
Melihat keadaan Rei baik baik saja, Asta menghela nafas lega dan mengalihkan perhatiannya kepada Pria Berwajah Luka lagi, dengan rasa karena telah membunuh serta melukai temannya.
"Aku tanya, kena kau ingin membunuh orang orang di desa ini?"
Ingin tau tentang alasan mereka menyerang orang lemah, Rei sengaja tidak menyerang lagi dan menunggu jawaban dari mereka tentang ini.
Berdiri dari tempat duduknya, Pria berwajah luka itu menatap Asta, dan berkata "Dunia ini terbagi menjadi beberapa Wilayah... Wilayah Bangsawan dimana bangsawan tinggal... Wilayah Biasa di mana Rakyat Biasa tinggal, wilayah yang di tinggalkan.."
"Haaa?"Magna tidak mengerti apa yang dia ucapkan dan lebih memperhatikan lagi.
"Desa Sosshi ini terletak di wilayah yang ditinggalkan, mereka yang tinggal di wilayah yang di tinggalkan sebagian besar hanya bisa menggunakan Sihir tingkat rendah untuk menyelesaikan kegiatan sehari hari mereka"
Seperti binatang yang tidak punya otak saja dan yang aku bunuh adalah binatang tidak berotak yang mungkin bisa menyianyiakan waktu berhargaku.
"Kau sama saja seperti orang bangsawan, seharusnya orang seperti kalianlah tidak ada di dunia ini!!.."Suara seseorang bergema membuat mereka membeku karena merasakan suatu sihir besar juga
Sontak semua orang mengalihkan pandangnya, mencari pemilik suara itu dan menemukan Pria berambut Putih dengan mata yang berputar putar, mata itu terhenti ketika mempunyai pola berwarna merah kehitaman dan ada tiga koma.
"Bersiaplah menuju neraka"
[Nafas Api]
[Sihir Angin: Badai Pisau]
Tidak seperti saat melawan Luck di upacara penyambutan, kekuatan Rei meningkat ke tingkat yang lebih tinggi. Badai Angin tajam, diselimuti oleh Api mengelilingi tubuh Rei, seketika membuat seluruh kabut menghilang.
[Nafas Gabungan: Kilat membara]
Mengangkat pedang, sosok Rei tiba tiba menghilang dari tempat, meninggalkan jejak api bersamaan petir di setiap jalan.
Dalam sekejap, Rei muncul di belakang salah satu Pria Bertudung, menebas dia di dada dengan silang, lalu menendangnya sampai terlempar dan menabrak dinding.
"Satu"
Tentu saja mereka tidak bisa mengikuti kecepatan Rei dan tidak sempat menggunakan sihir untuk memblokir, mereka juga tidak bisa menebak di mana Rei akan muncul.
Tidak sampai disitu, Rei tiba tiba muncul di sebelah asta dan menyadarkan dia dengan berkata "Hey asta, aku akan memberikan Pria Wajah jelek itu padamu... Jangan sampai kalah" lalu menghilang lagi.
Karena mereka tidak bisa mengikuti kecepatan Rei, mereka membuat sebuah perisai dari Element Es untuk bertahan.
Melihat mereka menciptakan sebuah perisai, Rei menjadikan perisai itu sebagai loncatan dan mengapung di udara sambil mengucapkan mantra dan menyerang dengan sambaran petir ungu kearah mereka dari udara.
__ADS_1
[Sihir Petir: Ledakan Halilintar]
[Sihir Petir: Ledakan Halilintar]
"PERISAI"Pria Berwajah Luka menggunakan sihir es yang besar untuk memblokir semua serangan yang di lemparkan oleh Rei.
'BOOM'
'BOOM'
'BOOM'
"HAHAHAHA Matilah kalian, tidak seharusnya orang sepertimu ada di dunia..."Tawa Rei bergema, membuat penduduk desa ketakutan.
Sementara asta yang tadi ingin maju memberikan pelajaran kepada Pria Wajah luka itu terhenti, tidak ingin mengambil resiko karena bisa jadi serangan Rei mengenai dirinya.
"Ohh tidak... Dia kehilangan kesadaran lagi"Ucap Magna tidak tau harus berbuat apa, hanya seseorang yang lebih kuat dari Rei yang bisa menghentikannya.
Menoleh menatap magna sesaat dan Rei berbicara "Berisik preman, kau lebih baik jaga penduduk desa. Mereka, biar aku yang mengurusnya"
"SIAPA YANG KAU SEBUT PREMAN, JUNIOR SIALAN!!..."
