![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
***
Ami di kost Abi. Tugas rutinnya dua kali dalam seminggu adalah membersihkan kost Abi. Walau berat dan Ami
tidak terbiasa, tapi Ami sudah mulai beradaptasi dengan ini semua. Pekerjaan Ami dimulai dengan mencuci
piring, mencuci pakaian, menyapu lantai, dan terakhir mengepelnya.
Abi, cowok itu sedang duduk di ruang tamu. Kakinya terangkat di atas meja dan sibuk bermain ponsel, seragam
sekolah masih melekat di tubuh Abi. Ami yang mengepel bagian dapur sesekali berhenti dan memandangi Abi
dengan wajah muram.
Sedari Ami datang sampai sekarang, Abi tidak mengeluarkan suara barang sepatah atau dua patah kata. Ami
ingin mengajak Abi berbicara tapi selalu diurungkan saat cowok itu acuh tak acuh. Dalam hati, Ami jadi gundah
sendiri. Sebenarnya, Ami yang harusnya marah dan sakit hati karena mendapat gosip tidak mengenakkan, tapi
kenapa justru Abi yang tidak mau berbicara pada Ami dan membuat Ami tersiksa?! Jika Ami boleh meminta,
sebelum Ami lahir, Ami ingin meminta otak yang pandai berpikir saja dibanding kaya.
"Gue ke kamar, lanjutin kerjaan lo," kata Abi ketus sampai membuat Ami terkaget-kaget dari lamunannya.
"I-iya, Kak."
Setelah menghilang, Ami memandangi lama pintu yang tadi dimasuki Abi, menghela napas berat lalu
__ADS_1
melanjutkan pekerjaannya tidak bersemangat.
Selesai semua pekerjaannya, Ami memutuskan untuk pulang. Ami juga sudah mengirim pesan pada Mang Sapri
untuk menjemputnya di kost Abi. Sebelum melangkah keluar kost, Ami merapikan pakainnya yang sempat acak-
acakkan lalu berdiri di depan pintu bercat hitam.
Setelah berpikir hampir lima menit, Ami memilih mengetuk pintu. "Kak Abi, Ami sudah selesai. Ami mau pulang."
Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Ami tidak menyerah, kembali lagi Ami mengetuk pintu. "Kak Abi?"
Tidak sopan pulang tanpa berpamitan, dengan perlahan Ami memutar kenop pintu lalu mengintip. Terlihat Abi
sedang tengkurap di kasur, tubuhnya berada di dalam selimut, yang terlihat hanya bagian kepala saja.
Dengan berjinjit Ami mendekat dan memandangi wajah Abi yang tertidur. Saat Ami akan menyentuh hidung Abi,
Wajah Ami sangat dekat sekali dengan wajah Abi. Sampai-sampai Ami berpikir apakah dia harus bernapas atau
tidak. Seluruh tubuh Ami tiba-tiba tidak normal, jantungnya memompa lebih cepat, dan badannya gemetar.
Abi memandangi Ami tanpa berkedip, netra coklat terangnya bergantian menatap antara bibir dan mata Ami.
Saat Abi memutuskan untuk menabrakkan bibirnya ke bibir merah alami itu, sesuatu yang di luar perkiraan
terjadi. Ami lebih dulu merosot dan malangnya lagi jidatnya kepentok pinggiran kasur. Abi panik dan
memutuskan bangkit untuk menolong Ami.
__ADS_1
"Kak Abi . Kak Abi." lirih Ami sambil memegang jidatnya yang sakit. "Itu ." Satu tangan Ami menunjuk pada
dada Abi. Ami sedikit pening dan merasa ada sesuatu yang keluar dari hidungnya. Saat diseka menggunakan
tangan, Ami terkejut menemukan darah. Darah dari hidung Ami? Kenapa? Padahal Ami merasa benturan
kepalanya tidak parah.
"Mungil? Lo kenapa?" Abi berjongkok dan menggoncang-goncang tubuh Ami.
Mata Ami langsung terbelalak. Gawat! Ami tau apa penyebab dirinya mimisan. Bukan kejedot pinggiran kasur,
tapi . "Da-da-dada ja-uh."
"Apa? Gue nggak ngerti?" tanya Abi yang malah lebih mendekat lagi.
Tidak kuat. Ami tidak kuat lagi menahannya lebih lama. Akhirnya Ami terpejam dengan hidung mimisan yang
tidak berhenti dan wajah memerah seperti orang mesum.
Tidak pernah terbayangkan seumur hidup, Ami pingsan hanya gara-gara seorang cowok shirtless secara live di
depannya.
*тВс
Ami yang polos disuguhi pemandangan kayak gini, gimana nggak mimisan sampe pingsan, coba?
__ADS_1
Si polos ini ternodai