
"Menemanimu saja aku sudah bahagia,apa lagi bersamamu setiap waktu", Arya berkata dalam hati, sejak lama ia memendam rasa pada sosok gadis disampingnya yang sibuk mencari suatu di dalam buku tanya jawab, Arya tidak pernah mengutarakan tentang perasaannya, entah apapun menjadi penyebab baginya, mungkin dirinya telah kehilangan kepercayaan diri atas dirinya.
Arya sedang mengamati suasana perpustakaan yang tiada heningnya, dengan sesekali mencuri-curi pandang ke arah Vika, sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
"Udah yuk pulang" ajak Vika.
"Loh kok cepet banget, bentar lagi ya nunggu mataharinya tenggelam, soalnya panasnya silau dimata," tawar Arya.
"Aduuhh Arya nungguin matahari tenggelam disini itu bisa makan banyak waktu sampai 2 abad." jawab Vika.
Arya masih berfikir mencerna perkataan Vika yang asal sahut, sesekali memutar-mutar bola matanya juga memutar otaknya (masih otaknya ya guys bukan kepalanya!wkwkwk) bagaimana caranya agar bisa berlama-lama dengan Vika.
Arya memutuskan mengiyakan ajakan Vika untuk pulang, tetapi iya memiliki rencana, rencana menyita waktu untuk berdua(berdua aja lu mah gak usah ikutan hiksss). Merekapun berjalan ke arah parkiran mengambil motor Arya lalu mengendarainya mulailah membelah perjalanan yang tiada tepinya (wkwkwk emang laut apa yg ada tepinya).
Breemm...breemm....breeemmm arya terus mengendarai motornya mengabaikan arah jalan kerumah Vika.
"Arya harusnya kan belok kanan, kamu kok terus katanya mau antar aku pulang, rumah aku disana Arya." celoteh Vika.
"Iya...iyaaa Vika ini kan lagi di jalan mau antar kamu pulang." jawab Arya yang menjadi hilang koneksi dadakan, jelas saja Vika menjadi kesal.
"Vika aku lapar ni, kita mampir dulu ya di cafe depan, disitu makanannya enak kamu pasti suka." tawar Arya pada Vika.
"Arya inikan uda mau hujan, kalau makan dulu pasti nanti kehujanan, mending kamu antar saya pulang, entar saya masakin deh." jawab Vika
"Vika ini perut dalamnya cacing yang uda pro dalam urusan mendemo, jadi gak bisa ditunda lama-lama vik." alasan Arya yang gak sama sekali merasa lapar, karna sudah sampai tujuan tanpa izin dari Vika, Arya memberhentikan motornya di parkiran Cafe Gradian.
"Vika ayok masuk, malah bengong." Arya menatap dalam wajah Vika sangat terlihat disana ada kesal dan marah bukan bengong, Vika tetap diam meski diajak bicara dan diajak masuk ke Cafe tersebut.
"Vik ayo lah masuk, tidak mungkinkan kalau saya masuk sendirian." tanya Arya.
"Huuffttt...saya gendong mau" akhirnya Arya letih kebanyakan bicara tapi tidak dijawab satupun oleh Vika, sampai iya menggendongnya secara paksa.
"Arya apaan, turunin malu diliatin orang." Vika membuka suara sekaligus membulatkan matanya kearah Arya, dengan ekspresi bercampur kesal,senang dan malu, sungguh menggemaskan.
__ADS_1
"Arya pliiiiss turunin, kamu kerasukan apa sih." tanya Vika lagi.
Dengan balas dendam Arya tidak menjawab pertanyaan vika satu katapun, melainkan iya hanya senyum-senyum tanpa melihat kearah Vika, iya sangat geli mendengar celoteh Vika.
Keramaian orang-orang turut menyaksikan keserasian mereka berdua, sesekali anak kecil melempar kata "cie...cie..ciee.." namun Arya tidak memperdulikannya sama sekali, iya terus berjalan menuju meja kosong dengan wajah yang sok cool.
"Vika mau makan apa." tanya Arya.
"Apa saja,yang penting makanan." jawab Vika.
Arya pun memanggil pelayan dan memesan makanan yang paling lezat menurutnya, sambil menunggu pesanan yang datang mereka saling menatap mengingat kejadian tadi, hingga menjadi sebuah hayalan yang berlebihan.
