Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 41


__ADS_3

Haii maaf lama nggak up, aku sibuk ujian. Memang terdengar banyak alasan, tapi mohon dimaklumi, ya ...


"Coba jelaskan, kenapa lo milih makan bareng cowok itu dibanding gue?" tanya Abi to the point saat dirinya


berhasil menyeret Ami ke belakang sekolah,


Ami menarik napas. Mulai saat ini, sudah Ami putuskan bahwa dirinya akan berusaha untuk berhenti menjadi


cewek bodoh. "Co-coba Kak Abi jelaskan, apa hak Kakak ngelarang Ami makan sama cowok lain?" tanya Ami


balik


"Kita punya perjanjian, Mungil. Walau tidak tertulis di kertas, tapi sah secara lisan."


"Apa pernah dalam perjanjian, Kakak ngelarang Ami buat deket sama cowok lain? Nggak, kan?"


Abi kehilangan kata-katanya. Apa benar. ini Si Mungil?


"Terus masalah perjanjian itu. Kalau kita dulunya buat secara lisan, kenapa kita nggak putusinnya secara lisan


juga?" tantang Ami.


"Ap-apa?" tanya Abi tak percaya.


"Kenapa? Kakak kira Ami akan selamanya mau jadi bahan porotan, bodoh, dan mudah dimanfaatkan?"

__ADS_1


Sebelah tangan Abi mencengram kuat bahu Ami. "Apa tadi? Lo ingin lepas dari gue setelah bikin janji?" Abi


tertawa sarkas, "jangan harap!"


Ami sedikit meringis, tapi kepalanya tetap kokoh mendongak untuk membalas tatapan tajam Abi. "K-Kakak kira


Ami nggak bisa?"


Gigi Abi saling gemelatuk. Marah. Itulah yang saat ini menguasainya. Rasanya sangat cepat sekali. Abi tadi hanya


mendapati Ami tidak ke kelasnya seperti biasa, lalu Abi mendapati Ami makan dengan cowok lain, dan yang lebih


mengejutkan, Ami tiba-tiba menjadi pemberontak.


Wow! Tidak terduga sekali. Otak Abi tidak pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinan Ami akan berhenti


pandangan pertama, dan otak Abi juga tidak


pernah memikirkan dampak seorang Ami pada dirinya begitu besar.


"Sekali lo berurusan sama gue, lo nggak akan pernah bisa lepas, Mungil!" ancam Abi dengan senyum sinis.


Seberapa kuatpun Ami menahan air matanya, tapi tetap saja, Ami adalah sosok keong lemah yang berusaha


melindungi cangkangnya dengan cara memberontak. Ami takut dengan Abi yang sekarang ini, tapi tidak ada cara

__ADS_1


lain lagi. Sebodoh-bodohnya seseorang, tetap tidak akan bisa bertahan dengan orang yang terus-menerus


menyakitinya, bukan? "W-walau nggak bisa, Ami tetap be-berusaha."


"Silahkan! Gue akan lihat seberapa keras perjuangan lo." Abi melepaskan cengkramannya dengan kasar lalu


meninggalkan Ami begitu saja.


Ami merosot di tempatnya berpijak. Kedua tangannya gemetaran, badannya terasa lemas. Beberapa kali Ami


menarik napas tergsea-gesa, seolah baru saja mendapat udara yang sedari tadi dirampas.


Sesaat Ami terdiam, memandangi rok sekolah yang basah karena air mata. Lepas dari Abi. Apa bisa?


***


Ami berjalan dengan pandangan kosong dan hanya pasrah saat diseret-seret oleh Jasmine, Aurora, dan Ella.


Mereka berempat berada disalah satu pusat perbelanjaan. Tiga orang itu begitu antusias, lain halnya dengan


Ami. Saat mereka mengambil kartu milik Ami yang diberikan daddy-nya untuk keperluan mendesakpun, Ami


diam saja. Saat mereka heboh memilih baju dan peralatan make up, Ami juga diam.


Kepala Ami terlalu sibuk digunakan untuk berpikir. Bahkan, tanpa sadar kedua tangannya penuh dengan kantong

__ADS_1


belanjaan. Terakhir, tau-tau Ami sudah di depan rumahnya, dan suara Jasmine, Ella, dan Aurora yang pamit


sekaligus berterima kasih. Tapi . terima kasih buat apa?


__ADS_2