Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 40


__ADS_3

Tapi ponsel bergetar lagi dan masih si penelpon yang sama. Ami jadi sebal dan mencak-mencak sendiri.


"Ngapain, sih, telepon-telepon Ami?! Dasar cowok penggoda! Lihat aja, Ami nggak akan angkat telpon Kak Abi!


Nggak akan!" Saat jari jempol Ami ingin menggeser ke arah tombol merah, tapi sebaliknya malah bergeser ke


tombol hijau. Dasar jari penghianat!


"Halo? Mungil, kok nggak ke kelas gue?


Ami terdiam. Memang ponsel sudah menempel di telinganya, tapi tidak ada keinginan untuk menjawab


pertanyaan Abi walaupun bibirnya sudah gatal. Memang ya? Jadi bucin itu tidak enak, mau marah aja nggak bisa,


mau benci nggak bisa, mau sakit hati lama-lama nggak bisa, apalagi mau berhenti untuk suka? Sangat tidak bisa!


Entahlah, sudah bucin level ke berapa dirinya ini, Ami tidak tau?


"Mungil kamu masih di sana? Kok nggak ada suaranya? Halo? Gue laper!"


Menarik napas panjang, Ami memutuskan untuk menjawab, "Maaf, hari ini Ami nggak mau makan sama Kak Abi."


"Loh, kenapa?!" Terdengar tarikan napas Abi. "Bukannya lo udah janji mau ngerawat gue sampe lulus dari


sekolah ini"


"Si Bodoh Ami lagi nggak mau dimanfaatin Kak Abi!" Ami mengalihkan pandangannya ke pintu kelas saat


mendengar suara gaduh. Rupanya Justin, Aksa, dan Bambang baru masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba Ami

__ADS_1


mendapat ide, lalu dengan lantang Ami menjawab, "Ami hari ini mau makan bareng sama Justin. Gebetan baru


Ami."


"Nggak bisa gitu dong! Ha-halo, Mungil? Mung-" Belum sempat Abi menyelesaikan kata-katanya, Ami sudah


memutuskan panggilan itu sepihak lalu meletakkan ponsel di atas meja sambil menghela napas kesal.


"Gue denger, ada yang ngajakin makan bareng, nih?" Justin mendekat lalu berjongkok untuk memandangi wajah


Ami. "Kebetulan gue juga belum makan," kata Justin menaik turunkan alisnya, menggoda Ami.


"Kata siapa?" Ami memandang balik Justin sambil mengerjap lambat. "Justin salah denger kali."


"Masa, sih? Jelas-jelas Lil Ami ngomongnya kenceng banget."


"Kuping Justin bermasalah deh kayaknya. Pulang sekolah langsung ke dokter aja."


dengerkan kalo Ami ngajakin gue makan?"


Kompak Aksa dan Bambang mengangguk. Justin kembali memandang Ami. "Tuh, kuping gue nggak bermasalah.


Jadi, sekarang kita makan bareng, dong."


Ami mengerucutkan bibirnya karena merasa kalah dalam berbohong. Dengan terpaksa Ami mengambil tas bekal


lalu memberikan satu kotak bekal -yang seharusnya untuk Abi- pada Justin yang sudah duduk manis di samping


Ami dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Lil Ami, minum gue mana?"


"Itu," tunjuk Ami pada botol yang terletak di samping kotak bekalnya.


"Minum lo?"


"Itu," tunjuk Ami lagi pada botol yang sama.


Justin yang ingin menyuap satu sendok nasi goreng langsung terlepas kembali ke dalam wadahnya. Dengan


gerakan alay yang berlebihan, Justin menutup mulut dengan kedua tangan. "Hah? Jangan bilang lo mau ciuman


tidak langsung sama gue, Lil Ami?"


"Ih sembarangan kalo ngomong. Ami sama Kak Abi juga kayak gitu biasa-biasa aj-"


Dengan kekuatan penuh Justin berdiri dan menggeplak meja. "SIAPA ABI?!" Sampai-sampai Ami terkaget-kaget


dibuatnya.


"Woi Just, biasa aja, dong. Kaget ini gue!" teriak Bambang sambil memegang dadanya. Dia sedang enak-enakan


main game dikagetkan oleh Justin. Malangnya lagi, ponselnya jatuh ke lantai lantaran kaget.


Pintu kelas diketuk membuat perhatian Ami, Justin, Aksa, dan Bambang teralihkan. "Siapa yang berani sebut-


sebut nama gue?" Abi muncul dengan wajah datarnya sambil bersedekap di depan pintu.


*тВс"

__ADS_1


Abi : "Gue kasih tampang kek gini. Apa kalian masih marah?"



__ADS_2