![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Pagi minggu, Ami baru bangun jam sebelas siang. Bukan karena Ami bergadang, tapi karena Ami capek,
badannya sakit semua. Ini gara gara Abi, kemarin Ami di suruh membersihkan kost Abi, mencuci piring dan
mencuci baju. Beruntung di kost Abi ada mesin cuci, jadi Ami tidak perlu capek lebih banyak lagi.
Itu pertama kali Ami melakukan pekerjaan rumah, tapi Ami takut menolak Abi. Ami takut Abi marah dan
menjauhi Ami. Tidak apa-apalah, sekalian Ami juga belajar, kalau di rumah tentu akan dilarang Andrew dan Alea.
Mereka melarang bukan karena terlalu memanjakan Ami, tapi takut barang-barang pecah semua dan itu
memperparah bukan membersihkan.
Ami itu super ceroboh, kemarin juga Ami memecahkan piring dan mangkuk milik Abi gara gara kecerobohannya.
Padahal piring di kost Abi hanya ada dua, gelas dua, dan punya satu mangkuk, tapi satu mangkuk itu sudah Ami
pecahkan. Untungnya Abi tidak memarahi Ami, tapi dengan
u syarat, Armi harus mengganti piring dan
mangkuk yang dipecahkan dan tentu saja harus ada uang santunannya.
Selesai mandi dan berpakaian, Ami menuruni tangga. Armi menemukan Alan yang sedang menonton kartun
sambil mengunyah apel. "Alan, Monm sama Dadke mana?"
"Cek kandungan," jawab Alan tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Ami mau sarapan, Alan ikut juga?" Kini Ami sudah berada di sisi sofa, Alan sama sekali tidak menatap Ami dan
masih fokus dengan kartunnya. Ada sekitar lima apel di atas meja, dan Ami tau semua itu akan habis dalam
sekojap. Alan adalah maniak apel, satu keranjang saja masih kurang untuk anak terong itu.
*Orang bodoh mana yang sarapan di jam sebelas siang?" Alan melirik Ami sekilas. "Ah, gue baru ingat, orang
bodoh itu Kakak gue."
"Alan ngomongnya jangan gitul Ami ini kakak Alan, dan Alan juga masih kecil. Baru kelas satu SMP, mau durhaka
sama kakak sendirir"
"lya-iya, banyak omong. Makan gih, habis itu kita ke toko bunga Mom"
Ami mengangguk. Tanpa menjawab, Ami langsung menuju ruang makan, di dalam tudung saji ada nasi goreng
Rutinitas Ami dan Alan sejak dua tahun lalu adalah ke toko bunga milik Alea saat libur. Ami dan Alan ikut
membantu, bahkan beberapa kali Ami dan Alan ikut mengantar karangan bunga pada pelanggan. Ami tidak
berani belajar merangkai bunga, karena selalu mengacau. Pernah Ami ikut membantu merangkai buket bunga
mawar, tapi hampir kesepuluh jarinya selalu tertusuk duri. Jadi, Ami tidak berani mencoba lagi.
"Selamat siang cari bunga apa?" tanya Ami saat seorang wanita sepantaran Alea masuk ke toko. Pakaiannya
modis dan elegan, Ami bahkan berdecak kagum dengan kecantikan wanita itu.
__ADS_1
"Halo, Manis? Tante mau cari bunga, kira-kira ada yang artinya ngungkapin perasaan ibu ke anaknya, gitu?"
"Umh?" Ami mengemyit bingung. "Tunggu bentar ya, Tante. Ami nanya dulu?" Wanita itu mengangguk sebagai
jawaban. Ami masuk ke dalam nuang kerja Kak Anjani, dia adalah orang yang dipercayai Alea untuk mengelela
toko bunga. "Kak, bunga yang cocok dikasih orang tua untuk anaknya itu bunga apa?"
"Bunga anyelir pink. Minta rangkaikan sama Kak Ocha, ya? Kakak lagi sibuk."
Ami mengangguk, setelahnya Ami keluar dari ruangan Anjani lalu menuju di mana Ocha berada. Tidak
membutuhkan waktu lama, buket bunga anyelir pink selesai, Ami membawa ke depan dan menyerahkannya. "Ini
Tante, bunga anyelir pink yang memiliki arti kasih sayang abadi ibu untuk anaknya."
"Cantik sekali," puji wanita itu. Setelah membayar, wanita itu melontarkan serryuman dan ucapan terima kasih
untuk Ami, barulah pergi
Alan bersama Kak Bimo sedang mengantarkan karangan bunga dari tiga puluh monit yang lalu, Kak Anjani sibuk,
sedangkan Kak Ocha di belakang sedang menata beberapa stok bunga yang baru datang
Baru Ami duduk, bel pintu berbunyi lagi. Itu menandakan seseorang masuk, cepat-cepat Ami berdiri untuk
menyambut pelanggan. Ami menunduk sopan sambil bertanya, "Selamat siang, mau cari bunga apa?"
"Cari bung- hai, Ami?"
__ADS_1
Ami mendongak, matanya sedikit melebar melihat sosok di depannya. "Kak Ace?"