Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 25


__ADS_3

Kak Abl: Mungil, gue boleh request menu sarapan besok?


Kak Abi: Nasi goreng omelet sayur. Jangan lupa, besok ke kost gue. Cucian numpuk, piring kotor banyak, gue


malas bersih-bersih. Karena ada elo, beban gue jadi ringan.


Dengan riang, Ami langsung mengetikkan balasan.


Amira : lya, Kak Abi. Ada lagi"


Kak Abi: Tidak ada. Sudah dulu, nanti malam gue ada pertandingan tirju. Kalo menang, janji deh bakalan nraktir


lo es krim cornetto lima ribuan.


Ah, rasanya kupu-kupu di perut Ami akan lepas karena pesan


Bahkan sekarang wajahnya memereh


memperhatikan obrolan mereka. Padahal semua itu tidak ada yang romantis, tapi Ami saja yang berlebihan.


Bel istirahat berbunyi, Ami dan Abi sudah berjanji untuk bertemu di roftop sekolah. Sekarang Ami tidak malu lagi


berjalan seorang diri, jadi Ami tidak perlu merepetkan Nadira. "Dira, Ami ke Kak Abi, ya"


"Sampai kapan perbudakan lo itu?" tanya Nadira balik.


"Perbudakan apar


Nadira hanya memutar bola matanya malas, capek hati kalau dia ngomong sama Ami lebih panjang lagi. "Nggak


apa apa, kok. Eh iya, Abi Abi itu satu kelas ya sama Kak Ace!"


"Kok Dira tau


"Ya tau lah, 'kan lo yang nyuruh dia nemenin gue ke kantin waktu itu. Dia juga keluar dari ruangan XI PS 1.


"lya juga, ya?" Ami menggaruk-garuk pelipisnya.


"Gue lebih tertarik sama dia."

__ADS_1


"Dira mau Ami mintain nomor Kak Ace?


"Ih apaan, sih?" Nadira menggeleng cepat. "Negak ada, nggak boleh! Gue cuma tertarik aja, nggak lebih. Mending


lo pergi sana, gue juga lapar!" Di depan koridor, Nadira pergi lebih dulu menuju kantin bersama dengan Ambar


dan Julia, mereka berdua duduk tepat di depan Ami dan Nadira.


Ami menuju roftop, dilihatnya Abi duduk di sebuah bangku, posisinya membelakangi Ami. Terlihat ada asap


mengepul tertiup angin, cepat-cepat Ami mendekat dan langsung mengambil putung rokok yang terselip di bibir


Abi, kuat kuat Ami menginjaknya "Kak Abi nggak boleh ngerokok, nggak baik buat kesehatan. Daddy Ami juga


nggak ngerokok!" omolnya. Saat mendongak, tatapan Ami dan Abi bertemu. Ami langsung membelalakkan mata.


"Wajah Kak Abi kenapa?"


"Awm, jangan ditekan, Mungil. Sakit ini."


"Ngomong sama Ami, kenapa jadi biru-biru gini?!" Ami sepenuhnya duduk di samping Abi, tangannya sibuk


membolak-balik untuk melihat lebam di wajah Abi. Mungkin ada tiga lebam, satu di bagian mata, satu di sudut


"Cki Gue ikut pertandingan tinju, dan ini buatan lawan gue. Tapi nggak pa-pa, sebanding dengan uang yang gue


menangin."


*Terus Kakak senang? Gara gara uang, muka Kakak ancur."


"Jangan bawel, lo itu kacung gue, bukan nyokap atau istri, apalagi pacar."


Sekotika Ami cemberut mendengarnya. "Nih bekalnya. Buka sendiri, makan sendiri."


"Lo mau ke mana?" tanya Abi sctelah mencrima tas bekal dari Ami.


"Ke bawah dulu, ada yang pengen Ami beli."


"Jangan lama-lama, gue nitip teh batol dingin. Bayarin juga sekalian," cengir Abi di akchir katanya.

__ADS_1


Ami mengangguk, dengan cepat dia menuruni tangga menuju UKS. Ami bertanya dulu kepada perawat UKS


untuk meminta salep untuk luka. Setelah itu Ami ke kantin untuk membeli minuman yang dipesan Abi. Hanya


membutuhkan waktu dua puluh satu menit, Ami sudah kembali ke roftop, bahkan bel sudah berbunyi dari tujuh


menit yang lalu. Tapi, Ami tidak pedulikan.


Dengan napas terengah-engah, Ami duduk di samping Abi untuk menormalkannya. Setelah dirasa cukup, Ami


merangkum wajah Abi agar menatap padanya. Meski ketar-ketir dan gugup, perlahan salep luka itu Ami oleskan


pada lebam biru Abi.


Abi menatap Ami balik, dia hanya diam saja diperlakukan Si Mungil. Dapat Abi lihat wajah Ami merona, seketika


pikiran untuk menjahili muncul di kepala Abi. Sudut bibirnya terangkat tipis seperti sebuah seringaian.


"Su sudah, Kak." Ami memalingkan pandangannya, dengan tergesa gesa Ami membereskan kotak makan kosong


bekas Abi. Saat ingin beranjak, tangan Ami ditarik Abi, sehingga Ami kembali dalam posisi duduknya. "A-apa lagi.


ya? A Ami mau ke kelas." Berkali-kali Ami meneguk ludah, tenggorokannya terasa kering sekali. Belum lagi Ami


merasa panas dengan tatapan intens Abi.


Wajah Abi mendekat, semakin mendekat, bahkan Ami bisa merasakan hembusan napas Abi sampai Ami merasa


geli karenanya. Sat hidung mereka hampir bersentuhan, mata Ami langsung terpejam. Tidak lama.


Hatcht


Tepat di wajah Abi, Ami bersin. Abi langsung memundurkan vrajahnya dan mengusap dengan gerakan tergesa-


gesa. "Habis semua wajah gue kena iler lo, Mungi


Rencananya, Abi ingin mongerjai Ami, tapi malah Abi yang kena sial. Dasar!


"твс"

__ADS_1


Kangen nggak sama Abi? Sini obatin dulu



__ADS_2