
Semua penduduk yang sudah putus asa melihat Es tajam menghampirinya, seketika mempunyai harapan melihat ada pria yang memakai jubah banteng hitam.
"Ksatria Sihir..."
"Datang Menyelamatkan kita"
"Kami selamat"
Menggunakan sihir Api untuk memblokir sejumlah es yang akan membunuh penduduk, Rei dan Magna tiba tiba muncul dihadapan semua penduduk, memberikan mereka sedikit harapan.
"Itu magna, kan?"
Berjalan ke tengah penduduk, Magna berjalan kearah seorang anak kecil yang sedang menangis.
"Nick, apa yang sebenarnya terjadi?"Tanya Magna kepada Pria Kecil yang sedang menangis
Seketika Magna terdiam dengan tatapan kosong saat melihat Pria Tua tergeletak tidak sadarkan diri, di sisinya ada seorang anak kecil yang menangisi dia.
"Pak tua...."Ucap Magna "Hey sadarlah!!.. Pak Tua!!.." menggoyang goyang tubuh pria tua namun, tidak ada respon sedikit pun.
"Kepala Desa berusaha melindungi kami"
"Hikss~ Kakek, mereka datang, para ksatria ksatria sihir"
°°°°°°°°°
__ADS_1
Sementara itu, fokus Rei kepada seorang Pria berjubah dengan belas luka di wajahnya. Sambil menyaksikan semua kejadian dihadapannya, pria tua beserta kelompok bertudung tidak ada pedulipun melihat ada orang yang mati.
"Sepertinya kalian yang telah melakukan semua ini"Ucap Rei menebak kalau mereka adalah para penjahat yang telah membuat kabut dan menyerang penduduk desa.
Ketua dari kelompok itu yang mempunyai bekas luka menatap jamnya sekilas, lalu menatap ketiga orang yang baru datang.
"Hebat juga kau bisa mengulur waktu untuk mereka. Dalam tiga detik, mereka semua akan dieksekusi"Ucap Ketua Kelompok Wajah Bekas Luka.
Mengangkat tangan kanan, mengucapkan sebuah mantra dari Grimoire dan tiba tiba muncul sebuah sihir Es yang besar mengarah ke tempat Rei dan yang lainnya.
"Gawat, energi sihirku hanya tersisa sedikit"Magna berkeringat dingin melihat Es besar dengan ujung yang tajam mengarah kedirinya.
Melihat Asta menggenggam pedangnya, mengangkat pedang keatas dan berlari menuju Es itu. Rei yang tadinya akan membelah es itu terhenti, membiarkan Asta memotong Es itu dengan pedang anti sihirnya.
"TAKKAN KUMAAFKAN"Ucap Asta dengan marah.
Mengabaikan pertanyaan itu, pria berwajah kasar menatap jamnya dan bergumam "Tidak ada yang mengatakan akan ada ksatria sihir yang datang kesini hari ini... Apakah jaringan mata mata kita gagal? Tidak, itu pasti expedisi tanpa persetujuan dari pihak kerajaan"
"Selain itu, bagaimana cara mereka menembus penghalang kabut kita dan mengetahui keberadaan mereka"Lanjutnya sambil menyelidiki semuanya "Sepertinya mereka tidak menggunaka sihir ruang".
Lalu memperhatikan lambang jubah keempat anak itu "Banteng hitam..... Diantara pasukan ksatria sihir lain, mereka yang terburuk dan melakukan apapun yang diinginkan"
'Tidak seperti dari kerajaan diamond, atau perampok. sebenarnya mereka siapa?'Magna memperhatikan kelompok itu dan berbicara dalam hati.
"5 Menit.... Akan kulenyapkan penduduk desa tak berguna yang tahu apa apa ini dan melanjutkan pencarian kita"Ucap Pria Berwajah Luka itu.
__ADS_1
"Oke, aku sudah bosan"Beralih ke [Nafas Petir], Rei melesat melewati asta dan muncul dihadapan Pria Berwajah bekas luka itu dengan seringai yang terukir dimulutnya.
Saat akan menebas pria itu, tatapan rei teralihkan kepada orang yang bertudung sedang membuka Grimoire sambil mengangkat tangan dan mengucapkan sebuah mantra.
[Sihir Kabut: Pusaran Ilusi]
Seketika ada sebuah kabut berkumpul di satu titik, memukul tubuh Rei sampai terlempar beberapa meter dan menabrak dinding rumah sangat keras.
'BANG'
"REIIII"Asta dan yang lainnya berteriak, penduduk desa juga menjerit dan mereka semua mempunyai expresi khawatir melihat itu.
"Wow, serangan diam diam ya? sangat mengesankan..."Sambil berusaha berdiri dari bebatuan yang menimpanya, sosok Rei muncul lagi dihadapan mereka dengan seringai.
Untungnya fisik Rei sudah di latih dalam satu tahun penuh, luka karena menabrak dinding tidak terlalu berpengaruh dan itu hanya membuat kesenangan bertarungnya semakin meningkat.
"Ternyata kau masih hidup, ya... Menyebalkan sekali"Ucap Pria Berwajah kasar menatap jam ditangannya, lalu menatap Rei dengan tubuh yang di penuhi oleh Bercakan Petir Ungu.
Yah, saat dirinya terlempar oleh serangan kabut tadi, Rei menggunakan [Bentuk Pertama - Armor Petir] agar saat menabrak sesuatu tidak terlalu sakit juga.
"Huh? Apa yang harus aku katakan? Mungkin, serangan tadi terlalu lemah"Ucap Rei dengan nada kecewa sambil membersihkan bajunya dari debu.
"Idiot ini"Gumam Noelle tidak tau harus berkata apa.
Sementara Magna tersenyum melihat itu karena dirinya sudah melihat kekuatan asli dari Rei, dan serangan itu pasti bukan apa apa baginya.
__ADS_1
Melihat keadaan Rei baik baik saja, Asta menghela nafas lega dan mengalihkan perhatiannya kepada Pria Berwajah Luka lagi dengan wajah kesal karena telah membunuh serta melukai temannya.
"Aku tanya, kenapa kau ingin membunuh orang orang di desa ini?"