Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 28


__ADS_3

Tiba-tiba hujan turun, awalnya hanya rintik kecil, tapi makin lama makin membesar. Ace yang berisap


meninggalkan sekolah dengan motornya terpaksa mencari tempat berteduh. Kebetulan dekat sekolah ada halte,


Ace memarkirkan motornya dipinggir trotoar lalu sedikit berlari menuju halte.


Beberapa kali Ace mengusap-usap rambutnya untuk menghalau air hujan. Dari beberapa murid Cendekia yang


ada di halte, tatapan Ace berhenti pada cewek berhoodie pink dengan telinga kelinci di bagian tudung kepala.


Hampir saja Ace menyemburkan tawa melihat Ami terkantuk-kantuk dan menabrak tiang besi halte.


Perlahan Ace mendekat. "Ngantuk?" tanya Ace lalu mendaratkan bokongnya di samping Ami.


Ami menoleh dan terkejut. "K-Kak Ace? Um . Ami nggak ngantuk, kok. Ami nggak tidur juga. Serius!"


Ace tersenyum mendengarnya. Entah keberanian dari mana, tangan Ace terulur untuk mengusap kepala Ami.


"lya, Kakak percaya, kok."


Tiba-tiba, wajah Ami terasa panas. Dengan cepat tangannya menangkup kedua pipi. "Y-ya, ha-harusnya begitu."


"Eh, kok belum pulang?" tanya Ace lagi untuk mengalihkan pembicaraan. Karena Ace sendiri juga merasa malu


akan perbuatannya tadi.

__ADS_1


"Ami nunggu jemputan, Kak. Kebetulan Mang Sapri lagi dalam perjalanan jemput Ami."


Ace menganggukkan kepalanya. Pandangannya yang tadi tertuju pada wajah Ami kini dialihkan ke depan. Mana


tahan Ace memandangi Ami lama-lama, karena jantungnya berdebar-debar tidak keruan. Entah sejak kapan, tapi


yang pastinya saat di perpustakaan waktu itu, Ace sudah tertarik pada Ami. Coba Ace tanya, cowok mana yang


tidak tertarik dengan Ami? Sudah cantik, imut, anak orang kaya pula. Walaupun ada minusnya, Ace tetap suka,


kok.


"Kalo Kak Ace di jemput juga?"


"Hah?" Ace langsung tersadar dari lamunannya. Buru-buru Ace menegakkan tubuh dan kembali menatap Ami.


yang tidak gatal.


"Itu, Ami nanya Kak Ace di jemput juga?"


"Oh nggak, kok. Pake motor, itu," tunjuk Ace pada motor yang terparkir tidak jauh dari halte.


Kali ini Ami yang mengangguk. Ami menggosok kedua lengannya karena merasa kedinginan. Hujan tidak sederas


tadi, hanya menyisakan rintik-rintik kecil. Sebagian murid SMA Cendekia memilih menerobos dan sebagiannya

__ADS_1


lagi masih bertahan termasuk Ace.


Deru klakson disertai mobil BMW 520i Luxury Line berhenti tidak jauh dari halte. Ami yang sudah mengenalnya


langsung bangkit. Sebelum melangkah, Ami beberapa kali menepuk rok sekolahnya lalu menoleh pada Ace. "Ami


duluan, Kak."


"lya, hati-hati di jalan, Ami," kata Ace sambil tersenyum melambaikan tangan.


Selepas perginya mobil yang ditumpangi Ami, barulah Ace beranjak untuk menghampiri motornya. Bertepatan


dengan Ace memasang helm, terdengar deru klakson, Ace langsung menoleh dan menemukan Abi yang tengah


melambai-lambaikan tangan dari dalam mobil. Melihat si pengemudi yang berusia seperti mamanya, Ace tebak


pasti itu para pembooking Abi. Ace hanya mengangkat kedua bahunya lalu memacu mobil meninggalkan halte.


***


Malamnya, Ami dan Alan sedang belajar di ruang tamu. Tidak lama, Alea dan Andrew ikut bergabung. Pasangan


suami istri yang memiliki dua anak itu datang tidak dengan tangan kosong, Andrew dengan nampan berisi susu


coklat dan kopi sedangkan Alea datang dengan camilan.

__ADS_1


Setelah meletakkan di atas meja, Andrew menarik Alea untuk duduk di sofa lalu membelai rambut sang istri.


"Bagaimana di sekolah?" tanya Andrew pada kedua anaknya.


__ADS_2