Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 3


__ADS_3

"Eh,Vika kita ke kantin dulu yuk sebentar." ajak Maya.


"Apa! ke kantin, Bu Mega bentar lagi masuk May, bisa-bisa kita disuruh belajar di luar kelas kamu mau?" ucap vika, yang lagi bade mood setelah bertemu Olla dan Syela.


"Aduh bentar aja Vika, saya ada keperluan, lagian kamu takut sama Bu Mega yang paling baik hati itu." ucap Maya.


Maya langsung menarik tangan Vika, menuju kantin tanpa persetujuannya, memang sahabatnya itu sangat konyol dan suka bertindak sesukanya.


Sampai lah mereka di kantin Mbok Mimin, yang di dalamnya ada Arya beserta teman sekelasnya termasuk Ola dan Syela.


"May beli keperluannya nanti saja ya, kita balik dulu ke kelas." tawar Vika bisik-bisik.


"Nanggung Vik, kita uda sampai, sayang kalau di lewatin." ucap Maya.


Vika pun mengalah ia diam dan mengikuti langkah Maya.


"Vikaaa... " sapa teman Arya sekaligus tetangganya Vika.


"Saya." jawab Vika sambil menoleh ke arah pemilik suara yang bernama Ridho Al Bara.


"Vika makin hari makin cantik ya." goda temennya Arya yang asal sambar.


Vika tidak menghiraukan perkataan itu, Vika merasa semakin tidak nyaman dengan situasi, apa lagi di goda semacam itu.


"Maya buruan dong, Bu Mega bentar lagi sampai kelas." ucap Vika yang sudah khawatir.


"Sok polos banget sih." ledek syela pada Vika.


"Ya jelas polos dong Syel, anak Mama Papa gitu loh." tambah Olla.


"Eh Ola, emang kamu anak siapa? kalau bukan anak Mama Papa juga, oooo anaknya Om Jin kali ya." sambung Arya, semua temannya tertawa mendengarnya, hal ini membuat Olla dan Syela menjadi kesal.


"Kita duluan ya." ucap Maya pada semua yang dikantin termasuk Arya dan teman-temannya. Dengan cepat Maya menarik tangan vika, Maya tahu kalau vika sudah gelisah sejak keberadaannya disana.


"Vika kamu kok diam saja sih, di ledekin sama dua burung gagak itu." tanya Maya yang asal sebut.


"Hah, burung gagak! siapa burung gagak May?" tanya vika penasaran.


"Ya Syela sama Olla siapa lagi, suara mereka itu sama kayak burung gagak. Sama-sama serem."


"Maya gak boleh gitu ih, mereka punya nama loh, lagian gak boleh di sama-sama in" jelas Vika geleng-geleng.


"vik...vik...vik, itu Bu Mega kan,? aduh vikaaa jangan sampai Bu Mega masuk kelas duluan dari pada kita." ucap Maya geregetan.


"1...2...3 Lariiiii." ucap Vika dan Maya kompak. Dengan buru-buru mereka masuk kelas, namun, tetap saja usaha mereka sia-sia. Bu Mega mengetahui bahwa mereka dari luar.


"Selamat siang anak-anak." ucap Bu Mega.

__ADS_1


"Siang Bu Mega." ucap se isi kelas serentak.


"Tadi siapa yang keluar sebelum ibu masuk, ayo ngaku, maju kedepan, sebelum saya jemput di bangkunya." ucap Bu Mega dingin.


Vika dan Maya langsung merinding mendengar perkataannya itu, entah hukuman apa yang bakal mereka terima nanti.


"Ya ampun Maya, gimana ini?" bisik Vika.


"Iya vik, kita harus ngaku, mari kita maju ke depan, kalau tidak Bu Mega menghukum teman kita juga yang tidak bersalah kan kasian." ucap Maya menjelaskan.


Bu Mega sangat tidak suka kalau siswanya tidak patuh terhadap peraturan, itu sebabnya, kalau tidak ada yang mau mengaku, maka akibatnya satu kelas pun di hukum olehnya.


"Maaf Bu kami tadi..." ucap Maya belum selesai sudah di potong oleh Bu Mega.


"Ibu rasa kalian memang ingin di beri hukuman ya." ucap Bu Mega manis, semanis empedu.


"Tidak Bu, kami minta maaf." ucap Vika bersama Maya.


"Maaf, setiap kesalahan tidak dapat selesai begitu saja dengan maaf, MAYA, VIKA. Kalian bersihkan halaman sekolah, selama jam pelajaran Ibu terganti." ucap Bu Mega dengan nada tinggi.


"Ba...ba..baik Bu." ucap mereka berdua dan bersegera pergi untuk membersihkan halaman.


