gimana seandainya tadi orang tua


Teguh nuntut lo? Ab, gue tau lo ikut clubini cuma karena uangnya."


"Bang, tolong berhenti mojokin gue! Gue salah, dan gue sudah minta maaf sama Teguh dan orang tuanya. Satu


lagi, orang tuanya Teguh nggak nuntut gue."


Brandon mengusap wajahnya kasar. "Sudahlah. Nggak ada gunanya ngomong sama bocah yang lagi emosi."


Abi menggeram. Hampir saja Abi akan mendebat Brandon lagi. Tapi, dering ponsel membuat Abi mengurungkan

__ADS_1


niatnya dan memilih mengambil benda tipis itu.


Nama Tante Feli membuat kening Abi mengerut. Dengan cepat Abi menggeser tombol hijau dan menempelkan


ponsel ke telinga. "Halo, Tan?"


Terdengar suara isak tangis dari seberang sana. "Abi. Tante butuh bantuan."


"Tante kenapa? Apa yang bisa Abi bantu buat Tante?"


"Tolong jemput Tante, Ab. Suami Tante ngurung Tante di kamar. Tante. Tante takut."


"Yaudah, Tante tenang dulu. Abi langsung ke sana."


Setelah memutuskan panggilan, bergegas Abi mengambil ranselnya lalu pamit pada Brandon.


Abi memanjat pagar dan berjalan mengendap-endap menuju jendela kamar yang setau Abi tempat Tante Feli


berada.


Rumah besar yang Abi susupi itu sedang sepi. Entah itu keberuntungan atau apa? Tapi, Abi berhasil dengan


mulus tiba di dekat jendela kamar Tante Feli dan mengetuknya beberapa kali.


Tante Feli membuka jendela dengan tangan gemetar. Bahkan dapat Abi lihat, wajah wanita berusia 29 tahun itu


memiliki memar di sudut bibir. Abi tebak, pasti Tante Feli sangat ketakutan terkurung di kamarnya sendiri.

__ADS_1


Jendela itu tidak menggunakan terali besi. Abi menahan kedua tangan Tante Feli dan membantunya untuk


keluar. Setelah berhasil, Tante Feli berpegang pada tubuh Abi dan menangis tertahan.


"Tante takut, Bi."


Abi menepuk pundak Tante Feli, berusaha untuk menenangkan dan mengurangi rasa takutnya. "Abi ada di sini,


Tante. Jangan khawatir."


Butuh waktu lima menit untuk menenangkan Tante Feli. Setelahnya, mereka keluar mengendap-endap lewat


pintu belakang. Abi bersyukur karena untuk kedua kalinya mereka tidak tertangkap, walau sedikit heran. Karena


setaunya, Tante Feli adalah istri dari salah satu pengusaha sukses yang memiliki banyak bodyguard.


Abi beberapa kali pernah ke rumah Tante Feli, baik itu sebagai teman arisan atau tempat curhat. Abi juga tahu


kalau Tante Feli sangat mencintai suaminya. Dan dari cerita Tante Feli, suaminya sangat posesif dan pecemburu


tingkat akut. Seringnya, jika sedikit saja Tante Feli dekat dengan laki-laki lain, baik itu adiknya sendiri, maka


suaminya akan marah, lalu berakhir mengasari dan mengurung Tante Feli di kamar. Anehnya . dua orang yang


saling menyakiti itu tidak mau berpisah satu sama lain.


l l l l l l l l l l l l l l l l l l

__ADS_1


__ADS_2