Abi untuk Ami [Completed]

Abi untuk Ami [Completed]
chapter 7


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, ponsel Abi berbunyi. Abi meraba-raba kasur sampingnya dengan mata terpejam. Setelah


menemukan benda tipis itu, Abi sedikit menyipitkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya


layar ponsel. Abi tersenyum saat menemukan dua pesan, salah satunya dari Tante Ana.


Pesan pertama.


M-Banking : Trx. Rek, XXXXXXXXXXXXXXX : CN MASUK KE TABUNGAN ANDA sebesar Rp. 2,000,000,00.


Pesan ke dua.


Tante Ana : Terima kasih, Bi. Lain kali, kita jalan-jalan lagi:*


Ah, pagi yang indah sekali untuk Abi. Dia sibuk beguling ke sana ke mari di kasur sempitnya. Setelah puas, Abi


kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidur.


***


Ami sibuk menata nasi goreng ke dalam dua wadah. Satu untuknya, satunya lagi untuk Abi. Sesekali Ami


bersenandung dan tersenyum kecil. Bi Latri yang sedang sibuk menggoreng ayam juga ikut tersenyum melihat


nona kecilnya itu. Selesai menata nasi goreng, Ami mendekat pada Bi Latri. "Mbok, Ami boleh bantu?"


"Ndak usah, Non. Ingat terakhir kali Non Ami bantu Mbok masak? Gosong semua."

__ADS_1


Mengingat kejadian itu, Ami meringis. "lyadeh. Ami bantu nyusun piring aja, ya?"


Tanpa mendapat jawaban, Ami langsung mengambil piring di dalam lemari dan membawanya ke ruang makan.


Saat sedang sibuk menata piring di atas meja, terdengar suara seseorang muntah. Ami langsung berlari dan


mengetuk kamar Mommy dan Daddy-nya.


"Dad, Mom tidak apa-apa?" Ami begitu cemas sekali, walaupun ini bukan pertama kali Ami mendengar Alea


muntah, tapi tetap saja Ami khawatir.


Tidak lama, pintu kamar dibuka. Andrew muncul dengan Alea dalam gendongannya. "Tidak apa-apa, hanya


morning sickness saja."


"Ami, semua ibu hamil pasti seperti ini." Alea menyentuh pipi anak sulungnya. "Lebih baik kita langsung sarapan


saja, ya?"


Menghela napas, Ami mengangguk sebagai jawaban. Mereka sama-sama menuju ruang makan, kebetulan Alan


dengan seragam SMP-nya sudah duduk tenang di kursi, satu tangannya memegang sendok, satunya lagi


memegang ponsel. Alan itu kelas satu SMP, tapi kelakuannya seperti cowok dewasa, bahkan Alan lebih cocok jadi


kakak dari pada Ami.

__ADS_1


"Alaneal Johnson, fokus makan saja!"


Kalau sudah Andrew menyebut nama panjangnya, mau tidak mau Alan melepaskan benda tipis itu. "Okay, Dad."


Ami sudah duduk di samping Alan, Ami mengambil roti dan mengoleskan selai cokelat sedikit banyak. Karena


Ami sama dengan Alea, penyuka makanan manis-manis. Sayangnya, Ami hanya mewarisi selera makan saja, tapi


tidak dengan kepintaran. Alan lah yang mewarisi kepintaran Alea dan Andrew. Adiknya itu begitu serakah, tidak


menyisakan sedikitpun untuk Ami.


"Tumben Kakak makan roti, biasanya makan nasi?" tanya Alan.


"Lagi pengen aja."


"lya sih, mau makan roti atau nasi, Kakak tetap saja bodoh!"


Ami melotot pada Alan. Saat akan memukulkan sendok ke kepala Alan, suara Daddy-nya menegur terdengar


sangat dingin sekali. "Ami, Alan! Apa seperti itu di depan makanan?!" Andrew meminum kopi dengan santai, tapi


tatapan tajamnya tertuju pada kedua kakak-beradik itu.


"Maaf, Mom, Dad?" Ami dan Alan menunduk.


"Lain kali jangan diulang lagi?" Mereka berdua mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l l


__ADS_2