![Abi untuk Ami [Completed]](https://asset.asean.biz.id/abi-untuk-ami--completed-.webp)
"Alan sibuk?" tanya Ami dari balik pintu disertai dengan ketukan di pintu kamar.
Tidak lama, pintu terbuka. Menampilkan Alan dengan earphone di lehernya. "Lagi belajar, ada apa?"
"Eh, Ami ganggu Alan?"
"Ck! Ngomong aja ke intinya."
Ami mengerucutkan bibir lalu menyodorkan buku. "Ini, Ami mau nanya. Soal matematikanya susah, kali aja Alan
bisa bantu."
Mendengus, Alan langsung mengambil buku dan mengamatinya. Hanya membutuhkan waktu empat detik, Alan
kembali mendongak. "Soal ini lo bilang susah, Kak?" Ami mengangguk, Alan hanya menggeleng-gelengkan
kepala tak habis pikir. "Gue penasaran, kenapa orang kayak Kakak bisa lulus ujian?"
"Ya 'kan kalo ujian itu mengandalkan keberuntungan, siapa tau aja waktu itu Ami lagi beruntung."
Alan hanya berdecak saja. "Masuk! Gue jelasin sampe lo ngerti."
Ami mengangguk, lalu mengikuti Alan masuk ke dalam kamar. Semenjak Alan kelas satu SMP, Ami jarang masuk
ke kamarnya. Kalo ada perlu sekalipun harus bertanya dan mengetuk pintu lebih dulu.
__ADS_1
Untuk ukuran cowok remaja, kamar Alan terkesan rapi dan maskulin. Bahkan beberapa tatanan koleksi robot dan
mobil-mobilannya sangat teratur. Seisi kamar ini sangat menggambarkan pribadi Alan yang ketus tapi perhatian,
terlihat bocah tapi aslinya dewasa dan jenius.
Ami memasang telinga lebar-lebar dan memperhatikan Alan dengan serius. Lihat, betapa jeniusnya Alan, bahkan
pelajaran kelas satu SMA saja bisa dia kerjakan. Ami selalu kagum pada adiknya itu. Tidak mengherankan,
kadang Andrew mengajak Alan ke perusahaan untuk mengajarkan sedikit demi sedikit tentang J Group pada
Alan.
"Paham?" tanya Alan setelah tiga puluh menit menjelaskan.
"Oke. Kali ini perhatikan lebih serius lagi," pinta Alan dengan sabar. Ami mengangguk, lalu matanya fokus pada
Alan dan penjelasannya. Beruntung untuk penjelasan kedua ini Ami sudah mengerti, dengan antusias Ami
langsung mengerjakannya di depan Alan walaupun masih ada sedikit bertanya.
Setelah selesai, Ami membereskan alat tulis dan bukunya. "Makasih Alan."
"lya. Lain kali, pintaran dikit napa? Lo itu kakak, masa minta ajarin sama adek?"
__ADS_1
"Ih, Alan 'kan tau kapasitas otak Ami."
"Tau kok, bahkan semua orang rumah pada tau."
"Ish! Alan nyebelin." Ami sewot sendiri. Sebelum diejek lebih banyak lagi, Ami memilih untuk keluar dari kamar
Alan. Tapi, sebelum pergi, secepat kilat Ami mencium pipi Alan lalu berlari. "Makasih Alan!" teriaknya.
Dengan sebal Alan mengusap pipi sambil berteriak, "Gue bukan anak kecil lagi!" Tapi tidak urung, setelahnya
Alan tersenyum. Ah, kakak mungilnya itu menggemaskan sekali, membuat Alan tambah sayang dan ingin
melindunginya dari cowok-cowok brengsek di luaran sana.
***
"Ami, ini ada titipan dari anak kelas tiga."
Ami yang sibuk menyalin catatan kini mendongak, menatap teman sekelasnya yang bernama Yoga dengan
bingung. "Titipan apa, Yoga?"
"Nggak tau. Lo buka aja kreseknya. Kebetulan tadi gue ketemu sama dia di kafeteria depan sekolah."
Masih dengan ekpresi bingung Ami menerimanya lalu mengucapkan terima kasih pada Yoga. Memang di kelas ini
__ADS_1
hanya tersisa Ami saja, teman-temannya sedang menikmati jam istirahat kedua. Pelan, Ami buka kresek hitam itu
dan terkejut menemukan dua es krim cornetto dengan post-it kuning tertempel di salah satu es krim. m