Mengabaikan teriakan Magna dan melihat keadaan musuh di penuhi debu, Rei menggunakan suatu sihir yang pernah diciptakannya saat berada di Dunia Ekor peri.
Seketika muncul kepala Naga yang tercipta dari element api, membuka mulutnya, tanpa keraguan sedikitpun, mulutnya mengeluarkan sebuah api yang sedikit besar kearah kelompok Wajah Luka itu.
'BOOM'
'Apakah mereka sudah mati?'
Berjalan dengan pelan menghampiri teman temannya sambil membatalkan seluruh sihir pertahanan yang mengelilingi tubuh, Rei juga menonaktifkan sharingannya.
"KAU HEBAT, REII!!..."Teriak Asta tersadar dari terkejutnya dan kagum dengan sihir yang diciptakan oleh Rei.
"Kukira kau hanya bercanda, ternyata kau benar benar membunuh mereka"Ucap Magna yang masih terkejut dan tidak tau harus berkata apa.
Sedangkan Noelle hanya terdiam, mengingat saat Rei mengatakan mereka seperti bangsawan. Memikirkan itu, ia sebenarnya bersikap angkuh hanya ingin menutupi kekurangannya saja.
"BERANI BERANINYA KAU MENUNDA WAKTUKU!!..."Suara teriakan tiba tiba terdengar diarah area yang di penuhi oleh debu.
Sontak mereka semua mencari arah suara itu, mereka melihat Pria berwajah luka itu mempunyai luka yang numayan serius, seperti luka bakar di wajah dan tubuhnya sama halnya dengan teman teman pria itu.
__ADS_1
"Wow, pakaian terbakar, tubuh dan wajah hitam... Kau tidak ada bedanya dengan binatang panggang"Rei menghina mereka dengan membalikan perkataan dia yang menyebut orang lain seperti binatang.
"Bwahahahahah"Tidak mengharapkan Rei menghina mereka dengan itu, seketika Tawa Magna pecah.
"ARGHHHHH BUNUHHH DIA!!.."Pria Berwajah Luka itu menjerit jerit.
Dengan amarah serta kebencian yang dalam di mata mereka, pria berwajah luka serta teman temannya membuka grimoire dan mengangkat tangan mereka sambil mengucapkan suatu sihir.
[Sihir Kombinasi Es dan Kabut: Serpihan Es tidak terbatas]
'Jika aku saja bisa tapi....' Menatap penduduk desa yang mempunyai wajah ketakutan 'Aku tidak yakin bisa menyelamatkan mereka saat kondisiku begini'.
Menggabungkan dua mantra sihir berbasis kabut dan es, pria berwajah luka beserta teman temannya menciptakan sebuah es yang tajam melayang diatas dengan jumlah tidak terhitung mengeliling semua area Rei dan penduduk desa lainnya.
Karena tadi terlalu banyak mengeluarkan sihir di luar Grimoire, Rei tidak bisa lagi menciptakan sihir penghalang dan hanya ada sihir kecepatan serta serangan saja di Grimoirenya.
"Ohh sial"
Melihat jumlah es tajam menyerang dengan jumlah tidak ada habisnya, Rei tidak bisa terlalu membantu memblokir serangan yang mengarah ke penduduk desa dan hanya bisa memblokir beberapa saja.
Jika saja dirinya hanya sendiri, mungkin sebanyak apapun es itu bisa ia blokir dengan mudah karena fokusnya tidak terbagi.
Tanpa pilihan lain, Rei menggunakan [Mata Sharingan] lagi dan [Nafas Petir] untuk melihat kecepatan serangan mereka serta langkahnya untuk memblokir semua es itu.
"Ada ide?"Rei bertanya kepada Magna Sambil mengangkat Katana dan mengaktifkan kedua kemampuan yang akan di pakainya.
"Tadi sih tidak"Jawab Magna
"Tidak berguna"Ucap Rei datar
"Hah??!!! Maksudku, sekarang aku punya ide"Ucap Magna
"Apa itu?"Dengan penasaran, Rei menatap magna.
Membenarkan kacamata hitamnya, seringai terukir di wajah magna.
"Menghancurkan mereka"
...**°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...[Yah, buat yang nanya, kenapa System ga nongol? Kemungkinan akan Aktif kurang dari Chapter 80, tetapi untuk Eva masih belum sadar dan masa pemulihan. Segini aja, sisanya kalian baca aja, ya]...
__ADS_1
...[Terimakasih]...
...[Like - Komen - Vote/Hadiah - Favorite**]...