Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 30


__ADS_3

Sampai Rs. Harapan, Arya mencari keberadaan Vika. Menghubungi Vika, kini ponselnya sudah tidak aktif.


"Vike kamu dimana?"


Arya melangkahkan kakinya dengan cepat, matanya terus mencari wajah Vika.


"Arya." panggil Vika.


"Vikeee... kamu tidak kenapa-napa kan? kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya khawatir, sambil memutarkan badan Vika, meng-chek kalau tidak ada luka sedikit pun.


"Arya, saya baik-baik saja."


"Lalu, kenapa kamu disini Vike?. Dengar, orang sakit saja malas ke rumah sakit, kamu yang sehat ngapain disini." ucap Arya bingung.


"Dengar Arya, ada orang sehat yang di haruskan pergi ke rumah sakit tiap hari, tidak peduli dengan keadaannya sendiri."


"Katakan siapa dia?"


"Saya, di masa depan." ucap Vika, sambil membayangkan dirinya menjadi seorang dokter.


"Dokter? kalau begitu, termasuk saya juga."


"Iya, oh ya benarkah?"


"kenapa tidak."


"Ya sudah, ayo kita pulang, kamu sudah di tunggu." ucap Arya lagi.


"Sebentar." ucap Vika menunda.


"Apa lagi?"


"Kamu tidak ingin menjenguk temanmu."


"Temanku, siapa?"


"Olla dan Syela. Mereka tadi kecelakaan."


"Ooo, ini sudah malam, kita pulang saja."


"Arya, sebentar saja."


"Lain kali saja, ini sudah malam." ucap Arya. Menarik tangan Vika.


"Arya, saya pamit dulu sama orang tuanya Olla dan Syela."


"Baik, saya tunggu di luar ya, lima menit."


Dengan segera Vika memutar badan, menemui Papanya Syela serta Mamanya Olla, meminta izin untuk pulang.


"Om, Tante, Vika pamit dulu ya, sudah malam." ucap Vika, menyalami keduanya.


"Hati-hati ya nak, makasih sudah mengantar Olla." ucap mamanya Olla.


"Sama-sama tante."


"Kamu pulang sama siapa nak?" tanya papanya Syela.


"Sama temen Om, ya sudah, Vika pamit dulu ya." ucap Vika lagi.


"Iya, hati-hati nak."


Vika mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ia harus segera menemukan Arya yang menunggunya.


Vika celingak-celinguk tidak menemukan sosok Arya, hanya motornya yang ia lihat.


"Arya, kamu dimana?" ucap Vika memanggilnya.

__ADS_1


"Sstt...ssttt...ssttt." usil Arya.


"Aryaaa... jangan bercanda." ucap Vika merasa takut.


Vika terus melangkahkan kakinya tanpa melihat jalan, Vika juga tidak tahu kalau ia akan menapakkan kakinya pada anak tangga.


"Ha..a..aaa." pekik Vika, kakinya kehilangan keseimbangan.


Vika hampir terjatuh, untungnya Arya siap siaga, ia berlari kencang dari persembunyiannya, lalu menangkup tubuh Vika yang hampir menyentuh lantai.


Tatapan mereka bertemu, sorot mata keduanya saling memancarkan arti cinta. Vika dan Arya merasakan jantung mereka telah berdetak seirama.


"Vika, sampai kapanpun saya tetap mencintai kamu, meski hubungan kita sendiri tidak pernah menjamin itu." batin Arya.


"Arya, dalam cinta tidak ada syarat apapun, untuk itu saya mencintaimu, meski kamu tidak pernah mengatakan cinta." batin Vika.


"Eehhmm...ehhmm." Pak Satpam berdehem, seolah-olah sedang menegur dua sijoli yang sedang bercinta.


Mendengar suara itu, Arya dan Vika terkejut, dan memperoleh kesadarannya masing-masing.


"Ini gara-gara kamu Arya." ucap Vika menyalahkan Arya.


"Salah saya dimana? Vikee..." tanya Arya.


"Pakek nanyak lagi, kamu tadi kemana? waktu saya panggilin."


"Iya ini salah saya." ucap Arya mengalah.


"Nah, gitu dong, lakik harus ngaku salah." ucap Vika yang merasa menang.


"Sudah, ayok kita pulang."


"Oke!"


"Tunggu sebentar."


Arya diam, tidak menjawab pertanyaan Vika. Arya sibuk melepaskan jaket yang ia kenakan, lalu, memakaikannya pada Vika.


"Arya, nanti kamu bisa masuk angin." ucap Vika, rasanya ingin menolak, tapi Arya memaksanya.


