
Saat dalam perjalanan menuju tempat sister lily berada, tiba tiba jalan Rei dihadang oleh beberapa orang. Melihat ada sekelompok yang menghadangnya, tanpa keraguan Rei melesat setelah menarik katana dari Grimoire dan menggunakan [Nafas Petir]
Ketika sampai dihadapan mereka, Rei beralih [Nafas Api] agar serangannya kuat, Memberikan sayatan yang dalam kepada salah satu dari mereka, lalu menendangnya dengan kekuatan penuh, sampai terlempar puluhan meter dan menabrak dinding.
'SRET'
'BANG'
"ARGHHHHH"
Tidak berhenti sampai disitu, menghilang dari tempat lagi dan melakukan hal yang sama seperti tadi kepada mereka, saat ingin membunuh mereka semua, tiba tiba di hentikan oleh suatu sihir angin.
"SADARLAH, REI..."Teriak Yuno
Menoleh kebelakang, menatap kedua orang yang asing, dan tatapannya terpaku kepada Pria berambut hitam itu "Apa kau sehat?... Dari tadi aku sangat sadar bahkan, aku sadar akan membunuh mereka" dengan wajah datar.
Mendengar itu, mereka mempunyai expresi berbeda dan tersenyum pahit karena menyangka kalau Pria tampan itu kehilangan kesadaran setelah mendengar Sister Lily diculik.
"Menghela nafas~ baguslah kalau kau sadar, lebih baik disini biar aku yang urus.. Kau pergi, selamatkan sister lily"Yuno lega dan malu karena salah sangka.
"Huh? Menyuruhku, kau ingin mati, ya?"
"Apa kau masih bisa bercandaan dalam keadaan seperti ini?"
"Memang siapa yang bercanda?"
"Kau... Apa kau tidak khawatir dengan keadaan Sister Lily?"
"Sepertinya kepalamu harus ku ledakan, ya.. Aku kesini karena khawatir dan, kau berfikir aku tidak khawatir, dasar bodoh" Rei berkata sambil menatap Yuno dengan tatapan bodoh.
"Sieghhh~ terserahlah.. Lihat saja, Aku akan membunuhmu, jika salah satu dari mereka kabur"Lanjut Rei dan langsung beralih ke nafas petir untuk mempercepat gerakannya menuju tempat Sister Lily.
"Dia sama sekali tidak berubah"Yuno tersenyum dan tidak terlalu mengambil hati perkataan Rei, itu sudah biasa baginya setelah 1 tahun penuh tinggal bersama dia.
"Du-dua element sihir?"Melihat Pria itu menggunakan element lain, teman Rei yang menggunakan kacamata membulatkan mata dan berkata dengan expresi terkejut.
__ADS_1
"Dia hebat"Wanita berambut oranye berkomentar.
...°°°°°°° Time Skip: Menyelamatkan Sister Lily Selesai °°°°°°°...
"Anggota baru William Fuegeliom dan Yami, ternyata mereka sangat kuat. Terutama, anggota yami yang baru, dia tidak segan membunuh...
Yah, untung saja Biarawati itu bisa menghentikan Pria Berambut putih itu... Jika tidak, kemungkinan salim akan terbunuh"
Seseorang berambut pendek berwarna pirang, di sisi kening ada tanda seperti bintang, dia memperhatikan dan mengawasi mereka.
Awalnya ingin membantu penculikan itu tapi, ketika melihat Pria Berambut putih dengan mudahnya menyelesaikan mereka semua sendiri, dia memutuskan untuk melihatnya.
Orang yang sedang mengawasi itu adalah sang Raja Penyihir, Julius NovaChrono.
...°°°°°°°...
"Syukurlah kalian baik baik saja"Bapa pastor menghela nafas lega ketika melihat Dua Pria yang dianggap anak angkatnya kembali dengan Sister Lily.
"Kak Rei dan Kak Yuno hebat!.."Nash sangat kagum dengan kedua Pria yang sudah dianggap kakak angkatnya.
