![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
"Udah jangan cemberut-cemberut gitu. Gue tau kalau lo menggerutu dalam hati."
"Isht Kok Dira tau?"
"Wajah lo sangat kebaca, cewek bodoh.
"Kok ikut-ikutan panggil Ami cewek bodoh?" kesal Ami.
"Emang kenapa? Kenvataannya, kan"
"Ish, Nadiraaaa."
Nadira tertawa melihat ekspresi kesal Ami. Sangat menggemaskan untuk ukuran cewek yang berotak pas-pasan.
Nadira sendiri mengakui kalau dirinya kalah jika dibandingkan dengan wajah imut Ami. Tapi setidaknya, Nadira
menang karena memiliki kehebatan dalam berpikir.
"Ami, ke kantin barengl" teriak Jasmine dari depan kelas tiba-tiba. Bel istirahat sudah berbunyi tiga menit lalu.
"Cepetan," tambah Aurora.
"Sebentar" Ami bergegas memasukkan buku-bukunva ke dalam kolong meja, lalu menoleh. "Dira, Ami duluan
bareng Jasmine dan kawan-kawan, ya?"
Wajah Nadira berubah datar, "Serah lo!"
Ami mengangguk dan langsung berlari kecil.
Nadira menghela napas lalu geleng-geleng kepala. "Lepas dari buaya, masuk ke sarang ular"
Toko bunga hari ini sedang barnyak-banyaknya pelanggan. Ami dan pegawai toko yang lain kewalahan melayani
mereks. Alan bahkan duduk tersandar di kursi karena baru datang mengantarkan karangan bunga ke rumah
pelanggan
Tiba-tiba Alea mereka datang dengan beberapa bungkusan di tangan, dibantu oleh Bi Latri. "Capek banget, ya
tanyanya setelah meletakkan bungkusan di atas meja lalu mengusap kepala Ami dan Alan bergantian.
__ADS_1
"Capek banget, Mom," keluh Alan. "Tau gini, mending Alan belajar seharian aja ketimbang di toko."
"Alan, nanti Ami bilang sama Dad loh kalo Alan nggak mau bantuin Mom" ancam Ami.
"Dasar si cengen tukang adu." Alan mencebikkan bibir.
"Sudah-sudah, ini dimakan dulu sama Kakak kakaknya." lerai Alea. Kehamilannya sudah memasuki usia delapan
bulan dan suami posesifnya itu tidak memberikan izin Alea untuk menginjakkan kaki ke toko bunga untuk
bekerja. Bahkan, berjalan-jalan saja kadang dilarang Andrew. Andrew hanya mau Alea duduk atau berbaring saja,
kalau mau sesuatu tinggal panggil Mang Sapri atau Bi Latri. Tapi Alea tidak pernah menurut. Dia merasa kalau
berdiam seperti itu, badannya akan sakit semua. Ada-ada saja ibu mau tiga anak itu.
*Mom, pizzanya enak. Ami suka. Makasih." Ami mengunyah sambil tersenyum senang. Anjani, Ocha, dan Bimo
langsung tersenyum bersamaan mendengarmya. Ami yang poles tapi cengeng itu adik favorit mereka di tako.
"Sama-sama, Sayang. Makasih juga udah mau bantuin toko Mom."
"Yaudah, Mom balik ke rumah. Kalian kalo selesai, langsung pulang aja. Ayo, Bi?" Bi Latri mengangguk. Mereka
berdua langsung pergi.
"Kak Anjani sama Kak Ocha, banyakin dong makan pizzanya. Kakak berdua yang paling sibuk merangkai
bunganya." Ami menyodorkan kotak pizza ke depan Ocha dan Anjani.
*Iya, Ami." jawab mereka bersamaan.
"Kak Bimo nggak ditawarin, Mi?" tanya Bimo sambil menaik-naikkan alisnya.
Ami tersenyum malu. "Maat, Ami lupa, Kak."Lalu semua yang ada di ruangan tergelak.
Saat mereka sedang asik bertanda, pintu toko terbuka. Bersamaan dengan itu, Alan yang kebetulan sudah
selesai makan piza langsung ke depan. "Cari bunga apa, Bang?" tanya Alan.
"Eh, bukan cari bunga. Mau cari Ami
__ADS_1
Alan mengerutkan kening. "Kak Ami, buat apa?" tanyanya sambil bersidekap.
"Mau ngajakin jalan jalan. Ami-nya di mana?" Lalu matanya sibuk melirik ke ruangan yang berada di belakang
Alan.
"Kak Ami lagi istirahat. Kombali lain kali aja," ketus Alan.
"Tapi, kami udah janji."
"Emang lo siapanya Kak Ami sampe bikin janji segala"
Dia menggaruk tengkuknya. "Teman satu sekolahnya. Lalu, kamu sendiri siapa
Alan menaikkan dagu. "Gue adiknya. Kenapa?" Mata Alan menyipit. "Beritahu gue nama lo siapa?"
"Ace," jawab Ace kikuk. Baru pertama kali dia di introgasi adik dari Ami. Terlihat galak sekali, becla sama
kakaknya. "Bilang aja kalo Ace yang cari, Ami akan tau, kok."
"Nggak ada. Kak Ami hari ini sibuk, dia baru aja istirahat. Lain kali lo datang ke sini, sekalian beli bunganya," usit
Alan sambil mendorong tubuh Ace keluar.
Baru menutup pintu, Alan langsung berbalik saat mendengar pertanyaan Ami. "Siapa Alan?"
Alan sampai merentangkan kedua tangannya agar Ami tidak melihat Ace di luar. "Tidak ada, hanya orang yang
bertanya alamat saja. Kak, habis ini kita pulang aja."
Ami membulatkan mulutnya sambil mengangguk.
Melihat Ami percaya, Alan pura-pura mengibaskan debu di baju lalu berdehem. Enak saja mau bawa-bawa kakak
kesayangannya, langkahi dulu Alaneal Johnson.
*Твс
Double kill
__ADS_1