Absolutely Void God System

Absolutely Void God System
Mengunjungi Desa Hage


__ADS_3

"Hey Vanessa"Berjalan menghampiri seorang wanita yang tergeletak di kursi akibat kebanyakan minum, Rei memanggil wanita itu dengan wajah datar.


"Hmmm...."Mendengar ada orang yang memanggilnya, Vanesaa menoleh kebelakang dan menemukan pria yang tidak dikenalnya


"Ohh ternyata kamu... Mau minum bersama Oneesan? Kemari, Oneesanmu akan menuangkan minuman hehe"


'Apa di kepala wanita ini hanya ada minuman?'


"Lain kali saja, sekarang aku akan pergi... Tolong beritahu yami, asta dan yang lainnya" Rei berkata sebelum pergi meninggalkan Vanessa tetapi, langkahnya terhenti dan menoleh kebelakang saat wanita itu bertanya.


"Tunggu dulu!!.. Beritahu, kamu akan pergi kemana? berapa lama?"Entah bagaimana kesadarannya pulih dari mabuk berat, Vanessa menghampiri Rei dan memberikan banyak pertanyaan.


"Apakah itu penting?"Menaikan alis, Rei bertanya kepada Vanessa.


"Huh? Tentu saja penting... Bagaimana jika kamu nanti kecelakaan, jika itu terjadi maka kami tidak bisa menemukanmu dan, aku butuh laporan detail untuk diberikan kepada kapten"Vanessa menjelaskan.


"Aku akan pergi ke Desa Hage, tempat tinggal asta... Untuk waktu, jika aku merasa nyaman disana mungkin, tidak akan kesini lagi"Rei mengangkat kedua bahu.


Merasakan dirinya selalu berada di tempat pertarungan dan berisik seperti markas banteng hitam. Rei seperti membutuhkan ketenangan sesaat untuk menjernihkan fikiran dan sambil membantu gereja dengan memberikan gajihnya.


"Bagaimana ka-"Perkataan Vanessa terhenti ketika melihat Rei menghilang dari hadapannya seperti tertiup angin, ia berbalik dan mencari kapten yami untuk memberitahu tentang itu.

__ADS_1


"Ohh tidak, aku tidak tau masalahnya tapi, aku berharap di kembali pada kami lagi"


...°°°°°°°°°...


Setelah membeli banyak pakaian dan barang di ibukota, membawa semua belanjaan dengan kantong besar. Merasa oleh oleh sudah siap, Rei menciptakan Seekor elang dari element angin, menaikinya dan pergi menuju desa hage.


Menikmati udara yang segar diatas sambil menaiki elang, Rei merasakan hatinya tenang, fikirannya jernih. Tidak seperti sebelumnya, fikiran dan penglihatannya hanya ada darah.


'Udara.. Aku sudah lama tidak merasakan sensasi seperti ini'


...°°°°°°°°°...


Tidak memperdulikan pandangan yuno dan teman temannya, melihat ubi yang selalu dimakan saat pertama kali muncul di dunia ini, Rei duduk dan memakan ubi itu.


"Ahhh, reiiiii kau pulang.."Melihat seorang pria yang dikenalnya, bapa pastor mempunyai expresi bahagia dan tidak menyangka pria yang hanya tinggal setahun bersamanya tidak melupakan semua orang yang berada di sini.


"Berisik paktua"


"Selamat datang, Rei"Sambut Sister Lily dengan senyuman yang hangat.


"Terimakasih, sister"

__ADS_1


Beranjak berjalan kearah kamarnya, Rei sedikit risih dengan tatapan dari kedua teman Yuno. Ia menebak kalau mereka berdua adalah bangsawan dan, itu terlihat dari aura angkuh berkacamata itu. Tambah lagi, dia juga mendengar bahwa pasukan Fajar Keemasan lebih banyak bangsawan.


Setibanya di kamar, tersenyum sambil memandangi setiap sudut kamar, lalu mengeluarkan pakaian yang telah di beli di ibukota. Merapihkan satu persatu baju, tiba tiba ada suatu suara di dekat sumur berada di luar gereja.


Merasakan firasat buruk tentang suara tersebut, Rei memutuskan untuk pergi ke sumber suara itu dan melihat yang lainnya sudah berkumpul disana.


"Paktua, ada apa ini?"Melihat expresi seperti panik, Rei memutuskan untuk bertanya kepada bapa pastor.


"Sister Lily di culik oleh seseorang, rei!!..."Bapa Pastor berkata dengan wajah panik dan khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Sister Lily.


"Ohhh begitu..."Dengan wajah datar seperti tidak peduli, Rei berbalik melangkah pergi meninggalkan mereka 'Di kepala tengkorak itu ya, bersiaplah menemukan kematian kalian' Rei merasakan banyak Aura dalam tengkorak itu, salah satunya Aura yang tidak asing yaitu Sister Lily.


"REI, APA KAU SERIUS TIDAK KHAWATIR DENGAN KEADAAN SISTER?"Melihat Rei tidak memperdulikan orang yang penting baginya, Yuno tiba tiba berteriak dengan nada tinggi dan kesal.


Menoleh kebelakang, lalu berkata dengan wajah dan nada dingin "DIAMLAH" seketika sosok Rei menghilang seperti angin setelah mengatakan hal itu.


Membeku, keringat bercucuran di wajah mereka ketika mendengar nada dingin. Mata yang berwarna merah darah berputar putar saat tatapan mereka bertemu dengan mata yang 'Tomoe 3'.


"Diaa...."


"Ma-matanya..."

__ADS_1


__ADS_2