"Tidak masalah, saya sudah biasa. Buruan naik."


"Arya, kamu saja yang pakai." ucap Vika, sekaligus naik kendaraan Arya.


"Vika, angin malam tidak bagus bagi orang yang belum mandi."


"Heeyy... Pernyataan itu salah, pada kenyataannya, angin selalu menyerang, tanpa peduli orang itu sudah mandi atau belum, artinya kamu juga bisa jadi korbannya." ucap Vika menjelaskan.


"Dan kesimpulannya orang yang belum mandi baunya tidak enak." ucap Arya tidak nyambung.


"Hahaha... apaan sih Arya. Saya masih wangi begini di bilang bau tidak enak." ucap Vika, sambil mencubit ginjalnya.


"Sakit Vikee... saya lagi fokus nyetir ni." ucap Arya, menggoyangkan sedikit setang motornya.


"Kamunya cari gara-gara mulu sih." ucap Vika, memonyongkan mulutnya.


"Kamu yang mulai."


"Sejak kapan Vikeee... "


"Baru saja. Oh ya, bagaimana perjalanan touringmu? coba ceritakan." ucap Vika meminta.


"Melelahkan, tidak ada yang enak, semua terasa buruk." ucap Arya blak-blakkan.


"Kenapa bisa begitu?"


"Ya bisa, karena tidak ada kamu." ucap Arya refleks.

__ADS_1


"Ada saya ataupun tidak apa bedanya?" tanya Vika heran.


"Emmm... ya gimana, kamu kan zat penyeimbang suasana, jadi penariknya ada di kamu, yang ngendaliin ya kamu Vike." ucap Arya semakin mengarang dan tidak jelas.


"Hahaha... Arya kamu terlalu banyak bicara, lebih baik kamu tutup mulut rapat-rapat, supaya tidak terlalu banyak angin yang masuk. Kamu sudah kena efek masuk angin ni."


"Selama ada penawarnya, jangan pernah takut untuk masuk angin." ucap Arya mantap.


"Ah, dasar tidak jelas."


"Hahhahaha... " Arya tertawa.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Vika. Terpampang jelas kekhawatiran di wajah orang tuanya Vika, terutama mamanya, sedangkan Papanya Vika memarahinya karena khawatir.


"Vika kamu dari mana saja nak?" tanya mamanya lembut.


"Vika, sejak kapan kamu pergi tanpa pamit, sampai malam begini lagi, tidak sekalian sampai besok." ucap Papanya Vika marah bercampur cemas.


"Maaf Ma, Pa, Vika mau mandi dulu ya." ucap Vika lesu.


Mamanya mengantar Vika ke dalam, sekaligus membuatkan kopi untuk suaminya juga untuk Arya.


Seperti biasa, Arya mengobrol dengan Papanya Vika. Banyak hal yang di ceritakan oleh Arya, bahkan tentang pribadi dan keluarganya yang sudah tidak lengkap.


Selesai mandi, Vika menata dirinya sebaik mungkin. Mengawasi dirinya di depan kaca, membuatnya senyum-senyum sendiri.


"Vikaa..." panggil mamanya, membuyarkan kefokusannya.


"Iya Ma." sahut Vika.


"Jangan lama-lama, makan malamnya bisa dingin."


"Iya Ma." dengan segera Vika keluar dari kamarnya.


"Mama sudah makan?"


"Gimana mama mau makan, anak mama saja entah kemana."


"Maaf, Ma. Mama juga tidak harus nunggu Vika, Mama bisa sakit tauk."


"Ya sudah, kamu panggil Papa sana sama Arya."


"Ya ma."


"Papa, Aryaaa, makanan sudah siap." yeriak Vika dari dapur.


"Vika, yang sopan."


"Kan, Mama yang suruh panggil."


"Ya, ampun Vika, manggilnya di hampiri dong sayang."


"Hehehehe... iya ma, lupa."


Mamanya Vika menggelengkan kepalanya, tingkah putrinya semakin hari semakin tidak benar.


"Papa, Arya, makanan sudah siap." ucap Vika pelan.


"Oh iya, ayo Arya." ajak Papanya Vika.


"Arya kenyang Om." ucap Arya menolak, sebab tidak enak.


"Ah tidak bagus menolak Arya." ucap Om Arta, lalu menarik paksa tangan Arya.


Dengan terpaksa juga Arya menerimannya. Vika yang tidak biasa makan berempat menjadi canggung, cara makannya menjadi acuh tak acuh.


\=BERSAMBUNG\=

__ADS_1


__ADS_2