![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
Ada yang nungguin??
Happy readingO
Abi baru memarkirkan vespanya. Saat memasuki gedung sekolah, banyak cewek-cewek langsung ngerumunin
Abi.
"Kak Abi, kenapa mukanya?" tanya salah satu dari mereka.
"Kak Abi juga kenapa nggak sekolah tiga hari ini?" tanya yang lain.
Abi hanya tersenyum tipis. "Ada urusan, Cantik." Lalu Abi membelah kerumunan untuk menuju kelas.
Walau wajahnya lebam, tapi pesona Abi masih bersinar. Abi sibuk tebar senyum ke kiri kanannya di sepanjang
koridor, tangannya satu di masukin ke kantong celana, satunya lagi memegang tali ransel. Cukup mirip sama
badboy-badboy yang ada di novel remaja.
"Woi." Bahu Abi ditepuk dari belakang. Abi langsung menoleh dan nyengir ngeliat Ace. "Tiga hari nggak kelihatan,
sekali nongol lebam-lebam. Ada-ada aja."
"Anak laki ini," ucap Abi lalu terkekeh.
Mereka melalui koridor X IPS. Saat mendekati ruangan X IPS 2, Abi melihat Ami tengah tertawa bersama teman-
temannya. Ah, rasanya lama sekali tidak melihat Mungil.
__ADS_1
Saat pandangan Abi dan Ami bertemu, Ami menyunggingkan senyum sambil melambaikan tangan, membuat Abi
kaget. Tiba-tiba dada Abi berdebar, perasaannya sangat senang. Ternyata, Ami tidak akan menjauhi Abi. "Apa
kab-"
"Kak Ace," sapa Ami. "Selamat pagi."
Abi langsung melipat bibirnya. Ternyata bukan untuk dirinya, ya?
"Pagi juga, Ami," sapa Ace balik. Senyumnya tidak kalah lebar. "Bagaimana tidurnya? Nyenyak?" Bahkah Ace
sudah berhenti di depan kelas Ami hanya untuk mengajak cewek mungil itu bicara. Baru dua hari ini, hubungan
Ace dan Ami mulai berkembang, Mereka saling bertukar pesan via WA.
"Nyenyak, kok."
lewatkan sampai Ami dan Ace sedekat ini?
"Bagus, Ami," kata Nadira sambil mengelus-elus puncak kepala Ami. Tiga hari yang lalu dia menerima telepon
dari Ami. Si bodoh itu menangis-nangis sambil bercerita kalau niatnya akan menjauhi Abi karena terlalu sakit
hati. Nadira mendukung sepenuh hati, malah mengusulkan untuk balas dendam. Ya, dimulai dari menyuruh Ami
dekat dengan Ace.
Hasilnya sangat memuaskan. Lihat saja ekpresi cowok lintah itu tadi, membuat Nadira menyeringai penuh
__ADS_1
kemenangan.
Ami murung. "Ami kangen Kak Abi, Dira. Terus, wajahnya biru-biru gitu buat Ami tambah khawatir."
"Buang semua rasa itu, Ami. Cukup ingat waktu dia bilang kamu mudah diporotin, bodoh, sama mudah
dimanfaatin. Pokoknya usahain buat tumbuhin kebencian sama dia, dengan itu lo akan terbiasa."
Bahu Ami terkulai lemah. Setelah satu tarikan napas panjang, Ami menjawab, "lya, Dira. Ami akan berusaha."
"Nah, sekarang misi lo selanjutnya adalah makan bareng sama Kak Ace. Mending dia ke mana-mana dari pada si
Abi-Abi-"
"Kok Dira manggil Kak Ace, Kakak. Tapi, Kak Abi, cuma Abi aja?"
"Diem, jangan potong ucapan gue dulu!"
Ami langsung mengantup bibirnya.
"Dari pada si Abi-Abi itu," ulang Nadira. "Lagian, dari pengamatan gue, Kak Ace juga suka sama lo, Ami."
"Masa, sih?"
"lya, Amiii. Ah, pokoknya lo harus sama dia, titik!"
Ami menggaruk pelipisnya sambil cemberut. Walau mati-matian Dira maksa Ami sama Kak Ace, tapi hati Ami
tetap sama Kak Abi, gimana? Perasaan Ami sendiri aja nggak bisa Ami kendalikan sesuai kehendak Ami, apalagi
__ADS_1
disuruh orang lain.