Pesanan Aryapun datang tanpa iya sadari, iya sudah terlanjur menghayal sampai hilang kendali, lupa cara untuk kembali ke dunia nyata.
"Arya buruan ya makannya, uda mau hujan ini." tegur Vika.
"Arya,aryaa,aryaaaa...buruan dimakan sebelum dingin makanannya." tegur Vika lagi.
"Kamu tadi panggil apa?" tanya Vika.
"Tidak, tidak panggil apa-apa, emang kamu dengernya apa?" tanya Arya balik.
"kok tanya balik sih, kan kamu yang ngomong, ih kamu lagi ngelamun ya atau ngehayal, ngehayalin apa sih hayo ngaku?" tanya Vika dengan penuh penasaran.
"Masa sih, perasaan kamu aja itu." elak Arya, Vika memutar malas bola matanya mendengar elakan Arya, padahal Vika sangat ingin mendengar kejujuran Arya selama ini.
Mereka saling diam menikmati makanannya masing-masing dan tiba-tiba ddeerrr....jeedeerr...suara gemuruh dilangit yang sangat keras mengagetkan mereka, hingga tanpa disadari mereka saling berpelukan.
"Haannghh...ma..ma..maaf." dengan terkejut lalu buru-buru Vika menghindar dari sisi Arya, iya menjadi gugup seadanya ketika dilihat Arya.
"Ya Tuhan jika caramu ini selalu mendekatkan ku dengan Vika, buat lah seperti ini dengan waktu yang panjang." ucap Arya dalam hati.
"Eemm...uda yuk pulang,"ajak Vika.
__ADS_1
"Hah pulang, ini mau hujan Vika, kita tunggu hujan turun dulu ya." jawab Arya.
"Ya ampun Aryaaa.... tadi nungguin matahari tenggelam sekarang nungguin hujan turun terus kapan sampai rumahnya, ini juga uda jam berapa Arya, mama juga pasti bakalan ngomel gak jelas kalau saya pulang telat." jelas Vika panjang lebar lalu berjalan sesuka hatinya tanpa menghiraukan Arya yang masih duduk santai.
"1...2...3...4...5...teng." Arya menghitung seakan-akan hujan turun dalam hitungannya yang ke 5 dan berharap Vika akan kembali padanya lagi.
"Arya tega banget sih, yang bener aja dia biarin saya pulang sendirian." Vika berkata-kata sendiri, sambil melangkahkan kakinya dengan kasar, sebelum kaki melangkah kepintu keluar hujanpun turun dengan lebatnya beserta membawa angin yang kencang, tentu saja hal itu membuatnya kehilangan tekadnya untuk pulang sendiri, akhirnya iya kembali pada Arya.
Melihat kedatangan Vika dengan wajah kusutnya membuat Arya senang sampai cengengesan, sebab iya merasa menang dengan keadaan.
"Kok balik lagi neng, gak jadi pulang?" ledek Arya.
"Ini kamu yang do'a-in kan." tebak Vika dengan kesal.
"Yaudah lah sabar dulu entar juga berhenti." kata arya meredakan kekesalan Vika.
Menunggu hujan reda membuat Vika sangat lelah dan mengantuk. Namun, iya tetap bertahan demi menunggu hujan berhenti.
Sampai beberapa jam kemudian hujanpun reda meski tampak sedikit gerimis.
"Arya hujannya uda berhenti buruan pulang yuk, saya sudah rindu sama pulau kapuk." ajak Vika pada Arya.
"Oke mari kita pulang." Arya yang merasa kasihan mengiyakan ajakan Vika meski iya tidak ingin.
Arya mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membuat Vika tidak sabar, hingga iya meminta Arya untuk lebih cepat lagi, dengan tiba-tiba Arya langsung mengegas motornya tidak memperdulikan sekitarnya, hal ini membuat Vika sangat ketakutan hingga memeluk Arya sekuat tenaganya.
"Aryaaaa cukup arya cukuuuppp berhenti." tegur vika.
Aryapun tidak mendengarkan kata Vika, hingga ada sebuah mobil yang menyebrang tanpa menghidupkan lampu tangan, hal ini membuat Arya mengerem secara dadakan sshhiiiiiiittttt...
"Aaaaa...." Vika berteriak sambil memejamkan mata seraya membayangkan apa yang terjadi setelah ini.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1