"Yeeesss...." ucap Maya dengan gembira.


"May kita lagi dihukum, kok malah bahagia gitu sih." tanya Vika heran atas tingkah sahabatnya itu.


"Ya ampun segitunya ya kamu, tapi kita bisa kelelahan membersihkan halaman selebar ini may." ucap Vika malas.


"Sssssttttt...Vika jangan khawatir oke!" ucap Maya santai, sepertinya ia memiliki rencana.


"Maksudnya apa jangan khawatir Maya." tanya Vika heran.


"Kita gak usah bersihin halamannya, kita main aja disini, entar kalau Bu Mega lihat baru kita bersihin vik, jadi kita gak capek." ucap Maya.


Vika yang mendengar ucapan Maya hanya tersenyum-senyum geli, ide sahabatnya itu memang sangat konyol.


Mereka berdua bermain umpat anak lidi, yang seolah-olah sedang mengutip sampah jika dilihat dari kejauhan, jiwa kekanak-kanakan mereka kini kembali, mereka tertawa dengan bahagia tanpa beban.


"Ya ampun Vik Bu Mega Vik, cepet..cepet..kutip sampah, aduh ngapain sih pakai nongol segala, bikin gak asik" celoteh Maya.


"Hahaha... Maya harusnya kita merasa berdosa, uda bohongin Bu Mega, kamu malah begitu." ucap Vika yang tertawa sekaligus menepuk jidatnya, mendengar celotehannya Maya, membuatnya tidak bisa menahan tawa.


"Eh May, kelas MIPA 2 kok bisa bebas gitu ya?" tanya Vika.


"Bu Sinta gak masuk hari ini, dan gak ada yang gantiin Vik." ucap Maya menjelaskan.


"Oohh begitu, pantas saja mereka bisa bebas." ucap Vika sambil mengutip daun yang berguguran.

__ADS_1


Vika dan Maya membersihkan halaman dengan sekedarnya, itupun karna di awasi oleh Bu Mega.


Tteeetttthhh...tteeetthhh...ttetthhhh bel berbunyi dengan nyaring menandakan jam istirahat telah tiba.


"Hhaahh akhirnya yang ku rindukan berbunyi juga." ucap Vika senang, mereka sangat lelah meski kebanyakan bermain dari pada membersihkan halaman.


Vika menghabiskan waktu istirahat bersama Maya hanya duduk di dalam kelas.


"Vika ini ada titipan dari Arya." ucap teman sekelasnya Vika.


"Dari Arya, makasih ya Rena" ucap vika, menitipkan makanan adalah hal kebiasaan bagi Arya, dan sebuah keharusan untuk Vika menerimanya.


"Sama-sama." balas Rena dengan senyuman.


"Waaahh.. Arya tahu banget kalau saya lagi lapar." ucap Maya ke PD an.


"Ini buat saya Maya, bukan buat kamu, tapi tidak masalah kita bisa makan berdua." ucap Vika dengan senang hati.


Mereka pun memakan bingkisan dari Arya dengan suap-suapan, menikmati dalam berbagi memang suatu yang menyenangkan bagi Vika.


"Vika nanti kamu pulang dijemput?" tanya Maya.


"Iya May, kenapa? mau ikut!" tawar Vika.


"Tidak ada, hanya bertanya saja." ucap Maya.


Selesai makan merekapun mengikuti pelajaran berikutnya dengan lancar dan bersemangat, kali ini tidak ada yang menghalangi kefokusan mereka.


Teettthh....tteetthhh...teettthhh, bel jam pulang sudah berbunyi, se isi kelas sibuk membereskan bukunya masing-masing.


"Mmm... may kamu duluan saja kalau mau pulang, soalnya papa sedikit terlambat." ucap Vika.


"Kalau gitu bareng saja yuk, saya antar sampai depan kamar." tawar Maya sambil menjengat-njengatkan alisnya.


"Makasih Maya yang baik, tapi papa saya sudah di jalan menuju kesini, hehehe lain kali saja ya." tolak Vika


"Mmm... ya sudah deh, da.. da...Vika sayang mmmuuaahh..." Maya pun pergi meninggalkan Vika sendiri dikelas.


"Mayaa..hati-hati di jalan ya." Balas Vika mengingatkan.


dddrrttt...ddrrrtr...ddrrttr, ponsel Vika bergetar pertanda panggilan masuk dari papanya.


"Hallo Vika, papa uda sampai sekolah." ucap papanya.


"Iya papa, ini Vika lagi jalan keluar kelas, sampai bertemu pa." ucap Vika yang berlari-lari kecil.


Bbrruuukkk...tiba-tiba Vika terjatuh seperti ada yang menjegalnya.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2