"Tidak perlu berterimakasih pada mereka, jika tidak membawa orang bermasalah itu kesini maka, kejadian seperti ini tidak akan terjadi"Rei berkata dengan kesal.
"Rei, jangan seperti itu, tidak baik"Ucap Sister Lily kepada Rei.
"Benar apa yang dikatakannya, saya sangat minta maaf tentang perbuatan salim. Jika saja saya tau akan kejadian seperti ini, maka saya tidak akan membawa dia kemari"Klaus meminta maaf dengan tulus dan diikuti oleh mimosa.
"Ahh, tidak perlu di fikirkan.. Yang penting, saya sudah selamat"Sister Lily tidak enak melihat mereka meminta maaf.
"Yah kalau sister tidak selamat, maka aku akan menyiksa dia dan membunuhnya secara perlahan agar dia menyesali perbuatannya di neraka"
"Huss, kamu rei tidak boleh berkata seperti itu, apalagi membunuh orang, itu tidak baik"
"Diotakmu hanya ada bunuh dan bunuh, ya.."Yuno tiba tiba angkat bicara.
"Ohh.. Kau ingin kubu-"
__ADS_1
"Silahkan dinikmati makanannya"Potong Sister Lily sambil menatap Rei dengan wajah kesal dan menghentikan perdebatan mereka berdua.
Melihat tatapan dari Sister, tentu saja Rei membuang muka untuk menghindarinya dan mengambil ubi, lalu memakanannya tanpa memperdulikan tatapan itu.
Klaus mencicip satu buah ubi, kemudian meminum air "Rasanya lumayan"
"Klaus-san memang tidak bisa jujur, ya"Mimosa tertawa kecil melihat tingkah Klaus.
"Enak"Gumam Yuno dan diangguki oleh Rei menyetujui apa yang dikatakan serta dirasakan oleh Yuno.
Setelah menyelesaikan makanan, mengambil sesuatu dari kantong, Rei menatap bapa pastor dan sister lily bergiliran, lalu memberikan kantong yang berisi uang kepada mereka.
"Untuk apa ini, Rei?"Bapa Pastor bingung.
"Tentu saja untuk keperluan disini, paktua.."
"Ini... bukankah jumlahnya terlalu banyak? Dapat dari mana uang sebanyak ini?"Bapa pastor bertanya kepada Rei dan sedikit menebak bahwa ini adalah uang gajih sebagai ksatria sihir.
"Jumlah itu, setengah dari gajih bulan pertamaku sebagai ksatria sihir.. Setengahnya lagi, ada di dalam kamar, aku membeli beberapa keperluan untuk kalian dan anak anak"Rei menjelaskan.
Mendengar semua itu, Bapa pastor dan Sister lily mempunyai expresi, mereka tidak menyangka gajih pertamanya akan diberikan semua.
"Anak bodoh, ambil uang ini untuk keperluanmu.. Kau tidak perlu memikirkan kami, kau masih muda dan pasti hanyak keperluan"Bapa Pastor menolak uang itu.
"Benar apa yang dikatakan oleh bapak, lebih baik kamu pakai untuk keperluanmu"Lanjut Sister Lily.
"Huh? Aku tidak butuh uang. Sudahlah ambil saja, jangan khawatir markas selalu menyediakan makanan"Sambil berdiri dari kursi dan melemparkan kantong itu dihadapan bapa pastor "Aku akan kembali ke markas, sampai jumpa" melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.
"Anak bodoh itu..."Bapa Pastor bersedih dengan kebahagiaan dalam hati.
"Masih belum ada perubahan dalam satu tahun ini, dia selalu tidak memperdulikan soal uang"Sister Lily tersenyum dan memandang tubuh Rei.
"Ya, yang dia pedulikan hanya pertarungan dan membunuh"Yuno tersenyum dan menggelengkan kepala mengingat tingkah lucunya.
'Dia tampan dan keren'
__ADS_1